sepuluh

65 9 2
                                        

Semarang, April 2015

Rahayu menarik nafas begitu dalam lalu menghembuskannya perlahan, berulang kali ia lakukan agar dirinya menjadi lebih tenang agar air matanya bisa berhenti mengalir.

"Ay..." Suara Aryan yang berat terdengar lembut memanggil Rahayu.

Rahayu berbalik hingga dirinya dan Aryan saling berhadapan, saling melihat satu sama lain.

Wajah Aryan dipenuhi rasa bersalah dan khawatir, sedangkan wajah Rahayu sembab dengan mata dan ujung hidung yang merah. Siapa saja yang melihat Rahayu sekarang pasti tahu kalau perempuan itu habis menangis.

"Masih mual?" Tanya Aryan.

Rahayu menggeleng, sebenarnya rasa mual itu belum hilang 100% tapi sudah lebih baik ketimbang beberapa saat yang lalu.

"Maaf, bukannya aku nggak mau klarifikasi. Tapi penjelasan apapun yang aku kasih nggak akan bisa menghentikan mereka nulis berita yang mereka mau." Aryan berhenti berbicara, ia memandangi Rahayu mencoba membaca wajah Rahayu.

"Dan kamu harus tau, aku nggak pernah manfaatin kamu untuk nutupin keadaan keluarga aku. Kepikiran aja nggak Ay." Tambah Aryan.

Rahayu tidak menjawab, ia mendorong pelan Aryan agar bergeser dari posisinya yang menghalangi pintu kamar mandi.

"Kamu mau kemana?" Tanya Aryan seraya mengikuti Rahayu.

"Ke bandara."

"Aku anter ya, sekalian aku juga mau ke Jogja." Aryan mencoba membujuk Rahayu, ia sengaja berdiri di pintu kamar menghalangi Rahayu yang hendak keluar.

"Aryan..." Suara Rahayu terdengar seperti orang putus asa.

"Kalo kamu nggak bisa klarifikasi, nggak bisa ngilangin semua berita yang beredar ya seenggaknya kamu jaga jarak dari aku. Sejauh-jauhnya, jangan sampe ada orang yang lihat kita." Tambah Rahayu memohon dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

"Kamu...." Ucapan Aryan menggantung, ia ragu apakah sekarang waktu yang tepat untuk membahas masalah ini.

Tapi kalau tidak sekarang untuk apa dia ke Semarang?

"Tolong..." Pinta Rahayu yang mencoba untuk membuka pintu kamar tapi Aryan tak bergeming.

"Kamu nggak suka sama aku?" Tanya Aryan pada akhirnya. Sekarang atau tidak sama sekali pikir Aryan.

"Nggak." Jawab Rahayu pendek.

"Kenapa?" Aryan tidak percaya mendengarnya. Mana mungkin ada perempuan yang tidak menyukainya.

"Karena kamu Aryan."

"Aku serius Ay."

"Aku juga serius." Rahayu tidak berkedip menatap langsung mata Aryan.

"Beneran?"

"Aku bisa ketinggalan pesawat kalo kamu kayak gini."

"Aku beliin tiket penerbangan berikutnya. Serius, kamu nggak suka sama aku?" Aryan kembali bertanya.

Rahayu menghela nafasnya. "Iya aku nggak suka."

"Aku bukan tipe kamu?"

"Bukan."

"Tapi kan kamu nggak tau aku ini kayak apa, masa kamu bisa bilang aku bukan tipe kamu." Aryan yakin hampir semua perempuan pasti akan menyebutkan dirinya kalau ditanya tipe lelaki yang disukai seperti apa. 

Rahayu kembali menghela nafasnya, ia tidak menyangka akan membahas hal seperti ini dengan Aryan.

Aryan.... tampan... kaya....sudah berkeluarga selain itu Rahayu tidak tahu apa-apa lagi tentang lelaki di depannya ini.

KETIKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang