Halooooo gyssssssss sesuai ucapanku bakal selesaikannn cerita akuu, jadi aku kebuttt, mumpung sekolah lagi libur, maklum anak semester terakhir,,, doain juga ya biar ketrima di sekolah fav :(
.
.
.
-HAPPY READING-
Setelah pulang dari kantor polisi, Abisma mengajak Kafka untuk makan malam bersamanya. Entah sejak kapan Abisma ingin sekali dekat dengan Kafka, menurutnya Kafka ini anak yang sangat baik, tapi tidak selalu menunjukan sisi baiknya, dan menjadi sosok yang rapuh secara bersamaan, Kafka tipe manusia yang tidak tau cara menumpahkan ekspresinya.
Maksudnya bukan manusia dengan tampilan wajah datar, ataupun cool, Kafka ini tidak bisa menaruhkan ekspresi diri dengan benar. Misalkan ketika dia merasa sedih, dia tidak bisa menunjukan rasa sedihnya, dan berbagai ekspresi lainnya
"Kafka, mau menginap disini? Lagian pasti dirumah, kamu kesepian. Mending nginep disini, kita nobar pertandingan bola voli." Ucap Abisma, setelah selsai makan malam bersama. Kini mereka tengah berdiri di ambang pintu rumah Abisma, Abisma tau Kafka sangat mencintai voli, jadilah dia mengajak Kafka nonton bareng, kebetulan ada acaranya juga.
"Lagi pula, rumah kita hanya berjarak beberapa langkah. bagaimana? Saya gak ada temen nobar soalnya." Kafka nampak berpikir-pikir, tapi gak papa juga sih lagian di rumah juga bingung mau ngapain. Kafka mengangguk singkat, langsung nyelonong masuk kembali ke rumah Abisma tanpa permisi, durjana emang
"Buruan om, lelet." Haiss siapa yang didik sih ini bocah, kagak ada sopan sopannya sama yang tua. Abisma mendudukkan bokongnya disebelah Kafka, menatap televisi yang sudah menayangkan pertandingan voli
Kafka menatap Abisma sekilas, sedangkan yang di tatap hanya fokus melihat tv saja, "kenapa kaf?" Tanya Abisma yang menyadari, keanehan Kafka.
Kafka menggeleng singkat, lalu kembali memfokuskan pada pertandingan yang dia tonton. "Aneh aja, om kok gak kepoan, biasanya juga,, nanya-nanya mulu."
Abisma membuang nafasnya gusar, tapi matanya masih fokus ke layar tv "udah berapa kali berurusan sama polisi?" Tanya Abisma menatap Kafka sekilas
"Eum, baru lima kali kayanya" bocah bego! Lima kali dibilang baru coba, nangis aja lah gua mah
"Baru? Berarti mau diulang lagi?" Ucap Abisma terdengar datar
"Apasih om, gak jelas banget"
"Apanya yang gak jelas kaf? Saya kan tanya, berarti mau diulang lagi? Apanya yang gak jelas? If you've dealt with the police, it's no longer a trivial matter." Sarkas Abisma, sungguh Abisma hanya khawatir tidak mau melebih-lebihkan, takut ketika Kafka terkena kasus lagi, polisi tidak mau memberikan keringanan lagi.
"Iya tau, tapi siapa juga yang mau berurusan sama polisi? Orang gak sempet kabur."
"Kafka! Bukan itu maksud saya. Maksud saya jangan melakukan hal yang bisa memicu tertangkap polisi!"
"Gak bisa om! Dia nantangin, kalo Kafka nolak, nanti mereka remehin Kafka!" Acara nonton barengnya jadi amburadul, gak karuan.
Abisma berdecak kesal, sungguh anak jaman sekarang kebanyakan tingkah. Dikit-dikit gelut, dikit-dikit tawuran, gak pada sayang badan apa?
.
.
.
Kafka tidak jadi menginap, tadi malam, perasaannya sangat kesal, apa apaan orang itu, sok tau sekali.
Kafka berjalan menyusuri koridor, memasukan tangan kanannya ke saku celana, dan sesekali dia bersenandung kecil, perasaannya sedikit lebih baik, tidak sekesal semalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir [On Going]
Teen FictionMemiliki keluarga yang utuh, adalah impian semua anak. Namun, apakah setiap yang utuh akan selalu teguh? Keluargaku memang utuh. Namun, sudah runtuh. Lantas mengapa aku harus ada di bumi ini? Jika hanya untuk, melihat kehancuran diri sendiri *SEGERA...
![Garis Takdir [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/368023106-64-k280904.jpg)