BAB 3: Menjadi Anak Sekolah

118 13 5
                                        

Setelah sehari absen dari sekolah akhirnya Kiandra bersiap-siap untuk pergi bersekolah. Kiandra menatap pantulan dirinya di cermin yang berbalut seragam batik biru. Mengingat hari ini adalah hari Kamis di mana jadwal sekolah Kiandra mengenakan seragam batik biru.

Di tahun 2011 ini, Kiandra memang masih berusia 14 tahun. Ia masih duduk di bangku SMP kelas 9. Sedangkan Fabian berusia 16 tahun dan kelas 11 SMK.

Kiandra sejenak berpikir lagi. Bukan tanpa alasan Tuhan mengabulkan permohonan doanya untuk bisa kembali ke masa ini. Selama masih berada di tahun ini, Kiandra berusaha sebisa mungkin untuk memperbaiki segalanya.

Memperbaiki segalanya dalam artian; tidak hanya soal Fabian, tapi juga kesalahan yang pernah dia perbuat di tahun ini. Karena di masa ini Kiandra pernah bersitegang dengan Mega, sahabat dekatnya, karena Mega diam-diam jadian dengan Barry, cowok yang Kiandra sukai.

***

Raut wajah Kiandra berseri-seri tatkala berjalan kaki menuju SMPN 6 bersama Luna. Baru kali ini Kiandra mengalami hal paling gila dalam hidupnya. Seperti mimpi namun terasa begitu nyata. Jika dia kembali ke tahun 2024, akankah orang-orang di sekitarnya percaya pada apa yang ia alami?

Di depan gerbang sekolah sudah banyak anak-anak berseragam batik biru yang berjalan masuk. Beberapa ada yang baru parkir motor, ada yang jajan di depan sekolah dan ada yang berada di tukang foto copy.

Degup jantung Kiandra berdebar cepat. Kiandra sudah tidak sabar masuk ke kelas dan kembali belajar seperti anak SMP sungguhan. Ia tidak berhenti memperhatikan teman-teman satu sekolahnya lantaran terlalu antusias.

"Ki, lo udah belajar tadi malem?" Tanya Luna tatkala sudah melewati gerbang sekolah.

Kontan Kiandra mengernyitkan kening. "Belajar apaan?"

"Ya belajar buat UAS hari ini dong. Tapi lo nggak belajar juga udah pinter sih. Aduh, mana sekarang giliran mapel bahasa Inggris sama MTK!" Keluh Luna.

Sontak saja ucapan Luna sukses membuat Kiandra membeku di tempat. Pasalnya Kiandra benar-benar tidak tahu kalau minggu ini adalah minggu UAS semester ganjil siswa SMPN 6.

Lagi-lagi hati Kiandra mencelos usai Luna melanjutkan kalimatnya.

"Berarti lo ikut ulangan susulan juga ya soalnya kan kemarin lo nggak masuk."

***

Suasana kelas pagi itu terasa begitu hening. Semua kepala siswa dan siswi menunduk karena serius mengerjakan soal ulangan. Tak terkecuali Kiandra. Ia sedari tadi membaca soal-soal ulangan Matematika yang baru saja dibagikan guru. Beberapa kali Kiandra menghela napas kasar tiap kali membaca soal demi soal.

Kiandra memejamkan matanya. Mencoba mengingat-ingat kembali materi pelajaran Matematika yang pernah dipelajarinya sewaktu SMP. Soal-soal berisikan materi persamaan fungsi kuadrat, perpangkatan dan bentuk akar serta rumus-rumus bangun datar dan segitiga memenuhi isi kertas.

Dalam hatinya Kiandra meneriakkan namanya sendiri. Sebab di dalam raga dia yang sekarang, pasti ada jiwa dia yang lain. Jiwa Kiandra yang masih berusia 14 tahun. Gadis itu berharap jiwanya yang lain dapat membantunya mengisi jawaban.

Beberapa saat memejamkan mata dan menyerukan namanya sendiri dalam hati, tahu-tahu Kiandra dapat dengan mudah mengerjakan soal ulangan tersebut. Seolah-olah dia mendapatkan bocoran jawaban dari isi kepalanya.

Satu setengah jam kemudian Kiandra serta anak-anak kelas 9.1 yang lain keluar kelas. Raut masing-masing anak berbeda. Ada yang sumringah karena berhasil mengerjakan soal. Namun, banyak juga dari anak kelas 9.1 yang menunjukkan tampang lesu. Bagi mereka, soal Matematika hari ini begitu sulit. Tidak seperti soal-soal latihan yang sering mereka kerjakan..

BACK TO YOUR TIME [TERBIT✔️]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang