"Ron, diem, Ron," ucap Salma lembut.
"Jreng-jreng! Seperti mati lampu ya sayang, seperti mati lampu... cinta ku padamu ya sayang..." Rony bernyanyi sambil memainkan gitarnya.
"Diem dulu, Ron." Salma yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya mulai kelelahan menghadapi ulah Rony.
"Eh, santai aja dulu kali. Deadline masih lama."
Salma tidak menjawab. Kalau dia dengerin omongan Rony, yang ada tugasnya nggak kelar.
"Bila ingin melihat ikan di dalam kolam, tenangkan dulu airnya sebening..." Rony menghentikan nyanyiannya, menunggu Salma melanjutkan lirik.
Lagi-lagi Salma diam. Fokusnya tetap di layar laptop.
Ketika Rony hendak melanjutkan sendiri, tiba-tiba Salma berdiri di atas sofa.
"Ulang, ulang! Dari awal ya," pintanya antusias.
"Satu... dua... tiga... Seperti mati lampu ya sayang, seperti mati lam-"
"Salah, bego! Tadi kita nyanyi 'ikan dalam kolam'," protes Rony kesal. Barusan udah seneng karena Salma menanggapi, eh malah salah nyambung.
"Oh iya, aduh, gue udah nggak fokus," ucap Salma sambil duduk lagi dan kembali menari di atas keyboard.
"Ayah... Ayah... Hiks hiks..."
Seorang anak laki-laki kecil keluar dari salah satu kamar apartemen Rony sambil menangis, mengucek matanya dengan tangan mungil.
Langkah kecilnya menuju Rony. "Ayah..."
"Hah? Ron, sumpah... gue speechless," ucap Salma dramatis sambil menutup mulut dan melotot ke arah Rony.
Rony langsung sigap menggendong si kecil. "Aksa kenapa bangun, sayang? Haus?"
"Ibu... ibu... mau ibu..." rengek Aksa. Meski ucapannya belum lancar, Rony masih bisa memahami.
"Ibu? Kan di sini ada Ayah Rony. Ayah Paul mana? Kok Aksa keluar sendiri?"
Aksa menunjuk ke arah Salma. "Ibu gendong... Aksa mau gendong."
"Hah? Gue, Ron?" Salma bengong, menunjuk dirinya sendiri.
"Oh, mau gendong ibu ya, sayang? Sebentar ya..." Rony mendekat ke arah Salma.
"Halo, anak kecil... kok kamu manggil aku ibu sih? Aku bukan ibu kamu," protes Salma dengan gaya geli.
Rony menyodorkan Aksa padanya. "Oke, sama ibu dulu, ya."
Dengan ragu, Salma menerima Aksa dan mulai menggendongnya pelan. Ia berjalan ke sana kemari, berharap Aksa bisa tidur lagi.
"Gue pites pala lo, ngenalin gue ibu ke dia," gerutu Salma sambil tetap menggendong hangat.
"Hahahaha, ya dia aja yang manggil ibu, wle!"
Tiba-tiba Aksa kembali menangis dalam gendongan.
"Aksa kenapa, sayang?"
"Nen bu... haus..." Aksa menepuk pelan dada Salma.
