Happy reading
Saat Bianca selesai membersihkan diri, kekecewaan seketika melandanya begitu tidak mendapati Arion dimanapun. Hanya sepucuk note yang pria itu tinggalkan di nakas kamar. Dengan kesedihan yang mendalam, Bianca membaca isi notes tersebut. Ia masih tak menyangka jika dirinya di tinggalkan begitu saja seakan tak ada hal special apapun yang terjadi semalam diantara mereka.
Tidak Bi, kamu nggak boleh bersedih! Bukankah sekarang sudah siang, Arion mungkin buru-buru pergi ke kantor karena ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan.
Mengabaikan kecamuk di dalam kepalanya, ia bergegas mengenakan pakaiannya yang semalam. Pakaian itu kini sudah terkulai rapih di atas ranjang, sepertinya Arion yang telah memungutnya dari lantai. Seulas senyum terbit di wajahnya yang kuyu menyadari pria itu nyatanya masih sempat melakukan hal-hal kecil untuknya seperti merapihkan pakaiannya dan memesankan makanan untuknya sebagaimana yang Arion tuliskan di notes yang di tinggalkan.
Sambil menunggu makanannya datang, Bianca memutuskan untuk berkeliling apartemen. Semalam ia lupa menanyakan kepada Arion alasan mengapa pria itu kini memilih tinggal di apartemen? Sebab dulu sepengetahuan Bianca, Arion masih tinggal di rumah mendiang orang tuanya.
Awal mula pria itu menyebutkan alamat tinggalnya semalam, ia cukup terkejut saat mengetahui jika pria itu kini tinggal di apartemen seorang diri, ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia berikan kepada Arion. Salah satu diantaranya mengenai keberadaan Yasmin dan juga kabar wanita itu sekarang. Tapi Bianca harus menahan diri untuk tidak mempertanyakan hal-hal yang memancing sensitifitas Arion padanya mengingat Arion yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Arion yang ia kenal dulu. Ia juga harus lebih hati-hati agar apapun yang keluar dari mulutnya tidak membuat Arion kembali menjaga jarak dengannya.
Meski merasa kesakitan di bagian kewanitaannya, tapi Bianca sangat penasaran dengan isi dari apartemen Arion. Meski sudah lama mengenal Arion, tapi ia tidak pernah tahu mengenai kehidupan pria itu. Ketika tiba di ruangan tengah yang terhubung dengan ruang tamu, langkah kaki Bianca terpaku saat pandangannya menangkap sesosok wanita cantik di dalam foto yang tertempel di dinding yang menghadap kearahnya. Selain foto tersebut tidak ada lagi foto yang lainnya.
Sementara bibirnya reflek tersenyum, sepasang matanya justru berkaca-kaca. Semalam ia tidak memperhatikan kesekitar sehingga tidak menyadari keberadaan foto itu disana.
Seperti magnet, ia pun tanpa sadar telah menyeret kakinya semakin mendekati foto itu.
"Kak Yasmin ... kamu dimana? Kita semua merindukanmu saat ini."
Air mata Bianca mengalir tatkala mengingat tentang penderitaan yang wanita itu alami akibat ulah kakaknya dulu. Kesalahan apapun yang telah kakaknya perbuat di masa lalu, ia berharap keduanya bisa kembali bersama seperti dulu. Lagipula ia yakin, sang kakak telah menyesali perbuatannya dan juga menyadari perasaannya kepada Yasmin.
"Kamu siapa?"
Pertanyaan yang mengalun tegas itu berhasil menyentak Bianca. Ketika ia memutar tubuhnya, ia menemukan seorang wanita yang tidak begitu asing tengah berdiri anggun di hadapannya.
"Kak Nindy...."
"Loh ... Bi? Kamu ngapain disini?" Nindy Nampak heran tidak biasanya melihat keberadaan Bianca di apartemen Arion sepagi ini.
"Eh...." Bianca tergeragap bingung.
"Kamu nginep disini?" tebak Nindy dengan tatapan menyelidik.
"Eh, itu...." Suara Bianca masih sulit keluar.
Melihat gelagat Bianca yang seperti maling tertangkap basah, Nindy pun mendengkus sinis. Tidak salah lagi, dugaannya pasti benar. Jadi alasan Arion buru-buru pulang semalam adalah karena gadis sok polos ini.
"Jangan bilang, semalam kamu juga tidur sama Arion!" tekannya berusaha mengendalikan gebuan emosi.
Jemari Bianca sontak mengepal, menyadari adanya nada kecemburuan di suara Nindy. "Aku rasa itu bukan urusan kamu!" sahutnya dengan menghindari tatapan Nindy.
Nindy mendengkus kesal, ia sungguh tak habis pikir jika gadis yang ia kira polos itu kini menjadi saingannya. Di cengkeramnya dengan kuat lengan Bianca hingga wanita itu merasa kesakitan.
"Jangan main-main denganku Bi! Aku bisa saja melaporkan hal ini pada kakakmu dan mari kita lihat, apa yang bisa kakakmu lakukan padanya jika ia sampai tahu apa yang telah kau lakukan disini dengan Arion!" ancamnya dengan nada tajam.
Mulut Bianca terngaga kecil, ancaman Nindy berhasil menciutkan nyalinya yang hanya tidak seberapa itu. Tentu saja Nindy tahu bagaimana hubungan Arion dan Raven saat ini, wanita menjadi salah satu saksi bagaimana keduanya bertikai sejak pernikahan Raven dan Yasmin terjalin.
"Kalau begitu laporkan saja, aku juga tidak berniat menyembunyikan hubunganku dengan Arion kepada siapapun!" Nada Bianca terdengar mantap, bertolak belakang dengan hatinya yang di penuhi kekhawatiran. Tapi ia takan mau kalah dari Nindy, seingatnya sejak dulu Nindy memang sangat terobsesi dengan Arion. Demi bisa mendapatkan Arion, wanita itu sampai rela memutuskan persahabatannya dengan Gladis yang saat itu menjadi kekasih Arion—sebelum akhirnya Gladis menjalin hubungan dengan kakaknya.
Bibir merah Nindy menipis sinis senada dengan tatapannya yang terarah tajam ke wajah Bianca. "Baik, mari kita lihat siapa yang akan kalah! Kau atau aku!" ucapnya sebelum beranjak menuju kamar Arion.
Sementara di tempatnya, Bianca memperhatikan wanita itu dengan tubuh yang sedikit gemetar. Selama ini ia tidak pernah berselisih dengan wanita lain, apalagi untuk alasan memperebutkan seorang lelaki. Jadi cukup wajar jika sikap maupun kata-kata Nindy berhasil membuatnya terintimidasi.
"Aku kemari hanya untuk mengantarkan pakaian Ion yang baru sempat ku ambil dari laundry." Nindy menjelaskan dengan nada yang sudah lebih santai dari sebelumnya. "Karena Ion sering menginap di apartemenku, jadi banyak pakaian kotor Ion di tempatku. Jadi aku berinisiatif mengantarnya usai di laundry takut kalau-kalau Ion kehabisan pakaian disini."
Ucapan Nindy sukses membuat Bianca mengepalkan jemari. Entah benar atau tidak yang jelas wanita itu berhasil menyalakan api kecemburuan di hati Bianca.
Calm down, Bi!
Belum tentu juga apa yang di katakan oleh Nindy itu benar, wanita itu pasti hanya ingin membuatnya merasa cemburu!
"Sepertinya aku harus segera pergi!"
Bianca mengerjap saat Nindy tiba-tiba sudah ada di dekatnya, wanita itu mengecek arlojinya seakan-akan telah melupakan sesuatu.
"Malam ini, Ion sudah janji akan bermalam di tempatku. Jadi aku perlu menyiapkan diriku sejak sekarang, bukankah begitu Bi?"
Kata-kata Nindy serta senyuman wanita itu tampak sangat menyebalkan dimata Bianca. Ingin rasanya ia menjambak rambut panjang wanita itu tapi Bianca menahannya sekuat hati. Ia akan membalas wanita itu dengan cara lain, Bianca akan membuat Arion tidak datang ketempat Nindy malam ini sehingga wanita itu merasa kecewa dan bersedih.
"Maaf membuatmu kecewa, tapi akan aku pastikan nanti malam Rion tidak akan datang ke tempatmu!" tekan Bianca, lengkap dengan tangannya yang terkepal.
Mendengar itu Nindy justru tertawa terbahak, seakan ucapan Bianca menurutnya sangat lucu. "Baiklah kalau begitu kita lihat saja nanti malam!" pungkasnya dengan sebelah mata mengedip sebelum pergi meninggalkan apartemen Arion.
Sepeninggal Nindy, Bianca pun ambruk ke lantai. Ketegangan yang sempat tercipta disana membuat kedua kakinya terasa lemas luar biasa.
Bicara apa dia tadi, mengapa ia bisa dengan penuh percaya dirinya mengatakan itu? Bagaimana jika kenyataannya Arion lebih memilih mengunjungi Nindy dibanding menemuinya? Apakah ia tidak akan merasa malu jika kelak bertemu dengan Nindy?
Tapi di banding merasa malu, hatinya pasti juga akan terluka mendapati Arion masih berhubungan dengan wanita lain.
Tbc
hola Rion-Bianca datang lagi....
Ini keknya ceritanya bakalan panjang, jadi mohon bersabar ya manteman...
Love
Neayoz
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Or Revenge (On Going)
Storie d'AmoreJudul awal : Best Mistake Spin-off : Beautiful Mistake Kesalahan Bianca hanya satu, yaitu terlahir menjadi adik kesayangan Raven-pria yang sudah menghancurkan kehidupan adik kesayangan Arion. Dan bagi Arion menghancurkan kehidupan adik dari pria yan...
