Bagian 14

1.5K 88 8
                                        

Warkop pinggir kampus udah jadi basecamp dadakan. Meja panjang di pojokan, kopi sachet yang entah kenapa selalu enak kalau diminum rame-rame, dan suara tawa yang naik turun kayak sinyal Wi-Fi kampus.

Rony duduk paling ujung, nyender ke tembok sambil mainin tutup botol. Di depannya, Salma lagi ribut sendiri ngebenerin tulisan di planner.

"Sal, lu nulis planning atau nyusun strategi perang sih?" celetuk Neyl yang baru datang bawa gorengan lima ribu dapet banyak.

Salma ngangkat alis, "Ini strategi hidup, Bang. Biar nggak gila gara-gara dosen statistik."

Novia ngakak, "Lu telat Neyl, tadi Salma hampir ngelempar kalkulator ke laptop."

Rony senyum-senyum. "Tadi pagi sarapan bubur, sekarang stress gara-gara angka. Makan tuh 12 SKS."

"Lo ngomong begitu kayak bukan mahasiswa aja," Salma balas tanpa liat.

"Gue mahasiswa. Cuma sekarang pengangguran dulu sampe Paul baikan."

Semua mendadak nengok ke Rony. Paul yang duduk agak terpisah senyum tipis, "Gue denger itu."

Rony pura-pura kaget. "Wah, kupingnya nyala lagi nih. Alhamdulillah."

Salma cuma geleng-geleng, tapi senyumnya nggak hilang. Diam-diam dia ngelirik Paul, lalu balik ke Rony—sedikit canggung.

"Besok kita mau ke panti lagi, kan?" tanya Novia, mencoba topik lain.

"Iya," jawab Paul pendek.

"Sal, lo ikut kan?" Rony nanya tiba-tiba.

Salma mengangguk. "Kalau tugas gue kelar malem ini, ikut."

"Hmm ... kalo lo ga ikut, perjalanan ke sananya bakal jadi lebih sunyi dari playlist galau gue."

"BODO AMAAATTTT!" kata Salma sambil tetap fokus ke tugasnya.

Meja langsung ribut sama ketawa ngakak dan lemparan gorengan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Ruang TemuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang