Kini, mereka telah melangkahkan kaki keluar dari kamar Irish. Berjalan di lorong yang luas serta megah, Duke dan Putra Mahkota memimpin jalan di depan, sementara para Tuan Muda Ackerley mengikuti dari belakang. Tujuan yang sama, mempersatukan langkah-langkah mereka.
Telah menjadi satu bagian dari etiket para bangsawan, para pelayan yang berpapasan menghentikan aktivitas mereka, dan serentak membungkuk hormat ketika mereka melintas.
Mereka terus berjalan dalam diam, hingga suasana hening itu terputus oleh kalimat singkat dari Putra Mahkota yang menggema di lorong.
"Sepertinya, aku butuh Putri Mahkota yang baru. Apa Ackerley ingin mencalonkan satu?"
Jduarrr—!!
Guntur menyambar di antara para pria Ackerley, membuat mereka berhenti seketika. Terpaku di tempat, mereka tidak bergeming dengan tatapan mata kosong. Begitu pula Putra Mahkota, yang turut terhenti oleh gerakan tiba-tiba mereka.
Setelah dapat mencerna maksud dari kalimat Putra Mahkota, aura mereka berubah menjadi gelap, wajah dingin dengan mata berkilat tajam menatap satu target yang sama.
Sepertinya, pepatah yang mengatakan jika seseorang bisa membunuh melalui tatapan mereka itu memang benar adanya. Buktinya sekarang ini, mereka hanya berdiri diam dan mengelilingi Putra Mahkota yang seorang diri dengan penuh niat membunuh.
Entah muncul dari mana, suara pedang yang ditarik terdengar menyapa pertama kali di tengah-tengah keheningan itu. "Anda berani, Yang Mulia?" tanya Duke dengan aura gelap yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Suaranya seperti angin musim dingin yang menerjang, membawa pada ketidakberdayaan.
"Sepertinya kita harus berlatih kembali, teman?" Maxime pun sama, pedang di tangan kanannya terlihat siap bertempur. Senyum di bibirnya terasa ambigu, dan matanya berkilau dengan sorot buas yang menyimpan misteri bahaya di baliknya.
"Bukankah, Anda belum pernah berendam di api Ackerley, Yang Mulia? Anda ingin mencobanya se-kali?" terlihat api biru menyala terang di tangan Theo.
"Meski Anda sosok berkuasa, saya tidak rela. Saya tidak akan pernah membiarkan Lyn memasuki dunia kotor itu. Jika anda berani, nyawa saya akan menjadi salam pembuka!" tidak urung si temperamen Zachary yang akhirnya ikut meledak, dia telah bersiap dengan pedang andalannya.
"...?! Hahahaha...! Tidak masalah," ujar Putra Mahkota sambil mengusap air di sudut matanya yang menetes karena tawa yang tak terbendung.
Tawa itu mengundang raut wajah para Ackerley untuk semakin datar, dengan aura dingin di sekeliling mereka yang tidak dapat dikendalikan.
Setelah tawanya mereda, Putra Mahkota berdiri tegak, dia menatap para Ackerley dengan senyum yang terlukis indah di wajah tampannya. "Lagipula, jarak usia tidak akan menjadi penghalang bukan? Atau... apakah kalian lebih suka jika bersama penyihir itu?"
Mungkin karena bosan, Putra Mahkota menginginkan pertunjukan untuk lebih menarik lagi. Dan benar saja...
Blar!! Jduarr—!!
Tumpang tindih sihir beradu setelah Putra Mahkota menyelesaikan kalimatnya.
"Urkh...!!" Dalam sekejap, Putra Mahkota terjatuh, tubuhnya terbentur tembok seperti daun kering yang terhempas angin. Empat monster kejam mengepungnya seolah dia adalah santapan mereka. Jelas ini kekerasan dan kejahatan, di mana lawan mereka adalah seorang Putra Mahkota yang pangkatnya tidak dapat disinggung secara sembarangan.
"Hei! Kalian jangan berlebihan!" seru Putra Mahkota. Suaranya terputus oleh erangan kesakitan. "Aku hanya bercanda," imbuhnya, sementara darah segar mengalir dari sudut mulutnya, membasahi pakaiannya yang kusut, kotor, dan robek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Part Of Mine [END]
FantasíaOrrin Nara, gadis berusia 18 tahun, merasa hidupnya tak pernah beruntung. Ditinggalkan oleh Ibu dan kakak laki-laki satu-satunya, dia terpaksa tinggal bersama ayahnya yang seorang penjudi, pemabuk, dan sering melakukan kekerasan. Luka fisik dan ment...
![Part Of Mine [END]](https://img.wattpad.com/cover/364889847-64-k29975.jpg)