BAB 17: Pilihan Takdir

54 4 0
                                        

Para karyawan PT. Superfama Nusantara mengarahkan tatapannya pada Kiandra yang berjalan cepat melewati lobby kantor. Pasalnya jam sudah menunjukkan pukul 16.30 dan Kiandra baru kembali ke kantor.

Keabsenan Kiandra di kantor sejak jam makan siang sukses menggegerkan orang satu kantor. Pasalnya Theo selaku direktur utama mengerahkan banyak karyawan hanya demi mencari keberadaan gadis itu.

Selain tidak izin pada Theo, ponsel Kiandra juga tidak aktif saat dihubungi. Membuat Theo semakin cemas. Hilangnya Kiandra juga sampai ke telinga Luna. Sahabat Kiandra itu langsung pamit kembali ke kantor saat sedang bertemu klien.

Tepat tatkala Kiandra hendak masuk lift, dia bertemu Luna yang baru saja turun. "Kiandra, astaga!" Luna memekik begitu melihat Kiandra. Ia hamburkan dirinya memeluk Kiandra detik itu juga. "Lo kemana aja? Dicariin tau nggak!"

"Gue ... gue habis ketemu customer tadi. Biasalah, ngejelasin kerja sama perusahaan sama bahas MoU," dusta Kiandra.

"No, no. Kenapa lo nggak izin sama pak Theo?" Luna menatap lurus-lurus Kiandra yang sedari tadi membuang muka. "Tunggu. Lo habis nangis? Muka lo bengep banget." Luna menangkup wajah Kiandra dengan kedua tangan.

"Nggak. Cuma kelilipan aja tadi di jalan."

"Lo nggak bisa bohong sama gue. Kenapa, Ki? Ada masalah sama customer?" Tanya Luna cemas.

Belum sempat Kiandra menimpali, Adrian sudah lebih dulu datang dan melontarkan pertanyaan pada gadis itu. Kentara sekali raut wajahnya yang sangat cemas lantaran sebelumnya Kiandra yang tiba-tiba menangis dan pergi meninggalkannya di pantai.

"Kamu kenapa nangis? Jangan nangis plis. Aku minta maaf kalau aku ada salah tadi sama kamu." Adrian berusaha menggapai tangan Kiandra namun ditepis cepat gadis itu.

"Gue butuh waktu sendiri." Kiandra bergegas masuk lift tanpa mengindahkan Adrian yang masih ingin bicara padanya.

Luna yang berdiri di depan pintu lift jadi membeku di tempat. Walau pun dia tidak mengerti situasi yang terjadi, dia tahu bila Adrian yang ada di depannya kini adalah Adrian yang berisi jiwa Fabian.

"Ini ... kak Fabian, kan?" Dengan hati-hati Luna mengajukan pertanyaan.

Sontak pria itu menoleh pada Luna dengan ekspresi tercengang.

***

Raut Kiandra berubah panik saat mendapati tas miliknya tidak ada di laci meja kerjanya. Padahal ia yakin bila sebelumnya ia meletakkan tasnya itu di sana. Ketika gadis itu sibuk mencari tas, tahu-tahu Theo masuk ke ruangan divisi marketing dan menyerahkan tas milik gadis itu.

Kiandra terperanjat tatkala tas itu ada di tangan Theo. "Kok bisa tas saya ada di bapak?"

"Saya panik kamu nggak balik ke kantor setelah jam makan siang. Saya kira kamu diculik. Makanya saya simpan tas kamu biar aman."

Kiandra menyampirkan tali tas di bahu kanan, kepalanya menunduk. "Maaf pak, saya tadi nggak izin sama bapak."

"Saya nggak akan nanya kamu habis dari mana, tapi izinin saya buat anterin kamu pulang."

"Nggak usah, pak. Saya bisa pulang sendiri." Kiandra menolak halus.

"Anggap aja ini konsekuensi kamu nggak balik kantor. Lagi pula, saya nggak akan nanya kenapa kamu nangis meskipun saya khawatir," balas Theo.

Kepala Kiandra yang tadinya menunduk jadi terangkat. Kelopak matanya mengerjap. Lantas dengan cepat ia mengucek kedua matanya yang tampak sangat sembab.

BACK TO YOUR TIME [TERBIT✔️]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang