duabelas

49 12 1
                                        

Jakarta, Mei 2015

"Papah..." Suara Alana membuat Aryan dan Rahayu terkejut lalu saling menjauhkan diri.

Jantung keduanya berdegup kencang tidak karuan membuat mereka menjadi salah tingkah. Aryan pura-pura merapihkan bajunya, sedangkan Rahayu merapihkan rambutnya. 

Alana segera berlari memeluk Rahayu, ia senang karena tante cantiknya itu menepati ucapannya semalam.

"Benerkan yang aku bilang, tante cantik mau sarapan sama aku pagi ini." Ucap Alana dengan wajah sumringah.

Rahayu tersenyum seraya mengelus kepala Alana.

"Kalau Alana sarapan sama tante, papah sarapan sama siapa ?" tanya Aryan kepada anaknya.

"Ya sama aku papah, ayok..." Alana mengajak kedua orang dewasa yang ada didepannya untuk sarapan bersama.

Rahayu diam tak bergeming, ia menatap Aryan dengan memelas. Aryan mengerti maksud dari tatapan Rahayu.

"Tapi papah belum lapar, Alana sarapan sama tante dan sus aja ya. Papah tunggu di kamar."

"Oke pah.." Tanpa ragu Alana mengangguk setuju, ia menarik tangan Rahayu lalu membuka pintu kamar diikuti Ida dari belakang.

Rahayu tidak mengucapkan apa-apa lagi kepada Aryan, dia hanya patuh mengikuti langkah kecil kaki Alana yang begitu bersemangat. Sedangkan Aryan, lelaki itu berdiri di pintu kamar menatap punggung Rahayu yang semakin menjauh.

Kok enggak ada omongan sama sekali ? tanya Aryan di dalam hatinya.

--

Aryan berbaring tidak tenang, ia terus mengubah posisi tubuhnya setiap beberapa menit. Matanya berulang kali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Sudah 1 jam sejak Rahayu dan Alana keluar dari kamar untuk sarapan, kenapa sampai sekarang belum kembali juga ?

Apa yang sedang mereka lakukan ?

Apakah Rahayu akan mengantar Alana kembali ke kamarnya ? Atau Rahayu akan pergi begitu saja setelah menemai Alana sarapan ?

Aryan menggapai ponselnya yang ia letakkan di atas nakas yang ada di samping tempat tidur. ia segera membuka kontak lalu mencari nama Rahayu.

Kalian jangan heran, tentu saja Aryan menyimpan nomor ponsel Rahayu walaupun selama ini mereka tidak pernah berkontak satu sama lain. Tapi Aryan menyimpan nomor ponsel perempuan tersebut.

Aryan terus menimbang, apakah wajar kalau ia sekarang menelpon Rahayu menanyakan kapan selesai sarapan ?

Tentu saja tidak wajar balas Aryan menjawab pertanyaannya sendiri.

"Prriiiittt.." 

Itu memang suara peluit, tapi bukan sembarang peluit yang dibunyikan oleh wasit pertandingan. Melainkan suara notifikasi pesan yang masuk ke ponsel Aryan.

Ada pesan masuk dari Ida. Ternyata sebuah foto.

Foto yang memperlihatkan wajah ceria Alana sedang berada diatas perosotan, sedangkan Rahayu berdiri di samping perosotan.

Ida is typing...

Tidak lama kemudian kembali masuk 1 buah pesan.

Pak, Alana mau main perosotan dulu.

Aryan tidak menggubris pesan tersebut, ia malah fokus memperbesar foto membuat wajah Rahayu yang sedang tersenyum memenuhi layar ponselnya.

Tiba-tiba saja layar ponsel Aryan berubah menampilkan nama Gerry. Aryan menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.

KETIKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang