Langkah kaki pria paruh baya itu berhenti tepat di hadapan Paul. Masih dengan setelan rapi dan senyum tipis yang mungkin dimaksudkan untuk ramah—namun gagal total di mata Paul.
"Pauli…"
Suara itu terdengar asing, meski pernah jadi suara paling akrab di masa kecilnya.
Paul tak langsung menjawab. Matanya hanya menatap lurus, datar, namun ada nyala kecewa yang tak bisa disembunyikan.
Sorot yang seperti berkata, “Kau bukan orang yang pantas datang tanpa luka.”
"Sudah lama ya, Nak," lanjut pria itu lagi.
Paul akhirnya bicara. Suaranya pelan, tapi tajam.
"Kalau datang cuma buat ngelihat anak yang lo tinggalin, kenapa harus bawa anak lain?"
Senyum pria itu menegang, tapi Paul belum selesai.
"Tau nggak, lo ninggalin dua perempuan paling kuat yang gue kenal… kakak gue, dan ibu gue."
Ia menahan napas, sejenak.
"Keduanya luka. Tapi tetep bangun tiap pagi kayak nggak ada yang salah. Dan lo pikir, gue bakal baik-baik aja ngeliat lo sekarang?"
Keheningan jatuh. Tak ada suara, kecuali napas berat yang ditarik paksa oleh ayahnya.
Ayahnya menunduk sebentar, lalu berkata,
"Papa nggak pernah berniat ninggalin kalian, Paul."
Paul tertawa kecil, hambar. "Tapi tetap aja ninggalin, kan? Nggak peduli berniat atau nggak."
"Semua waktu itu... rumit."
"Rumit?" Paul menyela cepat.
"Yang rumit itu waktu gue harus ngerangkul kakak gue tiap malam karena dia nangis diem-diem. Yang rumit itu saat ibu harus kerja dua kali lipat dan masih pura-pura senyum waktu kita nanya, 'Papa ke mana?' Lo bilang ‘rumit’?"
Ayahnya terdiam. Mungkin baru sadar, bahwa waktu tak menghapus jejak langkah yang pernah menyakiti.
"Gue cuma pengen tahu satu hal," lanjut Paul pelan tapi menusuk. "Waktu lo ngasih nama anak baru lo, lo sempat mikir ngasih nama yang mirip biar bisa nutup rasa bersalah? Atau itu cuma kebetulan aja, Aksa?"
"Aksa nggak salah, Paul," jawab ayahnya dengan cepat. "Dia nggak tahu apa-apa."
"Justru itu masalahnya. Dia terlalu bersih buat lo bawa ke dalam sejarah lo yang kotor."
Ayah Paul menghela napas panjang. "Papa cuma pengen nebus kesalahan papa."
Paul menatapnya lurus, matanya mulai merah, tapi suaranya tetap tenang.
"Kesalahan lo bukan benda yang bisa lo tebus kayak bayar hutang. Ini bukan tentang minta maaf, Pak. Ini tentang waktu, luka, dan hidup yang udah lo patahin."
Sejenak mereka hanya saling diam. Dada Paul sesak oleh semua yang tak pernah sempat ia keluarkan. Dan di hadapannya, pria yang pernah jadi rumah kini hanya terasa seperti pintu yang sudah lama tertutup—dan saat dibuka, cuma ada angin dingin.
***
Di bab ini sengaja aku buat lebih deep setelah direvisi.
