"Saya bermaksud untuk melamar putri bapak, Akila Syafa." Galen menatap ayah dari gadis pilihannya dengan yakin.
Akila menatap Galen tidak percaya, sampai tanpa sadar mulutnya terbuka.
Hal yang sama juga terjadi pada Manda, Karen dan Lala. Merasa telinga mereka bermasalah.
"Nak, kamu tau sendiri kalau Akila sudah ada yang nembung." Papa mengingatkan.
"Iya, saya tau, pak." Galen tersenyum, lalu matanya bergulir pada sosok Akila yang masih dengan wajah syok. "Sepertinya Akila menolak untuk berkenalan dengan orang itu."
Terlihat kilatan marah dari mata papa, matanya menyorot tajam pada pemuda di depannya. Napasnya sedikit memburu.
"Jangan sok tau kamu!"
Mama menegur suaminya pelan, mengusap-usap lengan papa.
Akila akhirnya buka suara, "pa, Akila emang menolak tawaran papa. Aku nggak mau," Akila menundukkan kepalanya. "Aku nggak mau, pa, ma. Kata mama keputusan di tangan aku, tapi kenapa kesannya kalian maksa Akila buat menerimanya!" Cewek itu sedikit meninggikan suaranya.
"Akila!" peringat papa.
"Sayang," mama memeluk anaknya, beliau merasa bersalah.
Tiga orang yang masih mengintip di balik tembok, menatap Akila dengan sendu. Apalagi saat suara isakan lolos dari mulut teman mereka.
"Akila," panggil Galen dengan lembut. Senyum teduhnya dia berikan saat sang empu nama menatapnya.
Papa melihat bahwa anak gadisnya menaruh hati pada pemuda di depannya. Pria paruh baya itu juga merasa bersalah pada Akila.
Selama ini dialah yang menyetir hidup anaknya. Papa menghembuskan nafas berat.
"Saya serahkan jawaban pada Akila," kata papa.
Mama tersenyum dan mengangguk, tangannya masih mengelus rambut Akila. "Sayang, sekarang mama nggak akan memaksa kamu lagi."
Akila menatap papa takut-takut, membuat hati pria paruh baya itu tercubit. Apakah dia sejahat itu, sampai anaknya takut padanya?
"Maafin papa, sayang. Sekarang keputusan ada di kamu," ujar papa sembari tersenyum.
"Ma," lirih Akila saat menatap wanita yang telah melahirkannya.
Mama kembali memeluk anaknya. "Iya, sayang." Senyum mama belum luntur. Wanita itu juga berbisik, "mama juga minta maaf."
Setelahnya pelukan itu terurai. Sebuah senyum cantik terbit di wajah Akila, mengangguk---menerima permintaan maaf kedua orang tuanya.
"Lega gue," kata Karen. Mendudukkan diri di lantai, punggungnya menyandar di tembok.
Manda mengangguk sembari menyeka air matanya.
"Kita berdoa yang terbaik buat, lo, Kila." Lala ikut tersenyum melihat senyuman Akila.
"Galen, kenapa kamu lamar aku?" tanya Akila sambil menunduk.
"Biar pas wisuda kamu ada gandengan." Jawaban Galen agak laen.
Akila menatap Galen dengan pandangan tak percaya. Tak berselang lama, alisnya terangkat satu saat pemuda itu tertawa.
Apanya yang lucu?!
"Kamu. Kamu yang lucu," kata Galen, masih tertawa geli.
Dua orang paruh baya di sana ikut terkekeh melihat interaksi Akila dan Galen.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE HALF
De TodoKumpulan short story tentang dua kelinci kesayangan <3 Hanya menyalurkan kegabutan:"
