🔅
Setelah terhisap, aku terombang-ambing dalam pusaran angin gelap. Aku melayang, berputar-putar, dan terlempar tak tentu arah karena tidak memiliki kuasa atas tubuhku sendiri. Beberapa kali aku terhantam pohon atau benda lain yang ikut masuk terhisap ke dalam pusaran lubang.
Semakin lama, aku merasa mual dan akan kehilangan kesadaran. Namun tiba-tiba, dari arah depan, cahaya biru melesat lurus dengan kecepatan tinggi. Setelah di jarak dekat, cahaya itu menembus masuk ke dalam tubuhku.
Dari cahaya itu, sinar terang memancar di sekelilingku. Setelahnya, pandanganku menjadi gelap, dan telingaku mendenging dengan suara dengung yang membuatku merasa semakin tidak nyaman.
Samar-samar, aku melihat bayangan seseorang di hadapanku. Bayangan itu dikelilingi oleh cahaya biru terang, memancarkan kehangatan dan ketenangan, yang mengusir segala kegundahan di hatiku saat melihatnya.
Dan kini, aku kembali terbangun dalam kegelapan yang pekat, dikelilingi oleh keheningan yang mencekam. Detak jantungku bergaung dalam kesunyian, seakan-akan menjadi satu-satunya suara di dunia. Rasa sakit di kepala menghalangi upayaku untuk bangkit, membuatku merasa begitu menyedihkan, seolah telah kehilangan segala harapan yang pernah ada.
Dengan usaha yang terbatas, aku melirik ke sekeliling, mencari petunjuk tentang tempat yang tak kukenal ini. Namun, hanya kegelapan yang menyambutku, dingin dan membingungkan, seolah-olah menggenggamku dalam pelukan yang menyiksa.
Deja vu. Semua terasa familiar, seperti aku pernah berada di sini sebelumnya, mengingatkan pada mimpi buruk yang tidak bisa aku lupakan. Namun, pikiranku kosong, aku tidak dapat memikirkan apapun itu.
Di tengah ketakutan yang menggelayuti, suara lembut penuh misteri menyentuh gendang telingaku. "Selamat datang kembali, Irish. Aku telah menunggumu!"
Kepanikan melanda saat aku berusaha mencari sosok yang berbicara. Namun, bayang-bayang gelap terus menghalangi jangkauan pandanganku.
"Siapa?" tanyaku, suaraku bergetar. Meski dalam hati sudah memiliki dugaan, namun keraguan dan ketakutan masih menyelimuti pikiranku.
"Ini aku," jawab sosok itu, dan seiring dengan kehadirannya, Aellous muncul. Cahaya lembut mengalir masuk, menerangi ruangan yang sebelumnya gelap gulita. Kepalaku semakin berputar, dan kebingungan pun kian bertambah.
Aku ingat tengah berdiri di pertempuran yang mengerikan, tetapi kini aku terjebak di tempat itu lagi? Kesadaran kembali kudapatkan, dan apa ini masih tempat sebelumnya? Apakah aku sudah mati sekarang? Tidak! Aku harus kembali. Aku tidak boleh menyerah. Azazel masih menunggu untuk dikalahkan.
Aku memaksa tubuh yang berat untuk bangkit. Hanya sampai aku duduk di rumput basah ini, rasa sakit yang menyengat di sekujur tubuhku masih terasa, membuatku lemah dan tidak berdaya.
Aku mendongak, menatap Aellous yang berdiri di sampingku. Sosoknya masih sama dengan ingatan terakhir kali aku melihatnya. Namun, aku tidak bisa melakukan perdebatan seperti yang lalu. Sekarang ada yang lebih penting dan mendesak dari sekadar bersenda gurau, atau pun rasa syukur karena bertemu seorang Dewa.
"Aellous, bisakah kau membantuku?" desahku penuh harap. "Aku harus kembali dan menghentikan Azazel!"
Benar, aku harus keluar dari tempat ini secepatnya, hingga tidak ada waktu untukku bertanya pada Aellous bagaimana dia bisa selalu hadir di alam bawah sadarku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Part Of Mine [END]
FantasyOrrin Nara, gadis berusia 18 tahun, merasa hidupnya tak pernah beruntung. Ditinggalkan oleh Ibu dan kakak laki-laki satu-satunya, dia terpaksa tinggal bersama ayahnya yang seorang penjudi, pemabuk, dan sering melakukan kekerasan. Luka fisik dan ment...
![Part Of Mine [END]](https://img.wattpad.com/cover/364889847-64-k29975.jpg)