sebelas

42 10 2
                                        


Jakarta, Mei 2015

Langit Ibu Kota pagi ini gelap, awan hitam menggantung menutup matahari sejak ia terbit saat fajar tadi. Angin berhembus cukup kencang, membuat ranting-ranting menari dan helaian dedaunan terpaksa gugur lebih cepat.

Puluhan pasang kaki yang melangkah menambah ritme menjadi nyaris setengah berlari, jangan sampai hujan mendahului sehingga tiba di kantor nanti dalam keadaan basah pikir pemilik kaki-kaki tersebut. 

Hari masih begitu panjang, namun tidak sedikit kepala yang mulai memikirkan kegiatan akhir pekan seperti apa yang akan mereka lewatkan.

Mendatangi cafe terkenal yang terus berseliweran di media sosial ?

Hiking ke curug yang airnya berwarna biru kehijauan membuatmu ingin lompat ke dalamnya ?

Ke bioskop untuk menonton film terbarunya Marvel ?

Atau hanya rebahan sambil memeluk guling di dalam kamar ?

Rahayu menatap jendela ruangan tempat ia bekerja, hujan turun ditemani angin tanpa ragu menampar kaca jendela. Terlalu deras sampai membuat jarak pandang terbatas, biasanya Rahayu bisa melihat penampakan salah satu taman terbesar di ibu kota dari jendelanya itu tapi sekarang tidak terlihat apa-apa.

Rahayu menghela nafas, ia memejamkan mata lalu melipat kedua tangannya di dada mencoba mendapatkan perasaan nyaman untuk dirinya sendiri. Perlahan Rahayu mulai tenggelam larut dalam cuaca yang syahdu diiringi suara hujan yang membuat tubuhnya semakin rileks.

Satu detik...

Dua detik...

Lima detik...

Sepuluh detik...

Aryan tersenyum kepada Rahayu.

Rahayu terlonjak kaget dari kursinya, rasanya seperti habis terjatuh dari ketinggian. Pasti kalian pernah merasakannya bukan ? Terjatuh saat sedang tidur.

"Kenapa lo?" Tanya Olvy yang mejanya berada di depan meja Rahayu. 

"Gapapa..." Jawab Rahayu sambil membetulkan posisi duduknya. Matanya melirik ke arah jam dinding, ternyata baru pukul 8 lewat 15 menit. Belum ada 10 menit dia memejamkan mata.

"Habis begadang?"

Rahayu tersenyum kecut.

"Ehh, katanya anak government nanti malam di ballroom utama ada Mahaka tau. Liat yuk." Ucap Olvy meskipun matanya fokus pada layar laptop.

Saat mendengar kata Mahaka Rahayu merasa mual dan ulu hatinya sakit, entah sejak kapan Mahaka membuat asam lambungnya menjerit menjadi sumber stress untuk dirinya.

Olvy menghentikan pergerakan jemarinya yang sedang menari diatas keyboard laptop, ia mengangkat kepalanya penasaran dengan wajah Rahayu saat ini. Sangat datar.

Sebenarnya dia penasaran dengan kehidupan pribadi rekan kerjanya itu, sudah hampir 1 tahun berita tentang Rahayu dan Gitaris Mahaka timbul tenggelam, tiba-tiba heboh lalu perlahan tenang, hitungan minggu kembali heboh lalu kembali tenang. Mereka berdua ini beneran ada hubungan atau tidak sih ?

Tetapi sampai detik ini Olvy enggan bertanya.

"Oke kalo nggak mau, gue aja..." Olvy kembali menundukkan kepalanya lalu melanjutkan pekerjaannya membuat laporan bulanan.

--

"Tok.. tok..." Suara pintu diketuk disusul kemunculan Rendra dari balik pintu, "Bareng nggak ?"

Rahayu mengangguk lalu segera menutup layar laptopnya dan menyimpan laptop tersebut ke dalam laci meja lalu menguncinya.

KETIKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang