Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

10. DIMASAKIN

109 8 0
                                        

HALO GAYSS AKU MAU KASIH INFO BUAT KALIANNNN! SEBELUM BACA!

Setelah dipikir-pikir judul cerita sama alur, agak gak nyambung :( jadiii aku mau ganti judulnya gayss jadi garis takdir, btw maap covernya aneh baru belajar bikin soalnya 😭😭🙏🙏

Oyaaaa jangan lupa VOTE KOMEN DAN FOLLOW YAAAAAA

.
.
.

-HAPPY READING-

Setelah melakukan, pemeriksaan, Kafka dinyatakan layak melakukan pendonoran. Dan tanpa ba-bi-bu lagi om Abisma mengambil dua kantuk darah Kafka, oh iya. Salma juga tadi didatangi masalah, kakeknya terkena serangan jantung. jadi Salma terpaksa meninggalkan Awan dan Kafka, Salma juga dijemput supir pribadi ayahnya.

"Kondisi pak Galih, berangsur membaik. Perkiraan saya, pak Galih akan sadar 2-3 jam ke depan." Ujar Abisma, sambil memasukan tangannya ke saku jas.

"Setelah ini, pak Galih akan dipindahkan keruang rawat inap, saya kembali ke ruangan saya dulu. Nanti kalo ada apa-apa panggil saya saja, kebetulan jaga malam." Kafka dan Awan mengangguk singkat, setelah mendapatkan jawaban Abisma langsung melenggang pergi meninggalkan UGD, belum pergi Abisma berpesan kepada beberapa perawat di sana untuk menjaga mereka bertiga.

Abisma, menduduki dirinya di ruangan yang didominan putih itu. Dirinya merasa sedikit flesbeck ke masa lalu, dulu istrinya paling takut jika dia berjaga malam di rumah sakit, karna istrinya sangat takut sendirian ketika malam hari. Katanya takut hantu, hahaha lucu sekali. Apakah sekarang dia masih sering merasa takut ketika malam datang?

Ah sudah lah, jangan mengingatnya terus, nanti matanya pipis. Memeriksa beberapa pasien lagi dan dia akan pulang, lagipula sebentar lagi teman pergantian sipnya akan datang.

Beberapa jam berlalu begitu cepat, Abisma kembali lagi ke ruangannya, merapihkan barangnya matanya melirik ke arah jam dinding ternyata sudah pukul 01.00 larut sekali pikirnya.

Dia berjalan menyusuri koridor rumah sakit, mungkin bagi sebagian orang, rumah sakit sangat menyeramkan ketika malam hari. Tapi, bagi Abisma itu biasa saja, hal yang lumrah baginya.

Saat sampai di ruang tunggu rumah sakit, dia melihat seseorang yang menurutnya tidak asing. Tapi takut salah juga, tak apa lah dia tegur saja dulu.

"Kafka?" Kafka yang tengah duduk di ruang tunggu mendongakkan kepalanya pelan.

"Om" sapa Kafka sambil tersenyum hangat. Abisma ikut duduk disamping Kafka, "belum pulang? Kenapa disini, gak diruang pak Galih? Sebentar lagi jam besuk akan ditutup, ayo pulang bareng saya aja."

"Kafka, tunggu Awan aja, kasihan Awan sendirian."

"Pulang aja, Awan di temenin perawat dan dokter-dokter disini. Kasihanin kamu dulu, kalo mau kasihanin orang lain. Muka kamu pucat banget Kafka? Mau saya periksa dulu sebelum pulang?" Kafka menggeleng pelan

"Yaudah ayo pulang!" Abisma menarik Kafka agar mengikutinya, sang empu hanya pasrah saja. badannya sangat lemas untuk saat ini, biarkan orang ini melakukan semaunya saja

.
.
.

Mereka sudah sampai di besment rumah sakit, Abisma dan Kafka langsung memasuki mobil milik Abisma, sebelum dia melajukan mobilnya dia sempat berujar.

"Kalo ngantuk, tidur aja. Nanti saya bangunkan, kalo sudah sampai." Kafka hanya mengangguk singkat, lalu dia memilih memejamkan matanya, dia lelah dan mengantuk hari ini, tadi juga sempat menelfon Salma, menanyakan keadaannya, dan Kafka juga beberapa jam hanya mendengar suara isakan kecil Salma. Dan sesekali dia menenangkannya.

Sungguh hari yang tidak pernah terduga, setelah beberapa menit perjalanan Kafka benar-benar terlelap dalam tidurnya, om Abisma merasa khawatir melihat Kafka, wajahnya begitu pucat dan terlihat raut kelelahan dalam tudurnya.

Tiga puluh menit, berlalu. Abisma memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, mengguncang kecil tubuh Kafka, agar terbangun dari tidurnya, Kafka bukan tipe kebo ya kalo tidur, merasa di sentuh saja dia terbangun.

"Om, kok dirumah om, yasudah Kafka balik ya. Makasih tumpangannya."

"Jangan pulang, saya sengaja bawa kamu kesini. Biar kamu saya jaga, badan kamu demam Kafka!" Kafka menaikan satu alisnya, demam? Tangannya menyentuh dahi, shit benar dia demam, astagaa!

Tadi sebelum masuk gang perumahan, Abisma mengecek suhu tubuh Kafka, karna melihat Kafka menggeliat tak nyaman didalam tidurnya.

"Kamu bisa tidur di kamar tamu, sana istirahat dulu, nanti saya siapkan obat buat kamu." Kafka mengangguk, lalu menuju kamar tamu, jangan tanya mengapa Kafka tau, Karna ya memang tau wkwkwk.

Kafka menidurkan tubuhnya, dinginnya malam mulai terasa, dia menyembunyikan seluruh tubuhnya dibalik selimut tebal itu. Mengapa tubuhnya semakin terasa menggigil dan suhunya terasa semakin panas.

Tak berselang lama, Abisma datang, membawa makanan, beberapa butir obat, dan kompres tempel.

"Duduk dulu, kamu pasti belum makan malam. Makan dulu sini."

"Dari pagi kali om!" Abisma membulatkan matanya kaget, astaga pantas saja sakit, makan belum dari pagi, dan baru saja donor darah. Apa gak gila tuh.

"Astaga, nungguin apa kamu gak makan? Nungguin disuruh makan sama, siapa? Gak makan dari pagi, donor darah dan apa lagi hari ini?"

"Latihan voli." Abisma menyerahkan bubur bikinannya sendiri, dasar anak jaman sekarang. Aneh-aneh aja kelakuannya

"Udah om, mulut Kafka pait!" Hhh Abisma membuang nafasnya gusar baru juga lima suap, kalo gak lagi sakit udah dia buang anak ini!

"Nih, minum obatnya. Abis itu, tidur istrirahat." Ucapnya sambil memasangkan kompres tempel ke kening Kafka, Kafka berbaring dan kembali menutupi tubuhnya hingga tenggelam didalam selimut.

.
.
.

Gimana chapter hari ini? Maaf untuk typonya, vote jangan lupaaa lohh yaa gratiss kok....

Terimakasih untuk hari ini,,,,

Garis Takdir [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang