Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

17. SAKIT PART KESEKSIAN

299 13 5
                                        

Haiii? Welcome to my karyaaaaa. Sudah lama aku ngebugg, aku pengen ngejar mimpi aku jadi ku paksa meski ngestak.

.
.
.

-HAPPY READING-

Malam ini terasa lebih sunyi dari hari-hari biasanya, sudah terlalu banyak kejadian dalam satu waktu. Kafka memutuskan untuk pulang kerumahnya, lagi pula Salma masih trauma melihat laki-laki. Jadi dia pikir akan memperburuk kondisi Salma, jika terus berada disana.

Kafka membuka pintu utama rumahnya, tapi aneh? Kenapa lampunya sudah menyala? Apakah Abisma yang menyalakan? Ngomong-ngomong Abisma Kafka belum bertemu dengan dia sejak satu pekan yang lalu kemana orang itu? Mungkin bertugas diluar kota?

Setelah pintu terbuka sempurna, mata Kafka menangkap sesuatu yang tak pernah ingin dia lihat lagi. Kafka menghembuskan nafas panjang, akan ada drama apa lagi ini?

"Masih inget pulang kamu?" Ujar ayahnya sambil menatap dirinya nyalang. Kafka terkekeh sinis, gak salah?

"Seharusnya pertanyaan itu, diajukan untuk kalian berdua. Masih inget pulang? Masih inget punya anak disini? Gak usah balik lah, kalo ujungnya ngajak ribut. Capek, tau gak." Hendra bangkit dari duduknya, menunjuk dada Kafka dengan penuh tenaga.

"Jaga bicara kamu, kaya gak pernah di ajarin sopan santun aja!" Selain ada Hendra dirumahnya, ada juga ibunya dan suami baru ibunya. Oh ya tak lupa juga ada ibu tirinya disini, lengkap ya? Banyak ortunya ada 4 awok awok.

"Lah? Emang anda ngerasa ngajarin? Enggak kan? Udahlah, Kafka Capek!"

Plak.

"Kalo bukan demi nama baik perusahaan saya, saya juga gak Sudi ketemu kamu lagi." Orang tua bajingan seperti apa lagi? Orang seperti apa lagi yang harus menjadi pelindungnya? WTF.

"Maksud kamu apa ngelecehin temen cewek kamu?! Brengsek banget kamu." Ibunya ikut berujar dari ujung sofa. Wait wait, maksud? Hah? Apa dia jadi kambing hitam atas perbuatan Hanan? Anjing!

"Lah kok jadi Kafka? Lawak lu dek, orang dia cewek Kafka! Kafka yang nolongin, Kafka yang bonyok masa Kafka pelakunya. Lagian dapet berita dari mana? Sosmed? Udah tua masih aja main sosmed." Gak papa lah, dia capek jadi anak yang patuh terus. Harapannya udah dipatahkan berkali-kali, maka harapan orangtuanya juga harus lebih patah dari dirinya.

"Kamu perlu bukti? Hah! Liat nih liat." Ayahnya memberikan foto ketika dirinya sedang mencoba menyadarkan Salma, ya memang sih posisinya agak ambigu tapi bego yang langsung nyimpulin Kafka pelakunya.

Belum sempat, Kafka membela diri. Ayahnya sudah membuka sabuk celananya, tebak tebak??? Yapsss, dengan egenya si Hendra gila nyambuk Kafka pake sabuk. Ih bego, mana gak ngelawan lagi.

Cetar.

Cetar.

Hanya suara itu yang mengisi dari keheningan malam, punggungnya sudah terasa perih kakinya sudah mati rasa. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali sabetan itu menghadiahi tubuhnya.

"Kafka, saya bawa oleh-oleh nih. Kamu mau ga--." Ucap Abisma terpotong, betapa terpaku nya dia melihat pemandangan dihadapannya. Sedari tadi matanya hanya fokus menatap handphone, Abisma berlari menghampiri Kafka yang terduduk penuh bercak darah yang menempel pada baju putihnya.

"Stop! Apa-apaan ini! Anda bisa saya laporkan ya karena menyakiti anak sendiri." Abisma membawa Kafka kedalam pelukannya, sepersekian detik tubuh Kafka melemas. Tidak! Kafka tidak pingsan, dia hanya menormalkan rasa sakit yang begitu menjalar ditubuhnya.

"Hei! Jangan ikut campur, ini masalah saya dengan anak saya kamu bukan siapa-siapa disini!" Abisma menepis tangan Hendra yang hendak menarik Kafka.

