Bagian 4

1.9K 99 0
                                        

Sore itu cukup gelap, seperti akan turun hujan.

Mobil Paul sudah dipanaskan sejak lima belas menit lalu. Aksa duduk di kursi tengah, diapit oleh Rony dan Salma. Di belakang ada Syarla, Novia, dan Danil yang sesekali masih menghibur Aksa dengan mainan kecil.

"Ini udah pasti panti yang biasa, kan?" tanya Novia.

"Iya, tenang aja. Tempatnya bersih, orangnya juga baik-baik. Gue udah cek semua," jawab Paul.

Salma diam saja di samping Aksa. Ia memegang tangan kecil bocah itu tanpa berkata apa-apa. Aksa tidak banyak bersuara-seperti tahu bahwa perpisahan kecil sedang mendekat.

Sesampainya di depan bangunan bercat kuning itu, mereka semua turun. Rony membuka pintu belakang, membantu Aksa keluar. Tapi bocah itu menolak melepas tangan Salma.

"Sal ... lo ikut anter ya?" suaranya pelan, membuat jantung semua orang terasa diremas.

Salma jongkok, menatap wajah Aksa yang mulai memerah. Ia tersenyum sambil mengusap pipinya.

"Kita bakal sering ke sini, ya? Aksa kan keren, disini banyak temen baru."

Aksa hanya mengangguk kecil, masih enggan melepas genggaman.

Seorang perempuan paruh baya keluar dari pintu depan panti, menyambut mereka hangat.

"Aksa ya? Sudah kami siapkan kamar kecil yang nyaman. Terima kasih sudah membawanya."

Paul berterima kasih kepada semua ibu dan anak panti karna sudah mau menyambut Aksa dengan hangat.

Aksa sendiri masih berdiri dibelakang Salma, bersembunyi seperti tak mau berpisah.

Rony menggendongnya, memanggil beberapa anak seumuran Aksa untuk mengajaknya bermain.

Sebelum Aksa bergabung, mereka semua memeluk Aksa satu persatu. Diawali dari Salma hingga Paul yang memeluk Aksa terakhir.

Saat semua hendak masuk ke mobil untuk kembali, tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan pagar.

Seorang pria keluar-berjas, berpenampilan rapi tapi wajahnya menyisakan sorot letih yang berat.

Di sampingnya, seorang perempuan muda ikut turun. Tangannya menggenggam tas kecil dan file dokumen.

Paul yang baru saja hendak menutup pintu mobil langsung membeku. Matanya mengerjap cepat, seperti tak percaya.

"Pa...pa?" gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Perempuan di samping pria itu menunduk sopan ke arah pengurus panti, kemudian berkata, "Kami ingin bertemu Aksa. Kami keluarganya."

Hening.

Satu per satu teman-teman Paul menoleh ke arahnya. Tak ada yang bicara.

Salma masih berdiri di dekat pagar, tangannya menggenggam jaket kecil milik Aksa yang tertinggal.

Angin sore berhembus pelan. Dan untuk sesaat... waktu seolah berhenti.

***

Ruang TemuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang