Bagian 2

2.9K 126 0
                                        

PAGI DI KAMPUS

Matahari baru saja naik saat Salma dan Novia tergesa memasuki area kampus. Langkah mereka cepat, tapi tetap menyempatkan sapa ke beberapa teman yang lewat.

"Nov, ini udah jam delapan kurang! Dosen Bu Dea tuh paling nggak bisa lihat mahasiswa masuk telat," ucap Salma sambil mempercepat langkah.

Novia menghembuskan napas berat. "Gue udah ngos-ngosan, Sal. Ini bukan jogging pagi."

Mereka sampai di kelas tepat saat Bu Dea baru akan memulai. Nafas keduanya masih belum stabil.

"Hampir," gumam Salma lega.

Kuliah berjalan cukup membosankan. Salma sempat tertidur di tengah penjelasan materi Manajemen Pemasaran. Novia beberapa kali menyikutnya agar bangun, tapi tak berhasil.

"Jurnal yang ditugaskan jangan lupa dikerjakan dan dikirim via email. Setiap jam dari sekarang, akan ibu cek email yang masuk dan memberi tanda siapa saja yg sudah mengirim email." suara Bu Dea terdengar sebelum kelas bubar.

"Huff... hidup kampus ternyata nggak seglamor itu ya," keluh Novia saat mereka berjalan ke kantin.

---

DI KANTIN KAMPUS

Mereka duduk bersebelahan. Beberapa teman satu angkatan sudah berkumpul: Paul, Rony, Danil, Neyl, Nabila, dan Syarla.

"Eh, Ron, gimana tuh bocah kemarin?" tanya Salma sambil membuka botol minumnya.

"Masih di apart, si Paul yang jagain. Gue tadi pagi sempat anterin susu doang."

"Kalian masih niat mau anterin dia ke panti hari ini?" tanya Danil.

"Iya, sekalian abis kuliah. Tapi kayaknya lo semua harus liat dulu bocah itu. Lucu parah," jawab Rony sambil nunjukin video Aksa dari ponselnya.

"Hah serius gemes banget," Nabila reflek nyomot ponselnya buat nonton bareng.

"Yaudah, sekalian mampir lah. Gue penasaran banget sama bocah itu," kata Syarla.

"Apart lo yang tower B kan?" tanya Novia memastikan.

"Betul, ntar kita kumpul di situ aja," sahut Paul sambil ngunyah gorengan.

---

DI APARTEMEN RONY & PAUL

Sore itu, mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah apartemen. Aksa duduk di sofa kecil, bermain dengan mainan dari botol plastik. Saat melihat keramaian, dia malah menyembunyikan wajahnya di balik bantal.

"Halo Aksa! Om Paul bawain roti loh!" sapa Paul mendekat sambil membawa piring.

"Aksa mau main mobil-mobilan nggak?" Edo mencoba menarik perhatian, disusul suara Nabila, "Aksa, aku tante cantik, mau peluk?"

Tapi Aksa justru merunduk makin dalam.

Salma yang dari tadi hanya memperhatikan, akhirnya duduk di samping sofa. Perlahan ia mengulurkan tangan.

"Hei, Aksa... inget aku nggak? Tante Salma, yang kamu panggil ibu kemarin?"

Mata Aksa yang besar menatapnya ragu, lalu perlahan berdiri dan mendekat. Ia memeluk kaki Salma erat.

"Ah, menang telak," celetuk Danil sambil tepuk tangan.

Salma tersenyum kecil dan mengangkat Aksa ke pangkuannya. "Udah makan belum, sayang?"

Aksa hanya memiringkan kepala.

"Ron, jangan bilang lu kasih susu doang lagi," Salma melotot.

"Hehe... iya sih," Rony nyengir, lalu bangkit. "Bentar, gue siapin roti isi alpukat sama telur."

Saat makanan datang, Aksa makan lahap. Semua yang menonton cuma bisa melongo.

"Anak orang kelaparan, bro. Masa lu kasih susu doang," sarkas Salma sambil elus kepala Aksa.

"Makanya besok beneran anterin ke panti, sebelum makin nempel sama kita," kata Paul pelan, sambil menatap Aksa.



Ruang TemuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang