Nahhh mari merapat wahai para Readers tercinta kita lanjutin menghalunya 📩📩
.
.
.
HAPPY READING
Perdebatan antara dua sahabat itu, selesai. Dan dimenangkan oleh kafka, Awan tidak mati kutu atau kehabisan kata-kata. Hanya saja, awan takut nanti malah menyinggung perasaan Kafka.
"Ck, ngapain bahas keluarga lo? Gue lagi bahas hanan yang semena-mena, nilai lo!" Ucap awan mengalihkan topik masalah keluarga, Awan tidak bermaksud mengalihkan topik atau tidak mau mendengar keluh kesah Kafka, Awan hanya tidak ingin membuat Kafka, berlarut dalam kesedihan terlalu dalam. Awan hanya ingin Kafka bahagia!
"Wan! Gue bilang udah ya udah, emang fakta mau di benerin kaya gimana juga ya tetep! Kalo faktanya emang gitu, mau digimanain lagi!?" Kafka meninggikan nada bicaranya, ia mulai jengah dengan Awan yang sangat keras kepala.
Mereka berdua diam tak bergeming, hanya ada suara anak-anak kelas yang ribut tidak jelas. Awan juga sudah lelah berdebat dengan Kafka, mereka ini sama-sama keras kepala, mungkin jika di pertemukan sebagai musuh disebuah sidang, akan lebih rumit masalahnya.
Tapi jangan sampai mereka bermusuhan beneran juga "Abis pulang sekolah, balik ke rumah gue. Papah mau ketemu lo, sekalian makan bareng." Kafka mengangguk antusias sambil tersenyum menyetujui ajakan awan, dirinya juga sangat merindukan papah dari sahabatnya itu.
"Yes, makan gratis." riang nya sambil meninju langit-langit
"Makan gratis mulu, pikiran lo."
"Suka-suka gue, lagian sayang make duit bonyok, mending di tabung. Biar mereka gak usah kerja jauh-jauh dari gue."
.
.
.
Terdengar suara dentuman alat makan yang sedang beradu mengisi keheningan di atas meja makan, Kafka sedang makan gratis di rumah Awan, tentu ini hal biasa bagi Awan dan sang papah. Jangan tanya bagaimana dengan mamah Awan! Karna mamahnya telah berpulang sejak ia masih berumur lima belas bulan, Awan dan Kafka memang kurang beruntung soal keluarga, tapi tidak dengan pertemanan. Awan dan Kafka selalu melengkapi satu sama lain.
"Kafka, Awan. Gimana sekolah kalian?" Tanya papah Awan, Galih namanya. Meski Awan tidak sempat merasakan kasih sayang dari mamahnya, tapi ia bersyukur memiliki papah Galih. Yang begitu menyayanginya dan Kafka tentunya.
Menurut Awan, gak ada yang lebih indah dari kasih sayang papah Galih untuknya, "Kafka, oke-oke aja." Jawab Kafka santai
"Bohong!" Sentak Awan, Awan sepertinya sedang PMS, dari tadi bawaannya sendu mulu. Sementara Galih mengangkat satu alis bingung, menatap due remaja laki-laki dihadapannya secara bergantian "Maksud kamu wan? Kafka ada masalah di sekolah, nak?"
Awan mengangguk ribut, papah Galih harus tau, Kafka selalu dijelek-jelekkan oleh Hanan si anak kepala sekolah itu! "Papah tau Hanan?! Anak kepala sekolah itu?" Galih mengangguk mencoba menebak ke arah mana anaknya ini membawa pembicaraan
"Dia, selalu ngejelekin kafka, pah. Tapi Kafka selalu diem aja!" Kafka hanya bisa menatap Awan sengit, dasar pengadu! Batin Kafka
"Bukan gitu, yang diucapin Hanan itu bener. Awannya aja yang sensian, kan emang Kafka langganan BK"
Galih menghela nafas panjang, dan kembali menatap Kafka dalam-dalam "Gini, nak. Kafka pas kasus yang kemarin udah janji, sama orang tua Kafka, buat gak ngelakuin kesalahan lagi di sekolah, kenapa Kafka masih ngelakuin? Kafka gak kasihan sama orang tua kafka, Kafka pasti bisa berubah, papah yakin" nasihat Galih memang selalu menyadarkan kafka, tapi mau bagaimana? Kafka juga ingin berhenti, kalian pasti tau rasa susahnya ngerubah sikap di diri sendiri yang udah lama tertanam, di jiwa kita kan? Itu juga hal yang dirasakan oleh Kafka.
"Pah! Kenapa nyalahin Kafka? Dan kenapa juga Kafka harus mikirin orangtuanya." Suasana di meja makan serasa mendingin, bukan bukan karna cuaca ataupun apa, tapi rasanya seperti ada hawa yang berubah.
"Awan! Jangan kamu buat Kafka, membenci orangtuanya sendiri." Tidak perlu di ucapkan Galih tentu paham apa yang di maksud anak semata wayangnya, pasti Awan berfikir, orang tua kafka saja tidak peduli dengan kafka. Kenapa kafka harus peduli?
"Kafka dengerin papah, nak. Gak ada orang tua yang mau ninggalin anaknya sendiri, keculi demi kebaikan kamu sendiri, Ayah sama ibu Kafka pergi bekerja jauh dari Kafka, bukan berarti mereka tidak sayang kamu. Justru mereka mau kehidupan yang kayak buat kamu, paham maksud papah kan, kaf?" Kafka mengangguk kecil dan tersenyum tulus.
"Paham kok pah, Kafka bisa kok, hidup mandiri disini. Tapi Kafka juga pengen kaya yang lain" jujur saja, kafka benar-benar di buat iri oleh teman-teman sebayanya, mereka bisa merasakan kehangatan keluarga, tinggal bersama keluarga, makan dan segala kebutuhan disediakan, ya memang ibu dan ayahnya selalu memberikan ia uang bulanan, tapi tetap saja, uang bukan segalanya.
"Kafka.... Kafka masih ada papah, yang siap jadi papah kedua buat Kafka, tapi kalo ibu? Gak bisa masa iya om harus nikah lagi hahaha." Suara tertawa bariton milik papah Galih keluar, sungguh sangat menyeramkan.
"Jangan becanda pah, ini lagi sad momen!" Ujar Awan, dan merotasi matanya malas, bapak-bapak ini memang tidak tau sikon.
"Ye, ya biar gak, jadi mewek kafkanya, tuh liat." Galih menunjuk Kafka yang sedang meratapi ke freak-kan papah Galih, tidak jadi dia meratapi nasibnya, papah Galih benar-benar bapak-bapak sejati
.
.
.
Bapak-bapak kalo ngelawak kaya gimana sih? Sumpah banyak banget motifnya, oyaa jangan lupa vote dan komen ya gaysssss lopyu syg kalian ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir [On Going]
Teen FictionMemiliki keluarga yang utuh, adalah impian semua anak. Namun, apakah setiap yang utuh akan selalu teguh? Keluargaku memang utuh. Namun, sudah runtuh. Lantas mengapa aku harus ada di bumi ini? Jika hanya untuk, melihat kehancuran diri sendiri *SEGERA...
![Garis Takdir [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/368023106-64-k280904.jpg)