"Bahkan anda tidak pantas menyebutnya sebagai anak anda, tidak ada orang tua yang tega melakukan ini kepada anaknya."

"Dengar ya pak Hendra yang terhormat, anda dan mantan istri anda pergi meninggalkan Kafka bertahun-tahun, tidak perduli seberapa sulitnya hidup Kafka disini?!" Urat-urat lehernya sampai menonjol, dia bisa menormalkan segala perlakuan orang tua Kafka terhadap Kafka, tapi tidak dengan kekerasan! Bajingan mana yang main tangan sama anak sendiri?

"Jaga mulut busuk anda, saya menafkahi Kafka saya berikan semua yang dia butuhkan. Apa lagi yang kurang?!"

Tangan Kafka mengepal erat, dia lelah tuhan. Tolong bawa dia pulang, pulang ketempat yang damai.

"Kurang! Ayah pikir dengan ayah sama ibu ngasih materi ini itu buat Kafka, Kafka seneng? Iya? Gak yah, Bu. Kasih sayang yang seharusnya milik Kafka, sekarang udah milik anak lain?! Ayah sama ibu ngasih kasih sayang lebih buat anak tiri kalian, tapi kalian lupa kalo anak kandung kalian juga butuh semua itu!"

"Pernah gak kalian mikir, Kafka takut gak ya tinggal sendiri di rumah? Kafka makannya teratur gak ya? Kafka baik-baik aja gak ya disana? Pernah gak Bu, yah?!"

Kafka menangis meluapkan segala emosinya yang sudah lama dia tahan, menangis penuh makna semua orang boleh tau apapun tentangnya asalkan jangan kondisi keluarga. Menangis diperlukan Abisma sejadi-jadinya, posisi mereka terduduk dilantai yang dingin. Jujur saja tubuhnya bergetar hebat ketika mengutarakan isi hatinya, antara takut dan sedih. Sudah tidak bisa di deskripsikan lagi saat ini.

"Ya tapi, setidaknya kita masih menafkahi kamu! Jangan jadi anak durhaka ya kamu." Ibunya ikut berujar dari belakang sana, tak luput pula pemandangan pria yang sepertinya seusia dengan Kafka duduk apik di sebelah ibunya. Bukan kah itu seharusnya posisinya?

"Biar Kafka di sumpah serapah kan anak durhaka, Kafka gak peduli lagi Bu. Asal ibu sama ayah tau, Kafka hidup ya karena masih hidup. Tiap hari gak ada orang yang tau Kafka nangis, tiap hari Kafka pura-pura baik-baik aja, bahkan disaat Kafka denger ayah sama ibu cerai dan udah nikah lagi Kafka tetep pura-pura baik-baik aja. Buat apa Kafka hidup kalo cuma buat ngeliat kehancuran diri sendiri?"

"Jangan ngerasa paling tersakiti, hidup masih tanggungan orang tua aja sok-sokan kamu." Bahkan sesulit itu untuk mengucapkan kata maaf? Hanya satu kata, apa semua orang tua selalu merasa benar? Bahkan disaat anaknya terluka, karena ulahnya?

"Iya Bu iya! Ayah sama ibu selalu ngasih uang buat Kafka, tapi asal ibu tau uang dari ibu sama ayah gak pernah Kafka pake sepeser pun! Kafka cari uang sendiri buat makan, kalian perlu bukti?!" Kafka susah payah mengambil ponselnya dari saku, mengotak-atik salah satu aplikasi. Setelah berhasil dia menyodorkan ponselnya, disana tertera saldo yang memang tak pernah Kafka keluarkan.

Tak ada satupun notifikasi pengeluaran uang disana. Semua orang terdiam disana, hanya ada suara sesenggukan yang diciptakan oleh Kafka.

"Om, Kafka nginep dirumah om ya?" Abisma mengangguk mantap, tanpa diminta pun Abisma akan membawa Kafka kerumahnya.

"Bisa jalan sendiri?"

"Bisa, om. Kafka pergi dulu, harapan Kafka emang kita bisa kumpul lagi dirumah ini. Tapi bukan ada anggota baru kaya gini, nikmatin aja hari-hari kalian disini. Dan satu lagi, yang ngelecehin Salma bukan Kafka. Terserah kalian mau percaya apa enggak Kafka gak perduli."

.
.
.

Makasih yang udah support aku buat tetep up, disaat iman aku goyang buat berhenti nulis. Makasih banyak ya sayangggg

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Garis Takdir [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang