Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bagian Delapan.

25 4 0
                                        

Sabtu pagi yang cerah, dan tidak ada satupun kegiatan yang bisa di lakukan–karna tidak ada satupun dari enam gadis yang punya kelas pagi–namun, berkat celetukan Lavanya yang mengajak jogging, kini mereka berada di taman komplek

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sabtu pagi yang cerah, dan tidak ada satupun kegiatan yang bisa di lakukan–karna tidak ada satupun dari enam gadis yang punya kelas pagi–namun, berkat celetukan Lavanya yang mengajak jogging, kini mereka berada di taman komplek.

Sejujurnya mereka jarang sekali menjelajahi tempat mereka tinggal, maklum lah, namanya juga anak muda yang sibuk memperjuangkan masa depan, terkadang jika ada waktu luang pun mereka hanya ke supermarket untuk belanja bulanan, atau sekedar berdiam diri di rumah guna mengisi energi.

Jadi agak seperti orang kampungan ketika keluar dari kandang.

Sembari mengelap keringat yang membahasi wajah dan leher, Arneyva berujar. "Ternyata banyak cogan, ya. Kalau gue tebar pesona mereka bakal tertarik gak kira-kira?" maka dengan senang hati Kasyaira melemparkan tumblr miliknya. "Tertarik enggak, gumoh iya. Gak usah banyak gaya, kuliah dulu yang bener."

"Yaudah gue mau memperjuangkan Kak Mahen aja, lah, HAHAHA SIAP MENGEJARMU KAK."

Anasera merotasikan bola mata malas. "Ini bisa searching gak sih? 'Cara menghilangkan Neyva yang membandel' Searchingin coba, Sha." Titahnya pada Tavisha yang langsung di turuti gadis itu. "Duh, ini mah gak bisa, udah kena Lcd nya, Ra. Pake rinso juga gak bakal ilang."

"Gue bukan kuman, anjeng!"

Kaylasha berdecak. "Berisik ah, panas banget, nyari eskrim kuy." Ujarnya kemudian menarik lengan Lavanya. "Bayarin ya, puh."

Vanya mendengus. "Lo yang ngajak kok gue yang bayar, anjrit?"

Sera merangkul yang lebih tua dan lebih pendek itu. "Sekali-sekali Van, kita juga gak bakal beli satu gerobaknya–tapi kalo lo mampu bayarin, ya, gas lah! Ya kali enggak, ya gak kawan-kawan?" dan mendapat setuju dari yang lain.

Lavanya melotot. "BONCOS DONG GUE?! Nggak, udah beli satu orang satu aja–tuh ada tukang eskrim noh di depan."

"MELUNCUR!" seru Neyva sambil berlari, baru beberapa langkah, ia melongok ke belakang. "CEPETAN, LAGI PADA NAHAN EEK, YA?!" sontak tingkahnya tersebut membuat beberapa orang melihat gadis itu dengan tatapan aneh, kemudian beralih menatap kelima gadis lainnya yang kini menutup wajah malu.

Tavisha memberikan senyum paling manis sambil menggeleng yakin. "Kita nggak kenal sama dia, kok." Kayla pun mengangguk. "Iya, kita kesini cuman berlima."

"Pulang-pulang kita iket aja bareng-bareng apa gimana?" usul Aira.

"Gas!"

Setelahnya usai membuat Vanya membayar eskrim, mereka memilih mencari tempat duduk, sementara itu Kasyaira berpencar ingin mencari makanan lain.

"Gue keliling dulu bentar ya." Pamitnya lalu di angguki yang lain.

Kaki si gadis perlahan melangkah menjauh, tiba-tiba ia ingin makan bakso bakar, netranya menelisik sekitar kemudian bergumam sedih. "Tempat sebagus ini seru kali ya buat pacaran, tapi sayang, gue gak punya gandengan." Terkadang serandom itu memang untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting-penting sekali juga.

home, est 2018.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang