BAB 19: Pengakuan Adrian

43 4 0
                                        

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang tapi gadis bernama Kiandra Viansha Radhika itu tak kunjung berhenti mengerjakan laporan penjualan. Ajakan Luna untuk makan siang ditolak mentah-mentah oleh Kiandra. Akhirnya Luna mencari cara lain agar Kiandra tidak terus berkutat dengan pekerjaannya.

Luna meminta bantuan Adrian alias Fabian untuk membujuk Kiandra. Diam-diam Luna menarik Adrian yang baru saja keluar dari ruangan divisi Public Relation.

"Kak, bantuin aku!" Seru Luna seraya tanpa sadar menggelayut di lengan Adrian.

"Bantuin apa?" Adrian mengerutkan kening.

Belum sempat Luna menjawab, tahu-tahu Rio menepis tangan Luna dan menarik Adrian menjauh darinya.

"Sori, Adrian hari ini makan siang bareng gue," kata Rio kalem.

Sontak saja Luna tidak tinggal diam. Mereka yang sudah mencapai depan pintu lift akhirnya berhasil dipisahkan Luna. Dengan cepat Luna mendorong tubuh Rio masuk ke dalam lift. Meninggalkan Adrian yang masih terbengong di depan pintu lift.

"Gue serahin Kiandra sama lo, Dri!" Pekik Luna tepat beberapa detik sebelum pintu lift tertutup usai Luna memencet tombol lift.

Adrian yang langsung mengerti maksud Luna akhirnya beranjak kembali menuju ruangan divisi marketing. Sementara itu, di dalam lift, Luna masih dalam posisi menghimpit tubuh Rio dengan satu tangannya berpegangan pada dinding lift.

Baik Luna dan Rio sama-sama menahan napas. Apalagi posisi Rio yang tepat bersandar pada dinding lift. Pandangan mata keduanya saling mengunci. Sampai akhirnya Luna dan Rio saling melepaskan diri tatkala lift berhenti bertepatan ada orang lain yang masuk.

***

Kedua langkah Adrian yang tadinya bergegas hendak masuk ke ruangan divisi marketing jadi terhenti begitu dilihatnya Theo sedang berdiri di luar. Melalui sekat kaca, Theo memandangi Kiandra yang tengah serius bekerja.

Di lain sisi, meski pun Kiandra terfokus pada perhitungan hasil penjualan, ekor matanya mendapati bayangan Theo. Kiandra menoleh ke luar. Benar saja, Theo sedang berdiri di depan ruangannya.

Kiandra buru-buru bangkit dari kursi dan berlari keluar tatkala Theo mengalihkan pandangan lalu melengang pergi. Gadis itu mengejar Theo karena ada hal yang ingin disampaikannya pada pria itu.

"Pak Theo, tunggu! Pak Theo!" Panggil Kiandra.

Lantas Theo menghentikan langkah. Ia berbalik pada Kiandra. "Kamu manggil saya?"

"Iya." Kiandra mengangguk. "Saya mau traktir bapak makan siang sebagai bentuk terima kasih saya karena bapak udah kasih saya bonus banyak banget bulan ini."

"Nggak usah." Theo mengangkat tangan. "Itu udah jadi hak kamu. Hasil kerja keras kamu juga."

"Tapi pak–"

"Uangnya kamu simpen aja. Kalau nggak ada lagi yang pengen kamu bicarain, saya permisi," sahut Theo lalu berlalu pergi dari hadapan Kiandra. 

Dari kejauhan Adrian melihat pemandangan itu. Mulai dari Theo yang memerhatikan Kiandra bekerja dari luar ruangan, sampai Theo yang bersikap dingin pada Kiandra saat gadis itu mengobrol dengannya.

Kemudian Adrian lagi-lagi dibuat tertegun tatkala seorang sekuriti datang menghampiri Kiandra dengan membawa sebuah goodie bag berisikan makanan. Tampak Kiandra bertanya-tanya siapa pengirim makanan tersebut. Meski Kiandra tidak tahu siapa pengirim makanan untuknya, Adrian sudah dapat menebak pasti Theo lah yang memesankan makanan untuk Kiandra.

Kiandra yang berjalan hendak kembali menuju ruangannya tidak sengaja menatap Adrian. Kontan senyum gadis itu merekah lalu melambaikan tangan pada cowok itu. Melihat senyuman Kiandra, di detik itu lah Adrian mendapatkan jawaban kepada siapa dia bisa menitipkan Kiandra setelah kepergiannya nanti.

BACK TO YOUR TIME [TERBIT✔️]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang