Bandung , Agustus 2015
Rahayu menarik rem tangan sebelum memindahkan persneling dari N ke D. Setelah memarkirkan mobilnya di area parkir sekolah Alana, Rahayu kembali menurunkan sun visor yang ada didepannya lalu membuka penutup cermin. Ia menatap cermin begitu lama memastikan kalau kacamata yang ia kenakan benar-benar telah menutup wajahnya.
Kayaknya kurang deh. Keraguan yang timbul dihatinya membuat Rahayu mengeluarkan topi dari dashboard lalu mengenakannya. Lagi Rahayu menatap cermin, ia mengangguk mantap. Lebih baik batin Rahayu.
3 hari yang lalu Alana menghubunginya lewat video call memintanya untuk datang ke sekolah demi melihat pertunjukan seni yang selalu diadakan setiap semester oleh sekolah.
Alana akan bernyanyi katanya, bukan menyanyi secara grup ya tapi menyanyi solo.
Sesaat Rahayu menganggumi anak berusia 4 tahun tersebut, begitu percaya diri untuk tampil di depan umum bernyanyi seorang diri disaat teman-temannya yang lain melakukan pertunjukan grup. Tetapi sesaat kemudian Rahayu tahu kalau dia telah salah berucap, dirinya mengatakan IYA kepada Alana. Iya dia akan datang untuk melihat Alana bernyanyi.
Ini bukan pertama kalinya Rahayu menyesali perkataan yang keluar dari mulutnya. Lagi dan lagi mulutnya selalu berkata iya setiap kali Alana meminta sesuatu kepadanya.
Area parkir mobil dipenuhi oleh mobil bermerk yang entah kapan Rahayu bisa membelinya. Disebelah kanan mobilnya saja yang terparkir adalah Range Rover sedangkan disebelah kiri mobilnya ada BMW. Rahayu merasa Honda Jazz RS miliknya sungguh menyedihkan.
Aura sekolah internasional memang sungguh berbeda batin Rahayu.
Kalau sudah menikah dan punya anak nanti apakah ia mampu menyekolahkan anaknya di sekolah seperti ini ?
--
Alana turun dari mobil lalu melangkah dengan riang melompati satu persatu batu pijakan yang ada di sepanjang taman yang menghubungkan garasi dengan bangunan rumah, senyum terus terukir di wajah anak itu. Siapa saja yang melihatnya akan tahu kalau anak itu sedang bahagia.
Dibelakangnya Rahayu mengikuti dengan langkah lambat, mengingat kalau rumah mewah yang ia kunjungi sekarang adalah rumah milik Aryan membuat suasana hatinya berubah kelabu.
"Mobil bapak enggak ada kok mba." Ucap Ida yang menyadari perubahan air muka Rahayu.
Rahayu hanya tersenyum kecil, di garasi tadi hanya ada mobil Pajero berwarna putih, katanya Ida itu mobil yang disediakan oleh Aryan untuk antar jemput Alana sekolah dan mengantar nenek berpergian.
Sesampainya di kamar Alana, Rahayu langsung duduk di kursi kayu berwarna pink yang ada di area khusus bermain yang ada di dalam kamar Alana.
"Alana, ganti baju dulu yuk." Rahayu berdiri dari kursi lalu menghampiri Alana yang sedang membuka sebuah kotak besar berwarna dusty pink.
Alana menurut, ia meletakkan tutup kotak tersebut ke lantai lalu mengikuti Rahayu masuk ke dalam walk in closet untuk berganti pakaian.
Ini bukan pertama kalinya Rahayu masuk ke kamar Alana, tapi tetap saja dia masih mengagumi penataan kamar anak itu. Anak perempuan mana yang tidak senang dengan kamar Alana, dia saja yang sudah besar begitu menyukainya. Simple tapi tetap terlihat unsur anak-anaknya didominasi warna pink yang tidak norak.
"Yang ini aja ya ?" Rahayu mengeluarkan satu set pakaian berwarna salem dengan motif bunga daisy di bagian dadanya yang tergantung di hanger, menunjukkan kepada Alana.
Alana mengangguk.
Ditemani Ida, Alana masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan lalu berganti pakaian.
KAMU SEDANG MEMBACA
KETIKA
RomanceKetika ; waktu tertentu yang bertalian dengan nasib kemudian, mengharapkan sesuatu yang baik. "Ketika bersamamu selalu saja timbul masalah, membuat duniaku bolak-balik jantung berdegup kencang tak beraturan." - Rahayu Putri Kusuma "Ketika bersamamu...
