Ada tiga hal yang terlintas dalam kepala Alyssa Magan saat memikirkan kata 'pernikahan'. Pertama, Ibunya yang melarikan diri dan tidak pernah kembali. Dua, Lare Jeth Ammar -buruh illegal- kekasihnya yang melarat. Tiga, Helbehr Jiese yang berkata mam...
Kalaupun ada hal yang membuat Alyssa Magan menghela napas berkali-kali, pastilah orang-orang yang berjejalan di stasiun kereta api. Perempuan itu bersusah payah mengikuti irama kaki sang ayah yang berjalan cepat di depannya dengan menenteng tas kulit berukuran besar. Dari arah belakang, Kaia Magan menyusul dengan satu lagi tas kulit yang tampak usang dan perlu diganti.
"Mereka benar-benar tahu cara menjalankan bisnis. Tambahan biaya untuk kelebihan muatan? Yang benar saja!" Kaia merogoh saku di balik jas hitamnya setelah mereka berhenti. Dua lembar tiket kereta masing-masing diberikan pada Gesse kemudian Alyssa.
"Memangnya apa yang kau bawa?"
Alyssa mengerutkan alis. Ia menarik lembar tiket tersebut dengan asal. "Perempuan memang begini. Jadilah perempuan kalau kau iri padaku," kelakarnya.
Mendengar candaan Alyssa, sebelah alis Kaia terangkat. Pria itu tersenyum aneh. "Pintar sekali. Siapa yang iri padamu, nona Magan?"
Perempuan itu baru saja mengetahui fakta baru tentang saudara laki-lakinya yang ternyata selalu ikut memastikan keberangkatan sang ayah setiap kali pria itu memulai perjalanan bisnisnya, termasuk membawakan tas dan mengurus segala macam hal yang berkaitan dengan izin penumpang. Apa pun itu yang jelas merupakan hal yang baru bagi Alyssa.
Alyssa mengedarkan pandangan ke sekeliling, membiarkan Gesse dan Kaia berbincang mengenai sesuatu yang tidak ia pahami. Ia mengamati tiang-tiang yang menjulang tinggi hingga lajur baja yang berpasang-pasangan di atas permukaan tanah. Satu kereta di sisi seberang berhenti. Tak berselang lama penumpang kereta berhamburan keluar dengan wajah tanpa ekspresi.
Bohong jika Alyssa tidak merasa luar biasa dengan tubuh kereta yang tinggi, memanjang dengan maskulin di atas lintasannya. Ini menjadi kali pertamanya melihat kereta api dan akan menjadi kali pertamanya menaikinya juga. Tentu saja ia merasakan sedikit kegembiraan yang menurutnya perlu untuk ditutupi. Sebagai perempuan dari keluarga terhormat ia harus selalu tampak biasa akan segala hal.
"Apa nanti kami akan menaiki kereta itu?" tanya Alyssa.
Kaia mengikuti arah pandang Alyssa dan akhirnya menggeleng. "Kalau kau mau pergi ke Lijete silakan saja, tapi kereta menuju stasiun utama Polton bukan itu."
Alyssa mengangguk.
"Aneh sekali bukan? Mereka membangun fasilitas umum secara menggila di sekitar ibukota, tapi justru tidak ada akses ke wilayah selatan Mussun," ucap Kaia.