apa kabar gesss i'm kombekkk aduh udah mulai kepincut bikin cerita lain aku, memang otak ini gila. Gak bisa lanjutin naskah malah bikin naskah baru, tapi tenang aku bakal usaha selesain dulu! Plis semoga selesai.
.
.
.
-HAPPY READING-
Abisma telah selesai dengan tugasnya hari ini, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Dia mengendarai mobilnya dengan santai, menikmati indahnya kota ini dimalam hari. Banyak gemerlap bintang di atas sana, menghiasi langit biru kehitaman itu.
Mobilnya sudah memasuki wilayah kompleknya, banyak juga pedagang angkringan disepanjang jalan memasuki komplek, tak ayal kompleknya ini sangat begi terkenal, dan banyak digemari seluruh umat.
Abisma memasukan mobilnya kedalam garasi, membawa tubuhnya untuk memasuki rumah. Akan tetapi, ada yang aneh dari rumah Kafka. Bukankah anak itu sedang pergi? Mengapa lampu rumahnya menyala? Apakah ada maling? Ah tidak mungkin, maling mana mungkin menyalakan lampu? Tapu juga, mungkin saja.
Dia memutuskan memeriksa rumah Kafka, bentuk dari tanggung jawabnya, Karna dititipkan rumah oleh Kafka. Langkahnya mengendap-endap, mencari sosok yang mungkin saja itu maling? Hingga langkahnya berhenti di sebuah kamar, Abisma membuka kamar itu sedikit memaksa. Dan benar disana ada seseorang tapi Abisma tidak yakin itu siapa, Karna disini tidak ada lampu yang menyala.
"Heh, siapa kamu!?" Orang yang posisinya membungkungi Abisma menoleh terkejut, lalu dia berlari sedikit tergesah ke arah Abisma. Memeluknya erat-erat, Abisma yang mulai menyadari siapa orang tersebut mulai membalas pelukannya. Hampir saja tadi dia ingin menonjok orang yang tiba-tiba memeluknya mendadak, huh untung saja.
"Kok, kamu sudah pulang? Bagaimana? Sudah bertemu dengan ayahmu?" Tanya Abisma sambil mengelus punggung Kafka yang sedikit bergetar, kenapa dengan anak ini? Pertanyaan itu muncul dibenak Abisma.
Beberapa menit mereka berdua, berdiri di ambang pintu. Abisma mengajak Kafka untuk duduk di kasur, mungkin Abisma akan menyerang banyak pertanyaan jika bocah ini sudah tenang.
"Ayah, sama ibu udah cerai, ternyata om." Ujar Kafka dengan tatapan penuh dengan rasa kecewa. Abisma sedikit prihatin, mengingat salah satu impian Kafka adalah menyatukan kembali hubungan harmonis keluarganya.
Flesbeck on
"Jadi? Ibu sama ayah, udah punya keluarga masing-masing?" Entah bagaimana selanjutnya, hatinya begitu sakit. Kenyataan yang datang begitu sakit, dia pikir ayahnya mengkhianati ibunya, tapi mereka berdua lah yang mengkhianati Kafka.
"Yah, sepeti yang kamu lihat. Ibu kamu juga sudah memiliki anak dari pria itu!"
"Kenapa gak dari awal ayah sama ibu kasih tau Kafka? Kenapa harus, setelah sekian lama baru Kafka tau. Bahkan mungkin kalo Kafka gak kesini, sampai kapanpun Kafka gak bakal tau!" Kafka menaikan intonasi nadanya lebih tinggi.
"Karna, kami masih menjaga perasaan kamu! Kafka. Kami tau kami salah, maka dari itu kami sembunyiin!" Bentak Hendra nyaring
"Sudah mas, jangan terbawa emosi." Ucap sang istri menenangkan
"Diam anda, anda tidak perlu ikut campur urusan saya dan ayah saya! Anda hanya orang baru disini" ucap Kafka emosi, air matanya terus mengalir di setiap kalimat yang dia ucapkan
Bugh....
