35

1.2K 60 8
                                        

Sebelumnya...

"Selamat datang, tamu," katanya dengan suara yang dalam dan menakutkan. "Aku telah menunggumu!"

Brukk—!!

Mendengar suara berat dan menakutkan dari Raja Iblis, seketika aku lemah dan merosot jatuh ke lantai yang dingin. Alasan utamanya adalah aku terkejut. Aku bersimpuh di bawah, menatap kosong pada Raja Iblis yang bersemayam angkuh di atas singgasananya.

Sadar akan bahaya, lantas aku tidak diam begitu saja. Aku memaksakan tubuh yang lemas untuk melarikan diri, mengikuti insting bertahan yang berteriak memberi sinyal dalam hati. Setiap langkah terasa berat, namun tekad ingin hidup memaksaku untuk terus berlari.

--------------------------------------------------------




















Kembali pada masa kini, entah dosa apa sebelumnya, aku merasakan neraka lebih cepat dari yang seharusnya.

Di dalam kegelapan, aku duduk terdiam dengan kepala tertunduk, tangan dan kakiku terikat oleh rantai berat. Luka-luka lain di tubuhku terasa seperti api yang membakar, membuatku merasa tertekan oleh ilusi kebebasan.

Sebelumnya, aku sudah mencoba melarikan diri, namun gagal. Kini, aku dipaksa menerima yang katanya, 'sambutan' yang ironis ini.

Saat mencoba melarikan diri dari singgasana, aku terhuyung dan berguling dari atas tangga. Rasa sakit yang menyengat ketika tubuhku menghantam lantai adalah awal dari serangkaian kemalangan yang terus berlanjut. Meskipun sudah berusaha, aku terus kembali ke tempat yang sama, seolah terikat oleh sihir misterius.

Lelah, mandi keringat, dan tubuhku sakit karena beberapa kali terjatuh. Putus asa kian menggerayahi pikiran saat kakiku pincang karena terkilir.

"Kau tidak lelah? Tapi, ini terlihat menyenangkan," ujar Raja Iblis dari singgasananya, sebuah senyum licik menghiasi wajah tampannya.

Duduk berpangku tangan di sandaran singgasana dengan kaki bersilang, tampak dia sedang menikmati pertunjukan eksklusif yang menampilkan seni langka di hadapannya.

"Menyenangkan matamu!"

Ini adalah usaha terakhirku. Saat berusaha mencapai pintu, ribuan jarum misterius menyergapku dari segala arah. Rasanya sakit dan terbakar saat mengenai tubuhku, seperti ribuan jarum api yang menusuk kulit.

Saat itu, aku terseret ke tengah ruangan, terikat dalam situasi yang mengenaskan. Aku pun terkulai lemas di lantai, dengan rupa buruk dan luka menganga yang berlumurkan darah merah segar.

"Akhirnya kau diam!"

"Lalu, haruskah aku diam sejak awal? Tidak masuk akal!"

"Ya."

"Dia... Bisa membaca pikiran?"

"Ya."

"Owh... Shit!"

Dengan gerakan anggun dan menakutkan, kulihat Raja Iblis mulai bangkit dari singgasananya. Langkah pertamanya seakan memberi goncangan pada sekitar.

Tak!

Masih tangga pertama, gerakannya elegan dan penuh wibawa.

Part Of Mine [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang