BAB 24: Waktu dan Kenangan

56 6 7
                                        

"Kamu Kiandra dari tahun 2024, kan?" Tanya Fabian lagi. Kali ini sembari mengguncang kedua bahu gadis itu.

Usai membisu beberapa saat dan hanya bisa menangis, Kiandra menggeleng. Ia buru-buru mengusap air mata dengan punggung tangan.

"Aku nggak ngerti maksud kakak," dusta Kiandra.

"Ki--"

"Maaf Kak, aku nangis karena berantem sama Barry. Maaf kalau pertengkaran aku dan Barry malah nyeret kakak." Kiandra hendak melangkahkan kakinya pergi tanpa berpaling lagi menghadap Fabian.

Sedangkan Fabian sukses bergeming di tempatnya berdiri. Kedua bahunya merosot lemah seolah tidak ada lagi tenaga.

***

Tidak ada yang tahu seberapa besar keinginan Kiandra untuk meneriakkan nama Fabian kala dia melihat cowok itu lagi. Apalagi saat mendapati Fabian yang kini berdiri di depan gerbang SMPN 6. Sudah berhari-hari Fabian berusaha untuk mendekati Kiandra lagi. 

Kiandra memilih untuk tidak mengacuhkan keberadaan Fabian. Ia berpura-pura memasang tampang tidak peduli, padahal dalam hati menahan rasa gugup setengah mati.

"Hai Kiandra," sapa Fabian yang kini tengah mengekori Kiandra dari belakang. "Gimana kamu udah baikan sama Barry?"

Gadis itu sontak menghentikan langkahnya. "Bukan urusan kakak juga."

"Ya kakak harap hubungan kamu dan Barry baik-baik aja," balas Fabian yang terus berusaha menyejajarkan langkahnya kala gadis itu kembali menderapkan kakinya.

Lantaran ulah cowok itu, banyak anak-anak yang menghujami mereka dengan tatapan rasa ingin tahu. Ditambah gosip Fabian yang menendang Barry telah tersebar di kalangan siswa SMPN 6.

Sekarang banyak anak-anak yang berspekulasi bahwa Kiandra telah mempermainkan dua laki-laki paling eksis di sekolah. Bagaimana tidak? Fabian adalah cowok paling supel dan paling disegani sebagai alumni, sementara Barry merupakan cowok yang memiliki banyak penggemar rahasia di sekolah.

"Terus kalau hubungan aku sama Barry baik-baik aja, kakak mau ngapain?" Tanya Kiandra sok ketus.

"Aku turut bahagia kalau kamu bahagia, Ki."

Sesaat Kiandra menahan napas tatkala mendengar jawaban lugas Fabian. Matanya terasa panas lantaran menahan untuk tidak menitikkan air mata.

Kemudian gadis itu berdeham. "Cih. Kenapa bisa gitu? Harusnya kamu bisa dong cari kebahagiaan sendiri."

"Karena kamu satu-satunya sumber kebahagiaan aku."

Tak ayal lagi-lagi jawaban Fabian sukses membuat Kiandra tertegun. Hatinya sedikit remuk karena dia tidak bisa leluasa mengekspresikan perasaannya pada cowok itu.

Sebab Kiandra harus tetap merahasiakan identitas aslinya.

"Aku selalu nunggu kamu, Ki. Sampai kapan pun. Walau mungkin hidup aku nggak akan lama lagi, aku yakin cepat atau lambat kamu akan menerima aku lagi." Fabian mengambil satu tangan Kiandra dan membawanya ke dada. "Di hati aku sekarang cuma ada kamu. Bahkan setelah aku mati nanti, aku akan tetap inget sama kamu. Aku bener-bener sayang sama kamu, Ki. Tolong ... kasih aku kesempatan buat bisa balikan sama kamu lagi."

Kiandra bergeming selama beberapa saat. Lidahnya kelu. Bibirnya terbuka dan agak bergetar. Dwinetranya telah dipenuhi selaput bening.

"Aku nggak bisa, Kak," lirih Kiandra dengan suara serak. Gadis itu menggeleng. "Kamu nggak ngerti. Semua ini juga sulit buat aku. Aku takut semuanya berantakan gara-gara aku."

Melihat reaksi Kiandra yang berdiri di hadapannya kini membuat Fabian seakan tersadar. Inilah Kiandra-nya yang dia kenal. Dia gadisnya dari masa depan.

Tanpa bertanya sepatah kata, Fabian segera merengkuh tubuh Kiandra ke dalam dekapan. Membiarkan gadis itu menumpahkan tangis di pundaknya. Dielusnya lembut puncak kepala Kiandra dari belakang. "Kamu nggak perlu ngapa-ngapain. Cukup ada di sisi aku aja sampai waktu itu tiba."

BACK TO YOUR TIME [TERBIT✔️]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang