Halo everyone! Gimana kabarnyaaaaaaaaaaaa aku double up guess aku mau cepet selesaiin buku yang ini, solanya takut kaya buku aku satunya kelamaan Hiatus lupa sama alurnya huuhuhu sedihhhh apakah aku harus mulai dari awal anjrotttttt dah lah so enjoy Gus jangan lupa vote, komen dannnnnnnn follow okai
.
.
.
-HAPPY READING-
Salah satu alsan banyak orang tidak menyukai hari Minggu adalah, karna besoknya hari Senin. Hari paling berat dari banyaknya hari, entah mengapa tapi hari Senin terasa semuanya sangat melelahkan dan ribet.
Kafka, Awan, dan Salma berjalan menyusuri koridor kelas 11, Mereka dipersatukan kembali dalam satu kelas setelah sebelas tahun bersama, uwaw waktu yang sangat lama, mereka saling mengenal ketika baru duduk di bangku SD kelas 1 hingga ternyata masa membawa mereka sejauh ini.
Pelabuhan yang mereka tuju sudah di depan mata, kelas 11 IPA 5, jangan tanya mengapa Awan dan Kafka masuk IPA! Merekakan mau jadi astronot dan katanya, mau dapat penghargaan duo astronot terbaik, hehehe. Emang ada?? Gak tau jawabannya
"Gila, panas banget hari ini, padahal gue doa supaya hujan, biar gak upacara." Ujar Awan sambil mendudukkan bokongnya kekursi, sementara sang waketos ini hanya rolling eyes, pemalas sekali anak satu ini pikirnya.
Salma ini salah satu siswa, best di sekolah ini. Dia rajin, pintar, dan multitalenta. Banyak siswa dan guru yang suka dengan Salma, etss digaris bawah, suka dengan sikap Salma bukan menaruh rasa
"Kaf, Wan. Pulang nanti belajar bareng yuk! Besok ada ujian Fisika, gue gak mau dapet nilai jelek lagi!" Ajak Salma pada kedua temannya
"Hm, liat nanti ya sal? Gue takut ada kegiatan lain" ungkap Kafka, jujur ia tidak terlalu suka berjanji, Kafka takut tidak menepatinya dan membuat kecewa
"Ck, oh jadi ada yang lebih penting dari gue?" Jangan salah, Salma selalu melontarkan kalimat seperti itu pada Awan dan Kafka, menurutnya itu sudah tidak asing lagi, toh mereka sudah terlalu sering bersama. Lagi pula kedua sahabatnya fine-fine aja.
"Gak gitu, gue takut ada urusan lain. Tapi gue usahain kok Sal." Salma mengangguk saja, pasti Kafka juga akan datang tidak tau kalo Awan. Anak itu sering sekali mengingkari janjinya! Sangat menyebalkan
Salma memilih kembali duduk, dan memainkan ponsel, bisa scroll tik tok.
"Kaf, malem di ajak balapan, sama Rion. Taruhannya lumayan sih menurut gue...." Ujar Awan sedikit berbisik, takut Salma dengar! Bisa habis nanti mereka berdua
Kafka sedikit tertarik dengan ajakan Awan, dia juga sudah lama tidak balapan motor. Pasti seru "berapa emang, taruhannya?"
"Sepuluh juta" Kafka menatap awan serius, hm uang jajan dia satu bulan itu, iya lima juta dari ayahnya dan lima juta dari ibunya
"Gue terima tantangannya,"
"Lo yakin? Gak takut Lo yang tekor?" Tanya Awan memastikan, takut saja bagaimana jika Kafka kalah? Berarti dia harus membayar uang sebesar 10 juta? WTF!?
"Lo ngeraguin gue? Gue udah menang dari Rion 77x Wan, gue juga yakin bisa ngalahin dia" ujar Kafka, narsis amat ya? Tanggal sial gak ada di kalender kaf, jangan PD PD.
"Oke! Nanti gue hubungin bawahannya si Rion"
"Sempak?" Tanya Kafka, apakah adik kecil ini sedang melawak? Atau memang dia salah tangkap? Kalo memang salah tangkap menang bego tingkat akut!
"Bego, bukan sempak! Maksudnya anak buahnya Rion!" Kafka hanya berohria saja menanggapinya
.
.
.
Setelah selesai dengan urusan belajar bersama, Kafka langsung menuju arena balap liar, tempat yang biasa digunakan anak buah Rion untuk menjadi markasnya, Kafka tidak sendiri kesana, cari mati hanya sendiri, dia bersama 20 teman seangkatan mereka diralat kan, ada lima Kaka kelas mereka juga ikut, tapi awan tidak ikut, pasalnya Nasya memintanya untuk tidak ikut, haduh susah bucin lupa teman dia.
Kafka menatap Rion remeh, sungguh jika bukan karna uang. Dia tidak akan mau bertemu dengan mahluk ini! Menjijikan
"Masih berani Lo lawan gue? Gue kira udah kapok" ujar Kafka
"Gak ada kata kapok buat ngehancurin Lo Kafka!"
Mereka berdua sudah menaiki motor masing masing, memakai helm full face dan jaket kulit. Bahkan Rion sesekali menggerungkan motornya, sedikit meledek Kafka
Bendera sudah dileparkan ke atas, tanda mulainya pertandingan, Kafka masih memimpin untuk saat ini, membelah keheningan malam dengan deru motornya, Rion sempat menyusulnya namun tetap kalah cepat dengan Kafka.
Garis finis sudah didepan, sorak Sorai semakin ramai terdengar, tapi ada yang aneh? Mengapa mereka semua lari berhamburan seperti ada yang mengejar? ASTAGA ADA POLISI pekik Kafka dalam hati, namun silannya lagi ketika ia ingin berputar balik, motornya dan motor Rion bertabrakan, menyebabkan ia terseret beberapa langkah
Dua polisi menghampiri mereka, dan ya kalian tau mereka tertangkap, sungguh sialan!
.
.
.
Kafka duduk, menghadap seorang polisi, yang menatapnya begitu intens "nak, nak, kamu ini sudah berapa kali masuk sini? Sudah berapa kaki ngadep ke saya? Kapan berhentinya? Panggil wali kamu, saya mau bicara! Gak akan saya lepasin kamu kaya kemarin-kemarin, sebelum saya ketemu wali kamu."
Kafka membuang nafasnya gusar, siapa yang harus dia telfon? Tak mungkin om Galih, apalagi ayahnya! Kafka harus menelpon seseorang atau dia akan menginap disini makan ini
Aha! Kafka tau, kafka tau harus menghubungi siapa! Dia segera mengetik nama seseorang di ponselnya dan segera mengubunginya
"Halo"
.
.
.
"Maafkan saya pak, kurang hati-hati menjaga adik saya. Saya yang akan menjamin dia untuk tidak terlibat balap liar lagi, oh iya kalo bapak gak percaya ini kartu nama saya"
Polisi itu menatap shock kartu nama didepannya "pak Abisma?! Astaga sudah lama tidak bertemu," ya itu om Abisma tidak ada pilihan lain, Kafka hanya bisa meminta pertolongan kepada Abisma, dia tidak mau terlalu merepotkan om Galih, setelah ayahnya memarahinya untuk tidak terlalu merepotkan Galih
"Oh jadi anak tengil ini adik bapak?!"
Abisma mengangguk, tapi Ira juga mengerutkan keningnya ragu, meraba-raba siapakah orang ini Abisma sungguh tidak ingat!
Sepertinya polisi ini cenayang ya? "Saya orang yang bapak tolong, saya yang menjalani transplantasi ginjal! Masa bapak lupa? Baru enam bulan loh"
Ah! Iya, dia ingat "oh, iya astagfirullah maafkan saya, terlalu banyak pasien jadi lupa" om Abisma tertawa ringan di akhir kalimatnya
"Em, baiklah Kafka, saya bebaskan kamu! Tapi janji nak, kamu tidak akan terlibat balap liar lagi!" Kafka mengangguk antusias yess tidak jadi tidur dilantai dingin!
.
.
.
Halooo gyss, btw aku nulis chap ini malam Minggu vejir! Gak ada yang ajak jalan nih sangat sedihhhhhh, punya suami tapi kita jauh¹an aku di Indonesia dia di Thailand kita LDR-an selamanya bwahahahaha, enggak Deng semoga nanti bisa ketemu para suami aku di Thailand
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir [On Going]
Teen FictionMemiliki keluarga yang utuh, adalah impian semua anak. Namun, apakah setiap yang utuh akan selalu teguh? Keluargaku memang utuh. Namun, sudah runtuh. Lantas mengapa aku harus ada di bumi ini? Jika hanya untuk, melihat kehancuran diri sendiri *SEGERA...
![Garis Takdir [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/368023106-64-k280904.jpg)