BAB 23: Kesempatan Terakhir

71 5 5
                                        

Hujan deras mengguyur kota Jakarta sejak setengah jam yang lalu. Membuat para pekerja pagi itu terpaksa menerobos hujan demi tidak terlambat datang ke kantor. Jalanan menjadi macet di mana-mana.

Tak terkecuali Kiandra yang saat itu memang tidak sedang membawa mobil ke kantor. Hari itu dia juga berangkat sendiri karena Luna izin tidak masuk kerja.

Keluar dari stasiun, Kiandra lantas memesan taksi online dari ponsel. Berharap akan mendapatkan driver dalam waktu cepat. Akan tetapi, selama sepuluh menit Kiandra menunggu, dia masih belum juga mendapatkan driver.

Alhasil Kiandra gelisah. Jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul 07.55. Tersisa waktu lima menit lagi sebelum waktu masuk kantor. Belum lagi Kiandra hari ini ada jadwal meeting.

Lantaran terdesak, Kiandra pun menelepon Theo untuk meminta izin datang terlambat. Padahal jarak dari stasiun ke kantor kurang lebih 5 km. Tapi entah mengapa tidak ada satupun driver yang mau menjemputnya.

Sampai pukul 08.15 pun Kiandra masih menunggu di stasiun. Sempat ada beberapa driver taksi online yang menerima orderannya namun selalu dibatalkan. Akhirnya Kiandra pasrah. Mau tidak mau dia harus mencari cara lain agar tiba di kantor.

Tatkala Kiandra hendak menerobos hujan yang sudah berganti jadi gerimis rintik-rintik, tahu-tahu ponselnya bergetar. Tertera nama Theo di layar ponsel.

"Kiandra, saya udah di depan stasiun. Kamu bisa lihat mobil saya?"

Kontan Kiandra terkejut, lalu dia menoleh ke sekeliling. Benar saja. Di depan stasiun sudah terparkir mobil Theo. Tanpa pikir panjang, Kiandra lantas berjalan cepat dan masuk ke dalam mobil Theo.

"Bapak kok bisa ada di sini?" Tanya Kiandra setelah duduk di kursi penumpang sebelah kiri.

"Iya, saya jemput kamu. Dari tadi susah dapet driver, kan," jawab Theo kalem.

"Padahal nggak usah repot-repot loh, pak. Saya jadi nggak enak."

Tahu-tahu Theo mengelus rambut Kiandra yang agak basah terkena air hujan. "Rambut kamu basah."

Sepersekian detik Kiandra menahan napas. Tidak dapat berkutik karena Theo berada sedemikian dekat. Hingga akhirnya Theo mengerti lalu menegakkan kembali posisi tubuhnya.

"Maaf. Kalau gitu pake sabuk pengaman. Kita berangkat." Kemudian Theo berdeham guna menenangkan dirinya sendiri.

Akibat hal ini, membuat Kiandra teringat percakapannya dengan Sandi kemarin. Rasa penasaran benar-benar menguasai diri Kiandra sekarang.

Namun, belum sempat Kiandra mengajukan pertanyaan, Theo telah lebih dulu menyela.

"Kamu mau nggak makan malam sama saya hari ini?"

Kelopak mata Kiandra mengerjap karena permintaan Theo yang mendadak seperti itu.

***

Siang itu Kiandra menyempatkan datang ke makam Fabian sendirian. Bersimpuh di sisi makam, Kiandra menyentuh nisan yang bertuliskan nama Fabian Arkhan Ananta. Kiandra menatap nisan itu dengan sorot penuh kerinduan. Lalu diletakkannya buket bunga berwarna putih di atas pusara makam.

"Kak, aku kangen. Apa kita bisa ketemu lagi ya?" Ujar Kiandra. Dadanya terasa sesak tiap kali datang ke makam Fabian. "Pak Theo ngajak aku kencan. Kemarin aku terima ajakan makan malam pak Theo, tapi aku masih anggap hanya sebagai rekan kerja. Aku bingung jawab apa. Kamu maunya aku respon pak Theo gimana?"

Kiandra menidurkan kepalanya di sisi nisan seraya satu tangannya terulur memeluk nisan Fabian. Kedua mata Kiandra terpejam. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Seolah masih dapat menghirup wangi parfum cowok itu.

BACK TO YOUR TIME [TERBIT✔️]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang