BAB 21: Bunga Tidur

49 4 0
                                        

Jalanan Jakarta di pagi menjelang siang itu sudah lumayan lengang. Motor yang dikendarai Fabian sesekali berhenti di lampu merah. Kiandra yang duduk di belakang terus bertanya pada Fabian tujuan mereka pergi.

"Aku mau ajak kamu keliling kota Jakarta, Ki," jawab Fabian tatkala lagi-lagi motor mereka berhenti di lampu merah. "Bilang ya kalau kamu capek."

Kiandra melingkarkan kedua tangan di pinggang Fabian. "Aku nggak akan capek karena jalannya sama kamu. Makasih juga buat sepatunya ya, Kak."

"Sepatu?" Fabian terkesiap lalu melihat Kiandra dari kaca spion motor.

"Iya, sepatu hadiah dari kamu. Ini lagi aku pakai." Kiandra menunjukkan sepatu yang ia kenakan itu dengan agak menaikkan sedikit kaki kanannya.

Alih-alih menyahuti perkataan Kiandra, pria itu diam saja. Fabian kembali melajukan motor ketika lampu lalu lintas sudah berganti hijau. Dia hanya tersenyum getir saat Kiandra mengucapkan terima kasih untuk kado yang sama sekali bukan pemberiannya.

Pasalnya Fabian juga ingin memberikan kado yang sama. Kado yang telah dia persiapkan dari jauh hari. Yaitu flat shoes yang biasa gadis itu suka kenakan. Bahkan sepatu yang Kiandra kenakan sangat mirip dengan kado yang ingin dia berikan.

Sayangnya belum sempat Fabian memberikan hadiah pada Kiandra, gadis itu sudah mengenakan flat shoes yang sama persis dengan kadonya. Lantas siapa yang telah lebih dulu memberikan hadiah untuk Kiandra?

***

"Kak, kok kamu diam aja sih?" Tanya Kiandra usai turun dari motor.

Masih duduk di atas motor, Fabian melepaskan helm Kiandra. Selanjutnya cowok itu turun dari motor usai mematikan mesin motor dan menyetandarkannya. Fabian memastikan kedua helm di motor itu tidak terjatuh di stang.

"Kak, kamu denger aku nggak sih?" Lama-lama Kiandra jadi gemas sendiri lantaran Fabian masih terus bergeming.

"Yuk, masuk. Kamu dari tadi udah haus, kan?" Fabian meraih telapak tangan Kiandra, merangkum tangan gadis itu lalu mengajaknya masuk ke sebuah kafe.

"Caramel Macchiato dua, croissant cokelatnya dua." Fabian memesan menu pada pelayan kafe tanpa bertanya dulu pada Kiandra.

"Kayaknya aku belum pernah kasih tau kopi favorit aku deh," ucap Kiandra bingung.

"Aku udah tau semua tentang kamu, Ki," balas Fabian seraya mengacak rambut Kiandra usai membayar pesanan di kasir.

"Terus dari mana kamu tau?" Tanya Kiandra sembari mengekori Fabian yang berjalan menuju tempat duduk kosong di samping jendela.

"Ada deh." Kemudian Fabian menepuk tempat duduk kosong untuk Kiandra. "Duduk sini Ki sambil nunggu pesanan datang."

"Cih, curang. Gitu ya mainnya rahasia-rahasiaan. Cukup tau," cibir Kiandra.

Sontak saja sikap Kiandra mengundang kekehan Fabian. Menurutnya Kiandra sangatlah lucu ketika merajuk seperti itu. Untuk pertama kalinya Fabian mendapati sikap kekanakan Kiandra.

"Jujur aku seneng banget bisa ketemu kamu di tahun ini. Rasanya kayak mimpi. Bisa jalan bareng sama kamu, ketemu kamu di usia dewasa, menjalani kehidupan sebagai orang dewasa. Apalagi sekarang teknologi udah serba canggih, nggak kayak dulu," cerita Fabian sambil pandangannya menerawang.

"Aku juga bahagia kak bisa ketemu kamu lagi di tahun 2024 ini. Dari sini aku belajar bahwa perjalanan waktu yang diberikan Tuhan kemarin buat aku itu bukan tanpa alasan. Kekuatan cinta kita yang mengalahkan segalanya." Kiandra menyentuh punggung tangan Fabian di atas meja.

BACK TO YOUR TIME [TERBIT✔️]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang