kehangatan || bab 06

11.1K 413 2
                                        

happy reading maaf kalo ada ke typoan maklum namanya juga manusia biasa

...

setelah berpelukan cukup lama vio pun duduk dimeja makan disamping nya ada rian

"kenalin diri kamu"

ujar seseorang di depan mereka vio mengangguk lalu berdiri membukukan tubuh nya hormat

"kenalin mom and semuanya vio ngk tau manggil apa alvion afkara reynand panggil vio aja"

setelah perkenalan lalu ia duduk Claudia tertawa kecil lalu meletakkan beberapa makanan dimeja

"nah vio perkenalkan momy Claudia terus itu ada alzian agranedra ddy terus ada alden kakak pertama altezza kakak kedua dilanjutkan alterian"

"kamu anak nya damisn Carlos reynand?"

tanya zian selaku ddy dan kepala keluarga disini itu nama ayah nya lalu tersenyum dan mengangguk

"iya om-eh ddy hehe"

zian tersenyum kecil lalu menyuruh vio mendekat vio menurut sesampainya ia disamping zian pria itu mengelus anak itu

"apa kabar mu nak?maaf saya tidak tau atas kematian ayah mu saya om zian yang sering bertamu kerumah ayah mu "

vio berpikir sejenak yang sering bertamu?apa jangan jangan ddy zian yang memberikan nya boneka panda?

"ddy yang memberikan ku boneka panda??"

"yes baby"

"ddy iannn hiks kangen huaa"

oke vio kembali menangis ia merindukan Zian kerna dulu sebelum zian menikah ia sering bertamu kerumah nya kadang ia membawa kanya martabak dan mainannya

tapi disaat itu mereka harus berpisah kerna zian harus keluar negri sebelum ia pergi zian membelikan vio bonekaa panda dan itu disimpan apik oleh nya

"udah udah stsss masa anak ddy Ian nangis??ayo dong senyum nanti ddy beliin martabak kacang coklat oke?"

"um hiks ddy kemana aja hiks hiks waktu papa meninggal io kira ddy kesana ternyata ngk hiks"

"iya maafin ya?udah udah sini duduk ddy suapin oke?"

vio mengangguk lalu duduk dipangkuan zian rasanya hangat jika kembali bertemu dengan seseorang yang ia rindukan

setelah makan mereka semua berkumpul diruang santai rian yang mengerjakan pekerjaan nya dengan laptop lalu Alden yang memainkan rubix dan ezza yang bercerita dengan Claudia

"nah dde selamat datang disini ya jangan sungkan anw kamu gemess banget tau hebat nih kulkas dapet yang bening"

ezza menabok alden membuat pria itu menyeringit kesal vio tertawa kecil

"btw kami semua udah tau tentang kamu dulu jangan sungkan sungkan ya nanti kalo mau beli sesuatu bilang abg bakal abg beliin onghey?"

"okeyyy"

alden mengacak rambut vio gemas ia membawa anak itu memainkan rubix baru beberapa detik saja anak itu sudah bisa menyesuaikan warna rubix alden kagum

"kamu bisa main rubix?"

"dikit bg dulu sering dibeliin ddy zian eh malah kecanduan main nya"

"buset cill"

alden menggosok matanya tak percaya sementara itu vio duduk disamping rian dalam diam ia merasakan kehangatan yang tak pernah ia temukan sebelum nya

merasa diperhatikan rian melihat vio yang melamun ia terkekeh lalu mengecup pipi vio membuat sang empu melotot

"kenapa Hem?"

"enggak enggak pian sibuk?"

"pian?"

"eh ngk suka?yaudah rian gitu"

"suka sayang"

ia memeluk vio kadang ia mencium pipi nya dan bahkan mengigit menggigit kecil pipi anak itu

dan itu semua dilihat oleh keluarga nya mereka diam diam tersenyum bangga dengan vio yang berhasil membuat alergi rian tidak kambuh

"udahhh ih pian udah selesai kerjanya?kalo belum siap nanti duluuu"

"udah sayang mau nonton hm?"

"mauuuuu"

rian tersenyum lalu membawa vio kepangkuan nya dengan mudah ia mengangkat vio menurut nya vio itu ringan

rian memutarkan kartun Pororo dilaptop nya sementara itu Claudia yang baru saja selesai membuat kue terkejut ingin bersuara ditahan oleh zian

"dde ini ada kue dimakan ya?"

vio tersenyum lalu mengambil cookies buatan Claudia itu enak matanya berbinar

walaupun ia fokus menonton tapi mulut nya tak pernah berhenti untuk mengunyah cookies buatan Claudia

sementara itu rian pria itu menatap vio dalam ia memeluk pinggang anak itu,mencium pipinya,mencium tengkuknya

"udah ri biarin aja dulu bocill nya fokus nonton napa elah"

ujar altezza dianguki oleh alden sementara orang tuanya hanya melihat tapi diam diam mereka senang

"ngk bisa"

"Yee si bang ngk maksudnya itu lu mah ngk baik gitu bocil nya fokus nonton noh ntar ngamuk dia"

baru saja alden Ingi mengomong bangsat tapi tak jadi kerna zian menatap nya dengan dingin lebih baik mencari hidup dari pada mencari kematian

tbc

Pria brandalan itu milikku Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang