Di sudut ruang tengah, Rony duduk bersila di lantai dengan laptop terbuka di hadapannya. Salma duduk di sebelahnya, jari-jarinya menari di atas keyboard sambil mengernyit, membaca ulang poin-poin yang barusan ia revisi.
“Kalimat lo di sini kayak lagi pidato bendera, Ron. Terlalu formal, padahal ini cuma proposal acara musik,” komentar Salma sambil menunjuk layar.
Rony menggaruk alisnya, lalu nyengir, “Makanya gue minta tolong sama maestro musik yang bertransformasi jadi anak manajemen.”
“Dih, jijik banget gaya lo,” Salma cekikikan, lalu melanjutkan mengetik.
Tiba-tiba, layar ponsel Salma menyala. Nabila melakukan video call.
“Angkat dulu, mungkin penting,” kata Rony.
Salma menekan tombol hijau, dan muncullah wajah Nabila yang sedang duduk di taman kampus.
“Sal! Lo sama Rony ya?” sapa Nabila, matanya melirik ke sisi lain layar.
“Yoi. Kenapa, Bil?”
“Kabar gembira untuk kita semua,” kata Nabila dramatis. “Kita semua diundang ke ulang tahun Anggis minggu ini. Tempatnya cozy banget, di rooftop café dekat kampusnya. Dresscode putih gitu katanya.”
“Oh wow. Geng reuni SMA bakal kumpul lagi,” Rony menimpali.
Salma mengernyit, “Anggis? Maaf nih, itu siapa ya?”
Nabila ketawa, “Temen SMA gue, Rony, Syarla, Danil, gitu. Tapi dia sering nongkrong bareng kita pas awal masuk kuliah. Lo pasti pernah ketemu deh.”
“Ah, yang dari bali itu ya?” tebak Salma.
“Yesss dia! Nah, dia ngajak lo juga. Katanya lo lucu.”
Rony nyeletuk, “Yaa... kayaknya yang lucu bukan Salma doang.”
Salma menyikut Rony sambil ketawa kecil, “Lucu lo... ditoyor maksudnya.”
“Hahaha gemes deh kalian. Tapi... gue juga sekalian nanya, Paul gimana? Udah ada kabar belum?”
Salma dan Rony saling pandang sejenak. Senyum Salma mengendur, lalu ia menghela napas pelan.
“Belum, Bil. Dari semalem dia belum bales chat. Tapi kata Paul, eh—kata Paul—ya... dia butuh waktu dulu.”
Rony yang mendengar itu cuma bisa diam, menatap layar laptop kosong beberapa detik sebelum berkata, “Tapi dia bakal balik. Kita semua tahu itu.”
Nabila mengangguk pelan. Matanya tampak menyimpan sedikit kekhawatiran.
“Kalau kalian dapet kabar, bilang gue ya. Gue... pengen ngobrol sama dia. Paling nggak, dia tahu ada orang-orang yang tetap peduli.”
Salma menatap Nabila lama, sebelum senyumnya kembali merekah, “Tenang, Nabs. Kita semua bakal ada di sisinya, apapun itu.”
“Oke deh, lanjut ya kalian. Jangan lupa RSVP buat acara Anggis!”
“Siap, queen,” jawab Rony sambil memberi hormat main-main.
Call berakhir, tapi keheningan yang tertinggal terasa cukup dalam.
Salma menoleh ke Rony, “Dia suka Paul ya?”
Rony mengangkat bahu, “Gue rasa sih... udah lama.”
Tak lama kemudian keduanya cekikikan seperti menyaksikan kisah cinta anak remaja yang baru akan dimulai.
