Aktifitas ranjang mereka telah selesai sejak beberapa jam lalu, namun Arion tidak juga dapat memejamkan matanya. Ia menolehkan pandangannya ke sosok Bianca yang tengah terlelap di sampingnya, entah setan apa yang sudah merasukinya semalam hingga ia begitu di luar kendali. Niatnya yang hanya menyentuh Bianca sekali malah membuatnya mengulang berulang kali.
Matanya reflek memejam dengan penuh penyesalan—seakan apa yang di lakukannya semalam tidak seharusnya terjadi. Bisa jadi karena ia tidak pernah bercinta dengan seorang gadis sebelumnya, hingga sensasi baru itu membuatnya sedikit kecanduan.
Sial, itulah alasan kenapa selama ini ia selalu menghindari bercinta dengan seorang perawan, ia takut pada sensasi yang di timbulkan dapat melibatkan perasaan.
Bodoh!
Sebenarnya apa yang tengah ia khawatirkan? Bianca bukanlah tipenya, terlebih Bianca adalah adik dari musuhnya. Mestinya ia tidak perlu takut kejadian semalam akan mengubah perasaannya kepada wanita itu.
Wanita?
Ya bukankah kini Bianca sudah pantas di sebut seorang wanita alih-alih gadis seperti sebelumnya?
Menyadari kini Bianca bukan lagi seorang gadis membuat Arion merasa puas, ia telah berhasil menjalankan tahap pertama dari rencananya dalam menghancurkan Raven. Semalam ia sengaja tidak memakai pengaman agar bisa menanamkan benih sebanyak-banyaknya di rahim wanita itu. Ia hanya tinggal menunggu waktu sampai benih itu tumbuh menjadi janin lalu ia akan membuat Bianca merasakan apa yang Yasmin rasakan dahulu.
Reflek, Arion mengulurkan lengannya, membenahi anak-anak rambut yang menutupi wajah wanita itu.
Sentuhan jemari di wajahnya membangunkan Bianca. Saat wanita itu membuka matanya, sesaat ia seperti blank pada keberadaan Arion di sampingnya tidur.
“Rion, jam berapa ini?” tanyanya dengan melempar pandangannya ke penjuru kamar.
Arion menunjuk jam dinding yang ada dikamarnya, sebagai jawaban atas pertanyaan wanita itu.
“Astaga jam 6! Kenapa kamu nggak bangunin aku?” gerutunya dengan panik, namun ketika akan beranjak dari ranjang ia tersadar jika ia tidak menggunakan apapun di balik selimut. Kesadaran itu pun membuat wajahnya seketika merona—mengingat aktifitasnya semalam bersama Arion.
“Kamu kelihatan kecapean, aku nggak tega bangunin kamu!” jawab Arion, lengkap dengan tatapan yang membuat wajah Bianca semakin terbakar.
Bianca menarik selimutnya semakin tinggi menutupi tubuhnya, apa yang di lakukannya semalam membuatnya merasa malu di hadapan Arion. “Ta—tapi kan aku harus kuliah, dan memangnya kamu nggak berangkat kerja?” cicitnya.
Sikap Bianca tak ayal membuat Arion merasa geli, wanita itu masih saja bersikap malu padahal mereka sudah menghabiskan malam berdua tanpa busana disana. “Kalau aku bilang hari ini mau ambil libur, apa kamu juga mau bolos kuliah?” pancingnya.
Bianca menatap Arion ternganga sejenak. “Ta—tapi Rion, hari ini aku ada ujian,” balasnya merasa tak enak hati pada pria itu.
Arion terkekeh lantas memiringkan tubuhnya kearah Bianca. “Aku hanya becanda Bi,” timpalnya seraya menarik wanita itu lebih mendekat kearahnya.
Kejadian selanjutnya mengalir begitu saja, Arion dengan lembut membelai kepala Bianca ketika wanita itu bersandar nyaman di dadanya.
“Apa aku menyakitimu semalam?” tanya Arion sebelum mengecup pucuk kepala Bianca.
Di dalam dekapan Arion, Bianca tersenyum. Ia memeluk pria itu semakin erat. “Menurutmu, aku semalam sempat menangis itu karena apa?” Ia mengerucutkan bibirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Or Revenge (On Going)
RomanceJudul awal : Best Mistake Spin-off : Beautiful Mistake Kesalahan Bianca hanya satu, yaitu terlahir menjadi adik kesayangan Raven-pria yang sudah menghancurkan kehidupan adik kesayangan Arion. Dan bagi Arion menghancurkan kehidupan adik dari pria yan...
