Ada tiga hal yang terlintas dalam kepala Alyssa Magan saat memikirkan kata 'pernikahan'. Pertama, Ibunya yang melarikan diri dan tidak pernah kembali. Dua, Lare Jeth Ammar -buruh illegal- kekasihnya yang melarat. Tiga, Helbehr Jiese yang berkata mam...
Alyssa Magan segera menarik kedua tangannya yang memegang piring putih dengan permukaan rata setelah Kaia Magan meletakkan potongan besar daging sapi di atasnya. Perempuan itu mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar pria itu berhenti menyiram dagingnya dengan saus yang berbahan baku tomat dan mentimun.
Dolce tonara. Dalam dialek asli Matar, dolce tonara berarti olahan daging sapi yang dipanggang. Namun, menurut pengertian bahasa Mussurin, dolce diartikan sebagai sapi buruan. Sementara itu, tonara adalah makanan khas orang-orang perbatasan yang terbuat dari tomat, mentimun, dan bawang putih cincang yang ditumis dengan sedikit minyak wijen tanpa menghilangkan kesegarannya.
Gesse Magan menarik kursi kayu yang berada di ujung meja seakan menyiratkan bahwa ialah sang kepala keluarga. Rambut setengah basah pria paruh abad itu disisir rapi ke belakang, membuat kesan mengkilat ketika tertimpa cahaya. Penampilan rapi Alyssa dan Kaia adalah cerminan dari sosok sang ayah yang selalu sempurna dalam berbusana.
Tidak pernah sekalipun Gesse mengajari anak-anaknya secara langsung tentang bagaimana mereka seharusnya berpakaian mengingat betapa sibuknya hari-hari pria itu mengurus perniagaannya. Namun, darah memang tidak bisa berbohong--kecuali Reube Magan yang baru datang setelah Gesse duduk. Entah bagaimana ia selalu tampil dengan rambut berantakan seperti anak nakal yang berkeliaran di jalanan.
Selain penampilannya yang tidak menurun dari ayah mereka, selera makan Reube juga yang paling berbeda. Ketika Alyssa, Kaia, dan Gesse mengambil dolce tonara, lelaki itu lebih memilih menghancurkan roti kering di dalam mangkuk lalu mengaduknya bersama irisan tipis daging sapi dan mayones. Mirip seperti makanan yang dijual murah untuk mengisi perut remaja-remaja liar.
Alyssa hanya berkomentar dalam hati dan tidak pernah repot-repot untuk meluapkan pikirannya.
"Bagaimana pekerjaanmu, Kaia?"
Alyssa mengangkat wajah dari dolce tonaranya dan menatap Gesse lalu beralih pada Kaia. Tangannya masih sibuk memotong daging di piringnya.
"Sulit untuk menilai diri sendiri, Ayah," Kaia menjawab dengan bahasa formal, seperti selalu. "Tapi sejauh ini dokter berkata bahwa saya bekerja dengan baik."