Hendra memukul anaknya hingga tersungkur "jaga bicara kamu dengan orang yang lebih dewasa! Seperti tidak pernah di ajari saja" bentak Hendra setelah memukul anaknya, Kafka kembali berdiri
"Memangnya anda dan mantan istri anda pernah mengajarkan saya arti sebuah etitude? Bicara anda terlalu besar tuan Hendra!" Kafka hendak pergi meninggalkan rumah Hendra tapi sebelum dia keluar rumah, Hendra meneriakinya.
"Mau kemana kamu hah?!"
"Pulang! Mencari sosok yang bisa menerima saya! Karna ibu dan ayah saya tidak akan kembali bersama saya.... "
Flesbeck off
Kafka menceritakan semua kejadian yang terjadi, di rumah ayahnya. Menangis pun sudah tidak berguna, tidak ada lagi yang akan kembali. Semuanya sudah runtuh bersama harapannya, sekarang hanya tinggal dia seorang, ayah dan ibunya masih ada di dunia ini, tapi Kafka tetap sendiri.
"Jadi, sekarang kamu mau melakukan apa? Setelah tau kenyataan ini?" Tanya Abisma
Kafka mengedikan bahunya acuh, "gak tau, tadi juga Kafka ditelpon ibu. Ibu minta maaf sama Kafka, tapi menurut Kafka, semuanya udah terjadi. Jadi, gak ada yang perlu minta maaf."
"Kamu membenci orang tua kamu?" Sebuah pertanyaan kembali dilayangkan oleh Abisma
"Enggak, enggak sama sekali om. Kafka cuma sedikit kecewa, nanti juga sembuh sendiri. Mana bisa Kafka benci mereka, mereka bagian hidup Kafka." Abisma mengusak rambut Kafka pelan.
"Kamu anak baik Kafka, om yakin tuhan sudah menyiapkan takdir terbaik untuk kamu. Percaya sama saya, setelah badai pasti akan datang pelangi."
"Tapi, setelah Kafka tau ayah sama ibu udah punya kehidupan masing-masing. Kafka gak yakin bakal dapet takdir yang lebih baik lagi?"
"Kafka, seorang guru saja menciptakan pertanyaan dengan adanya jawaban. Apalagi Tuhan pencipta alam semesta ini, Tuhan menciptakan masalah pasti dengan jalan keluarnya. Percaya, Tuhan itu gak tidur Kafka."
Kafka mengangguk, tapi bertolak belakang dengan pikirannya. Entahlah, mungkin Kafka hanya membutuhkan waktu untuk mendinginkan pikirannya.
"Menurut om, papah Galih udah tau soal ini? Soalnya kemarin pas Kafka minta, alamat ayah, papah Galih susah banget dimintanya?"
"Saya gak tau Kafka, lebih baik kamu tanyakan saja langsung."
Drrrtt.... Drrttt
Handphone Kafka berdering kencang, tak membuang waktu Kafka langsung saja menekan tombol angkat.
"Papah gak maksud, bohongin kamu Kafka."
"Jadi, papah udah tau?" Terdengar nada kecewa dari mulut Kafka
"Iya, papah tau. Jangan marah ya?"
"Hahaha, ternyata semuanya sama aja. Iya gak papa Kafka gak marah." Kafka mematikan sambungan telponnya sepihak.
Semua orang bajingan hari ini, semua tidak ada yang memihaknya. Semuanya tidak bisa Kafka percaya!
.
.
.
Apasih anjrit gue nulis apa?! Taik lah udah dadah!
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir [On Going]
Подростковая литератураMemiliki keluarga yang utuh, adalah impian semua anak. Namun, apakah setiap yang utuh akan selalu teguh? Keluargaku memang utuh. Namun, sudah runtuh. Lantas mengapa aku harus ada di bumi ini? Jika hanya untuk, melihat kehancuran diri sendiri *SEGERA...
![Garis Takdir [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/368023106-64-k280904.jpg)