Waduh, malam Jum'at nih btw, woiiiii jangan pelit vote lu, komen juga dong, eh follow akun ini juga lahhhhh
.
.
.
HAPPY READING
Beberapa hari telah berlalu, semenjak hari dimana kafka bertemu dengan Abisma. Kafka merasa om Abisma selalu ada jika dia membutuhkan bantuan, tapi tetap saja, kafka hanya menganggap om Abisma orang asing. Bukankah memang hanya orang asing saja?
Hari ini Kafka, bangun sedikit terlambat dari hari biasanya. Tentu saja ia akan terlambat ke sekolah, tapi lihatlah Kafka sekarang, bukannya terburu-buru berangkat sekolah agar tidak makin terlambat, dia malah santai-santai saja sambil memakai kaos kakinya di teras.
Memang tidak ada kapok-kapoknya dia dihukum, mungkin menurutnya hukuman sudah menjadi makanan sehari-hari, sepertinya kalau tidak mendapat hukuman sehari saja, Kafka akan sakit.
Kafka sudah sampai di gerbang belakang sekolah, celingak-celinguk memastikan apakah ada manusia lain disini? Begini-begini takut ketahuan juga ya! Kafka membuka gerbang tersebut dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara sedikit pun,
"Tumben banget gak ada wakil Osis, yaudahlah berarti hari ini ga bakal kena hukuman, yes." Kafka memekik girang, karena biasanya pasti ada saja, osis-osis yang berlalu lalang melihat keadaan sekolah. Mungkin mereka sedang rapat pikir Kafka.
"Siapa bilang, Lo bakal ga dapet hukuman, huh." Ujar seseorang dari belakang Kafka, orang itu menyilangkan kedua tangannya didepan dada, menatap sengit kearah Kafka.
"Lo tuh kenapa sih, nambah-nambah pekerjaan gue mulu, capek tau ga!" Ujarnya sengit, sementara Kafka hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia Salma Silvana Veronika yang menjabat sebagai wakil ketua osis, sebenarnya Salma juga teman Kafka dan Awan sejak mereka menduduki bangku SMP, jadi Salma paham betul seluk-beluk dari kedua temannya itu. Apalagi perihal Kafka.
"Yaudah"
"Yaudah apa?!" Salma makin tersulut emosi, mendengar jawaban Kafka, enak banget dia bilang yaudah mau dia gampar rasanya.
"Yaudah, jangan hukum gue" ucapnya sambil tersenyum seperti orang bodoh.
"Enak aja! Lo kapan sih mau jera kaf! Ikut gue sekarang" setelah mengucapkan itu, Salma pergi terlebih dahulu meninggalkan Kafka.
"Sal, gue belum makan loh" ujarnya memelas, siapa tau Salma mau melepasnya.
"Suruh siapa telat?!"
Aishhh sudahlah dipastikan dia tidak akan lolos dari Salma, hhhhhhh.
.
.
.
Kafka sudah selesai membersihkan seluruh WC laki-laki di sekolahnya ini, sungguh jorok! Bagaimana bisa sekolah se elite ini penjaga sekolah tidak pernah membersihkannya, pemakan gajih buta.
Kafka baru menyelesaikannya saat jam istirahat tiba, sungguh penyiksaan. Kafka sudah menceritakan semuanya pada Awan perihal ia dihukum dan berakhir baru memasuki kelas pada jam istirahat.
"Nih" ujar Salma memberikan sebuah kotak bekal makanan untuk Kafka.
"Lo belum makan kan? Nih, makan bekel gue aja, tadi gue abis di traktir Rizal makan bareng, soalnya kata dia gua udah jadi best partner." Terdengar seperti menyombongkan diri untuk Awan dan Kafka.
"Iya deh, sipaling ketos dan waketos terdebest yang suka ngehukum gue." Ucap Kafka sambil menerima kotak bekal dari Salma.
"Gue gak dikasih Sal?" Tanya Awan menunjukan wajah sedih yang dibuat-buat oleh nya.
"Gak! Gue masih marah ya sama Lo Wan! Mana yang kata Lo, mau ngasih gue coklat kalo gue udah bantu Lo? Huh, udah gue bantu Deket sama dia malah ga lukasih." Salma memutar bola matanya malas, sementara Awan hanya cengengesan, benar juga yang dibilang Salma. Awan berjanji jika dia sudah dekat dengan teman Salma, dia akan memberikan beberapa cemilan kesukaan Salma. Namun, bagaikan kacang lupa kulitnya, Awan benar-benar tidak menepati janjinya sama sekali.
"Hehe, oke-oke nanti gue jajanin. Balik sekolah deh janji." Ucapnya sambil menunjukan jari kelingkingnya kehadapan Salma.
"Janji ya! Awas kalo ga jadi lagi, gue aduin papa galih pokoknya!" Heyyyy Cepu sekali anak satu ini, Awan mengangguk yakin. Ya dia tidak akan bohong kali ini, tak apa rugi sedikit, yang penting pujaan hatinya telah dia dapatkan.
Sementara Kafka hanya sibuk memakan, makanannya. Dia bukan tidak peduli atau tidak tertarik dengan topik pembahasan Awan dan Salma. Justru dia sangat teramat ingin tau alias kepo, siapa cewek yang dimaksud Salma apakah seangkatan dengan nya dan Awan, atau adek kelas?
"Nasya, sukanya ap--"
Uhuk, uhuk
Salma menepuk punggung Kafka pelan, dan menyodorkan air mineral, yang tadi sengaja ia beli dafi kantin. "M-maksud Lo, Nasya Marcella Zalianty? Anak IPS 2!?" Awan mengangguk santai.
"Iya, kenapa emang?" Kafka seperti sedang menahan tawa agar tidak pecah, sungguh pemandangan itu membuat Awan sedikit kesal, apa yang lucu, ujar Awan membatin.
"Sal, jangan bilang, Nasya matanya mulai minus? Bisa-bisanya, si most wanted suka sama monyet liar kaya dia, BWAHAHAHAHA" tawa Salma juga ikut pecah, benar juga, bisa-bisanya Nasya tertarik dengan monyet liar.
"Sialan kalian berdua! Sembarangan ngatain gue monyet liar! Muka ganteng kaya gini juga. Cewek mana yang ga tertarik sama gue?" Ujar Awan penuh percaya diri dan menepuk dadanya bangga.
"Gue!" Ujar Salma Blak blakan, sumpah Awan rasanya ingin melempar kedua temannya ini, kenapa mereka selalu mengucilkan dirinya, ingin menangis di pelukan Nasya saja rasanya.
Awan mengelus dadanya sabar, sabar Awan jangan buang mereka dulu, nanti kamu ga punya temen sebaik mereka berdua lagi.
"Yaudah." Ucap Awan sambil rolling eyes.
.
.
.
Halowww malam Jum'at kaya ini enaknya turuuu ya? Atau apa? Hahahahaha
See you next chapter gysss, aku mau turuu dadah muah eh jangan lupa vote, komen dannnnnnnn follow okai
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir [On Going]
Teen FictionMemiliki keluarga yang utuh, adalah impian semua anak. Namun, apakah setiap yang utuh akan selalu teguh? Keluargaku memang utuh. Namun, sudah runtuh. Lantas mengapa aku harus ada di bumi ini? Jika hanya untuk, melihat kehancuran diri sendiri *SEGERA...
![Garis Takdir [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/368023106-64-k280904.jpg)