Pagi masih muda. Jam baru menunjukkan pukul 06.00 ketika Salma dan Novia sudah berada di area jogging track kampus.
Udara masih dingin, tapi cukup menyegarkan untuk menepis sisa kantuk semalam.
"Gila, Sal... gue gak nyangka lu bakal bangun sepagi ini." Novia menarik napas panjang, masih menyesuaikan diri dengan udara pagi.
"Gue juga gak nyangka gue punya temen kayak lo yang lebih heboh dari alarm." Salma melirik malas, tapi senyum tetap merekah.
Mereka memulai jogging kecil, sesekali menyapa orang-orang yang juga sedang olahraga pagi.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki lain menyusul mereka dari belakang.
"Eh, pagi-pagi udah ngumpul? Gak ngajak-ngajak."
Suara Rony terdengar, sambil joging santai menyamai langkah mereka.
"Halah, baru juga muncul. Jangan-jangan cuma numpang gaya doang nih." goda Novia.
"Gue mah selalu gaya, tapi juga konsisten." Rony nyengir, lalu menyodorkan botol minum ke Salma. "Buat yang semalem katanya begadang."
Salma menerimanya sambil mencibir tipis. "Ih... sok perhatian banget sih."
"Terserah yang nerima mau anggapnya apa. Yang penting gue ngasih."
"Gue kaga dikasih lagi, padahal yang ngasih life update dia itu gue" batin Novia.
Mereka bertiga terus jogging sambil bercanda, menikmati pagi sebelum hari mulai sibuk. Jogging itu bukan cuma soal lari, tapi juga momen buat recharge-baik tenaga, maupun hati.
______
Mereka duduk melingkar di bangku panjang depan warung bubur langganan. Satu-satu mangkuk bubur datang, lengkap dengan sate ati dan emping.
"Ini sih, bubur terenak sedunia," ujar Novia sambil meniup sendoknya. "Enaknya lagi, kita belum masuk kelas. Bisa makan dengan damai."
"Gue belum tentu damai," timpal Salma sambil melirik Rony yang duduk di sebelahnya, agak terlalu dekat. "Orang ini dari tadi ngambilin emping gue mulu."
"Gue jagain biar lu nggak kolesterol," jawab Rony datar, tapi mata nggak lepas dari Salma.
Tiba-tiba suara riang muncul dari belakang mereka.
"Eh, rame juga nih!" Diman datang dengan napas masih terengah-sepertinya abis jogging juga. "Gue pesen bubur bareng ya."
"Ikut sini, Man," ajak Edo, nyempil biar ngasih tempat duduk. Tapi mata Diman langsung melirik Salma.
"Sal, tadi lo lari muter mana aja? Kok nggak keliatan sih," tanya Diman sambil nyengir. "Jangan-jangan sengaja ngilang biar nggak dikejar fans."
Salma ketawa, "Gue lari bareng Nov. Tapi iya sih, takut dikejar cowok absurd."
"Wow, tersinggung banget gue," ucap Diman, pura-pura drama. Tapi matanya tetap ngelirik ke Salma sambil senyum.
Rony diam. Tangannya mengaduk bubur pelan, tapi sorot matanya jelas nggak nyaman. Apalagi pas liat Salma senyum balik.
Edo yang duduk di seberangnya, melihat sekilas, kemudian berbisik ke Rony, "Bro, ngapain lo aduk bubur sampe kayak mau baca masa depan? Itu bubur, bukan bola kristal."
"Gue cuma mikir, kenapa ya... ada orang yang nggak sadar kalo tempat dia bukan di sini," jawab Rony sambil narik satu emping dari mangkuk Salma lagi.
"Heh!" protes Salma.
"Ups, salah ambil. Tapi udah kena liur, jadi harus gue yang makan," ujar Rony, kali ini sambil nyengir-tapi senyumnya nggak seceria biasanya.
Diman cuma nyengir tipis, tapi dia sempet ngelirik ke arah Rony, ngerasa aneh itu.
"Bubur aja bisa jadi rebutan," komentar Novia. "Gimana nggak bikin sakit perut coba, ketawa mulu dari tadi."
