Bagian 7

1.4K 72 0
                                        

Suasana apartemen hari itu terasa ganjil. Lengang. Nggak ada suara mainan dilempar, nggak ada tawa cempreng Aksa, bahkan tumpukan mobil-mobilan di pojok ruangan masih rapi sejak kemarin.

Edo masuk sambil membawa dua bungkus donat, lalu menghentikan langkahnya. "Kok... kayak apartemen kosong ya? Gue kira salah masuk."

"Kayak abis dibersihin dari energi anak kecil," sahut Danil.

"Ini kayak masuk ke rumah orang dewasa, bro. Nggak cocok."

"Biasanya ada suara, 'Om Rony lucu' atau 'Om Paul ganteng'-lah ini sekarang sepi, sedih banget," tambah Edo sambil duduk.

Salma duduk di karpet, memandangi sepotong mainan kecil yang tersisa di bawah sofa. Ia mengangkatnya dan memutar pelan, senyumnya mengambang.

"Baru sehari, tapi rasanya kosong ya?" gumamnya pelan.

Rony yang sedang menuang teh ikut duduk di sebelah Salma, menyenderkan tubuh ke sofa. "Gue tadi pagi kebiasaan nyiapin susu kecil. Baru sadar pas mau tuang, eh... nggak ada Aksa."

Salma menoleh padanya, mata mereka bertemu beberapa detik. Rony lalu tersenyum kecil, "Lucu ya, secepat itu anak kecil bisa nge-capuk ruang segede ini."

"Hati juga ya," tambah Salma pelan.

Edo pura-pura nangis di belakang mereka, "Ih kalian sweet banget sih. Gini nih kalo orang udah pernah main sinetron Ramadhan."

Semua tertawa.

Novia masuk membawa tas belanja, mencoba mencairkan suasana. "Oke! Hari ini kita bikin menu favorit Paul. Biar nanti pas dia baca grup, dia iri terus pulang."

Edo dan Danil langsung tertawa.

"Wah, strategi culas! Gue setuju," kata Danil, "Bilang aja kita bikin avocado toast pakai topping alpukat sebelah, yang Paul bilang kayak 'rumput diinjek sapi' itu."

Mereka semua tertawa. Salma akhirnya bisa tersenyum juga.

Sementara itu, Rony berdiri, menepuk kepala Salma pelan. "Eh, lo capek ya? Tadi malem begadang?"

Salma melirik Rony dengan alis terangkat. "Tau dari mana?"

"Dari tatapan lo," jawab Rony dengan gaya sok misterius, "Nyeremin, kayak mau ngegantung gue di balkon."

Salma tertawa lepas. "Sok banget, Rony."

"Nggak sok, emang bener. Tapi kalau emang capek, istirahat, Sal. Jangan terlalu mikirin semuanya sendirian."

Untuk pertama kalinya hari itu, Salma merasa ringan. Kata-kata Rony sederhana, tapi pas.

Dia menatap Rony sesaat, lalu mengangguk. "Makasih ya."

"Btw," sela Edo, "Kalian bisa nggak flirting-nya nanti aja, yang polos kayak gue kasian."

Novia langsung menjewer telinga Edo, "Alay banget jadi om om"

"Eh tapi serius," ucap Syarla sambil menyusun cemilan di meja, "Gue yakin Paul juga ngerasa kosong. Dan sekarang dia harus ngadepin yang lebih berat lagi... bokapnya."

Danil menyahut sambil mengelus dagu, gaya sok bijak, "Menurut kalian Paul tuh akan balik duluan, atau kita yang harus jemput dia?"

Neyl menatap ke luar jendela. "Biarin dulu dia ngeresapin semuanya. Tapi waktu dia siap... ya, kita harus ada."

Sunyi sejenak.

Edo tiba-tiba berdiri sambil menggenggam donat, "Oke! Demi Paul dan Aksa, mulai besok kita aktifin 'misi apartemen ceria'. Kita bikin tempat ini seru lagi. Kita pasang foto bareng. Kita..."

"...kita beli speaker mini biar bisa nyanyi bareng!" potong Syarla yang baru datang, disambut sorak.

"Hidup apartemen ceria!" seru mereka ramai-ramai.

Dan untuk sejenak, tawa mereka menutupi sunyi yang sempat bertengger di sudut ruangan.

Ruang TemuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang