Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

16. PERTIKAIAN

122 6 1
                                        

ANJIMMMM aku kelamaan gak nulis, sampe agak bingung lanjutinya. Tapi karnaa agak termotivasi sama beberapa vid aku mutusin buat mikir kerasss, biar bisa lanjutin wkwkwk meski pembaca sedikitnya pake banget 💔 no problem bakal tetep kejar cita-cita akuuu....

.
.
.

-HAPPY READING-

Bugh!

Bugh!

"ANJING, BANGSAT! BERANI LO LECEHIN DIA. ANJING! MATI LO!"

Sang empu yang mendapat serangan mendadak, tidak sempat melawan. Serangan demi serangan di hadiahkan lawannya, bahkan sampai mulutnya robek pun masih saja tidak berhenti memukul.

Orang dihadapannya benar-benar seperti, orang kesetanan. Siswa-siswa yang membantu menengahi pun tidak ada yang setara dengan kekuatannya.

"KAFKA, UDAH! Tolongin Salma dulu, bangsat!" Kafka tersadar dengan aksinya, dia berlari mendekati Salma yang sudah tergeletak lemas di ujung toilet.

"Sal? Sal kamu denger aku sal? Hey Salma, bangun." Kafka menepuk-nepuk pelan pipi Salma, terlihat juga beberapa luka memar dibeberapa bagian wajah Salma. Hanan bajingan! Berani sekali dia menyentuh miliknya.

Kafka mengendong Salma ala bridal style, tapi sebelum menggendongnya, Kafka menutupi paha Salma dengan jas almamater sekolahnya. Bagaimanapun itu Kafka tidak mau miliknya dilihat orang lain.

Sementara Hanan? Sudah ditangani ayahnya, ordal? Najis.

.
.
.

"

Kamu tuh ya! Bikin malu aja kerjanya. Kamu sadar gak?! Kalo ayah gak nyogok beberapa pihak, kamu udah di Do! Pekerjaan ayah juga mungkin bakal di cabut! Mikir."

"Setan apa yang bisikin kamu buat ngelakuin pelecehan kaya gitu?!" Lanjutnya.

Sementara sang lawan bicara hanya menundukkan kepala, dia hanya berniat membalas dendam karna dulu Kafka sempat mendekati miliknya. Tapi ini semua di luar kendali dirinya sendiri, dia tidak sengaja.

Percayalah, trauma hampir dilecehkan itu membekas selamanya. Berpura pura tidak pernah terjadi apa-apa karena takut? Tentu, takut mengingatnya kembali, takut orang yang melecehkan tak terima dan melakukan hal itu lagi. Tentu saja!

.
.
.

Sementara dirumah sakit, Kafka, Awan dan Nasya sedang duduk termenung menunggu orang yang menangani Salma keluar. Dari kejauhan terlihat dua orang sedang berlari ke arah mereka, terlihat raut wajah khawatir yang sangat jelas.

"Kafka, Awan. Bagaimana keadaan Salma?" Tanya pria paruh baya itu.

"Masih di tanganin dokter om." Ujar Awan bangkit dari duduknya, dan mempersilahkan kedua orang tua Salma untuk duduk.

Mawar dan Sandi menatap Kafka, yang masih terlihat sedikit bergetar. Jika bertanya apakah mereka tau belum hubungan Salma dan Kafka sudah lebih dari teman? Jawabannya sudah, tentu sudah. Dan mereka juga merestui mereka tau anaknya di tangan orang yang tepat.

Terlebih lagi mereka sudah menganggap Kafka sebagai anak mereka sendiri, tentu Awan juga.

"Kafka...." Mawar membelai rambut legam Kafka lembut, sang empu yang sedari tadi pikirannya kosong, sedikit terlonjat kaget. Tapi sepersekian detik kemudian Kafka menggenggam tangan Mawar dengan keadaan tangannya yang masih bergetar.

"B-bu, maafin Kafka." Kafka menunduk, tak terasa bulir air bening berlomba-lomba keluar dari pelupuk matanya.

Mawar membawa Kafka kedalam pelukannya, tidak dia tidak menyalakan Kafka sedikit pun karena lalai menjaga buah hatinya, ini musibah. Dan gak ada yang tau kapan musibah itu datang.

"Gak papa, bukan salah kamu. Gak papa ya." Kalimat penenang saja tidak berlaku untuk kondisi seperti ini.

Ribuan kata maaf terus terucap dari bibir Kafka, sungguh dirinya benar-benar kalang kabut. Bukan karena takut di salahkan, tapi karena banyak hal yang selalu gagal dia jaga. Keluarga, cinta, keharmonisan. Selalu gagal.

"Gak papa, nak. Sudah, setelah ini kita usut kasusnya sampai selesai. Bapak gak akan biarin orangnya bebas berkeliaran bebas!" Sepersekian detik setelah bibir Sandy tertutup, sang dokter yang menangani Salma keluar dari UGD.

"Dok? Gimana kondisi anak saya? Baik-baik aja kan?" Tanya Mawar bertubi-tubi.

Sang dokter berhembus nafas panjang. "Kondisi fisiknya 90% baik Bu, tapi.... Sepertinya kondisi mentalnya agak terguncang."

Flesbeck on

Salma berjalan ke arah wastafel, dia berniat mencuci tangannya setelah buah air kecil. Ketahuilah Salma salah satu siswi terhumble di sekolah, semua percakapan sakit selalu dianggap candaan bahkan semua cowok aja sering bercanda bersamanya. Kafka? Dia oke oke aja selagi gak ngerusak hubungan mereka.

"Kiw, cantik banget hari ini." Ujar seseorang dari ambang pintu toilet. Salma sedikit terlonjat kaget, dia pikir hantu!

"Hahahha, bisa aja lu. Buaya amat." Salma tertawa ringan, dia membawa dirinya untuk keluar dari toilet.

Sesampainya di ambang pintu laki-laki tadi tak kunjung menyingkir, Salma menyuruhnya menyingkir dengan canda dan sedikit tertawa.

"Minggir jancok, ngapain kali lu berdiri disitu." Tangan Salma di cekal begitu erat, laki-laki itu mulai mengendus-endus leher Salma.

"Bangsat! Ngapain Lo anjing!" Salma berusaha menyingkirkan tangan kekar itu, Salma masih berfikir ini candaan tapi nyatanya enggak! Ia mendorong tubuh Salma hingga menempel sempurna ditembok.

"Dikit aja Sal, dikit. Gue sentuh Lo...." Salma meronta-ronta ini bukan candaan lagi! Salma harus meminta pertolongan, tapi nihilnya manusia yang lewat area ini! Siapapun tolong Salma.

"Gak anjing gak! Lepas tai! Gue laporin Lo bangsat!" Hanan mulai gencar mencium inci leher Salma, tak habis pikir dengan manusia-manusia seperti ini? Apa yang mereka pikirkan sehingga mau melakukan hal menjijikan seperti itu?

Salma menangis meronta ronta, bukan hanya disentuh setiap inci tubuhnya. Tapi dengan kasarnya Hanan menampar dan memukul wajah Salma, bajingan.

"IBU, IBU! IBU TOLONGIN SALMA IBU." Suara Salma terdengar dari dalam ruangan, dengan cekatan mawar berlari masuk menghampiri buah hatinya.

Kondisi Salma benar benar terguncang, orang yang melakukan pelecehan benar-benar brengsek! Untuk perempuan kalo udah dapet Catcalling jangan anggap sebagai candaan teruss yaaaaa.

.
.
.

Jangan lupa vote gyssssss sygg kalian yang mau baca cerita ini 🤟🤟🤟

Garis Takdir [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang