empatbelas

76 13 2
                                        

Bandung, Agustus 2015

Honda Jazz RS berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang sebelum akhirnya berbelok masuk ke sebuah hotel. Dari balik kemudi Rahayu memarkirkan mobilnya dengan lincah, setelah mematikan mesin Rahayu segera keluar dari mobilnya sambil menjinjing 1 tas pakaian berukuran sedang. Belum jauh ia melangkah dari mobilnya, tiba-tiba terdengar suara yang memanggilnya.

"Rahayu.."

Rahayu berhenti melangkah, ia lalu menengok ke arah sumber suara. Rahayu tertegun beberapa detik tatkala dirinya mengenali wajah perempuan yang memanggilnya.

Intan.

Kenapa perempuan itu bisa ada disini ?

Rahayu menoleh ke kanan dan ke kiri melihat keadaan basement hotel yang sangat sepi. Jelas saja sepi, waktu menunjukkan hampir jam 12 malam.

Intan mengulurkan tangan kanannya, "Intan.."

Dengan sopan Rahayu menyambut tangan Intan, lalu menyebutkan namanya.

"Maaf, saya sengaja ngikutin kamu sejak kamu keluar dari rumah Aryan." Intan memberikan penjelasan tanpa Rahayu pinta.

Rahayu terkejut mendengarnya, berarti Intan menunggu di luar cukup lama karena Rahayu keluar dari rumah Aryan sudah jam 11 lewat sedangkan Intan keluar dari rumah Aryan mungkin sore hari.

"Bisa kita ngobrol sebentar ?"

Rahayu menggaruk ujung alis kirinya yang tidak gatal. Mengobrol ? Tengah malam seperti ini ?

Rahayu bisa merasakan hawa drama panjang yang cukup panas akan segera terjadi, ia yakin yang menjadi topik obrolan Intan tidak lain adalah Aryan dan Alana. Apa yang Intan inginkan darinya ? Hal apa juga yang bisa ia berikan untuk Intan ? Entahlah, Rahayu malas memikirkan segala kemungkinan tubuhnya sudah lelah keluar dari rumah di pagi hari menyetir dari Jakarta ke Bandung lalu menemani Alana seharian. Yang ia butuhkan sekarang adalah istirahat, tidur.

"Maaf, tapi boleh besok pagi aja ?" Rahayu jelas ogah menyetujui permintaan perempuan cantik yang ada didepannya ini.

Dari raut wajah Intan terlihat sekali kalau dia enggan menunda keinginannya, tapi memikirkan kalau Rahayu mungkin satu-satunya orang yang bisa membantunya akhirnya Intan mengalah.

Intan mengangguk, "Besok pagi saya ke sini lagi. Kita ketemu di restoran, sekitar jam 8 ?"

"Iya boleh jam 8..." Rahayu mengangguk sembari tersenyum lalu kembali melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lobi hotel.

Sepanjang menunggu petugas resepsionis menyiapkan kunci kamar, Rahayu menimang ponselnya, apakah perlu memberitahukan Aryan kalau Intan datang menemuinya ?

Nama kontak Aryan tertampilkan di layar ponsel, tinggal menunggu jempol Rahayu menekan gambar telepon untuk melakukan panggilan.

Karena hal ini berkaitan dengan bapak anak itu, Rahayu memutuskan untuk menghubungi Aryan. Bersamaan dengan nada sambung yang terdengar dari ponselnya, jantung Rahayu berdetak lebih cepat.

Deg deg deg deg deg....

Ahh.. kenapa dia harus begitu gugup ?

--

Aryan yang sudah tertidur merasa mendengar sesuatu, telinganya menangkap suara getaran pendek dan panjang yang berulang-ulang.

Ddrrtt ddrrtt ddrrrrrrtttttttt...ddrrtt ddrrtt ddrrrrrrtttttttt...

Ponsel yang ia diletakkan diatas meja terus bergetar tanda ada panggilan masuk.

Aryan membuka matanya namun ia tidak langsung mengambil ponselnya, ia hanya diam menatap kosong langit-langit kamar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 16, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

KETIKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang