Bagian 12

1.3K 88 1
                                        

Suasana di apartemen masih sunyi waktu Rony, Salma, dan Novia masuk. Udara agak pengap, lampu ruang tengah mati.

Dari kejauhan, terdengar samar suara televisi dari kamar Paul-tapi gak ada tanda-tanda kehidupan lain.

"Yakin dia di dalem?" tanya Novia sambil naruh kantong plastik bubur di meja.

"Yakin banget. Gak mungkin dia keluar pagi-pagi lari ngibrit ke mana," sahut Rony. Terus, dia melirik ke Salma sambil garuk kepalanya yang ga gatel.

"Lo aja yang panggil. Kalo gue kan paling cuma dikatain cerewet."

Salma tarik napas pelan. Jalan ke depan pintu kamar Paul dan ketuk dua kali.
"Paul. Bangun. Bubur udah nyampe."

Hening. Rony langsung nimbrung dari ruang tengah, setengah berteriak, "PAUL, NIH SALMA DATENG!"

Benar saja-pintu kamar langsung kebuka. Rambut awut-awutan, mata sayu, dan kaos yang kusut parah. Paul nongol kayak zombie baru bangun tidur.

Dia gak ngomong apa-apa, cuma jalan ngelewatin mereka dan langsung duduk di sofa.

Salma ngangkat alis. "Lo serius baru bangun?"

Paul cuma angguk, terus ambil bubur dan sendok.

"Tampang lo kayak baru ngelawan setan semalaman," lanjut Salma, duduk di ujung sofa.

"Lo juga gak jauh beda. Tapi thanks buburnya."

"Yaa... anggap aja ini bentuk balas dendam karena dulu lo pernah makan gorengan gue tanpa izin."

Rony dari dapur ngedumel, "Eh, itu tahun lalu! Masih aja diungkit."

Paul senyum kecil sambil ngaduk bubur. "Gue inget itu, enak banget gorengannya."

Salma ngelirik malas. "Lo ngelawak atau beneran masih ngaruh tuh gorengan di kepala lo?"

Mereka semua ketawa kecil. Suasana mulai lemas. Tapi Paul tetep diam beberapa detik sebelum akhirnya membuang napas panjang.

"Gue gak ngerti ya, kenapa orang-orang dateng dan pergi seenaknya. Tapi... kalian dateng pagi-pagi bawa bubur-itu agak nyebelin, tapi ya... nyelametin juga sih."

Novia langsung nyeletuk, "Itu kalimat paling mellow yang pernah keluar dari mulut lo."

Paul nyengir sambil ngunyah. "Jangan dibiasain. Bikin gue geli sendiri."

Salma iseng menendang kaki Paul pelan. "Gue bawain bubur, bukan buat lo jadi pujangga."

"Tapi buburnya enak," jawab Paul sambil nyolek emping Salma. "Bagi dikit."

"EH, EH. GAK ADA CERITA BAGI-BAGI!" Salma langsung mundur.

Rony yang dari tadi nyimak, akhirnya nyeletuk, "Gue ngerasa kayak orang ketiga di sinetron."

Paul melirik, "bro? lebih sering siapa yg jadi korban crop-an foto bertiga"

Sebelum nyeletuk dia masih sempat cengengesan. "Kalo itu kan ... Yaaa itu ..."

Paul memasang mimik wajah mengikuti Rony yang sedang berusaha menjelaskan. Disisi lain, dua orang yang ga tau apa-apa juga ikut berpikir.

"Korban crop foto bertiga?" Tanya Novia penasaran.

Paul mengalihkan pertanyaan Novia, "Ngaku aja, Ron. Lo gak tahan ngeliat Salma lebih milih ngasih bubur ke gue."

Rony manyun pura-pura bete. "Gue nyesel gak beli bubur satu panci buat ngusir lo dari sofa."

Ruang TemuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang