press the 🌟 and enjoying
"Nanti jemput cepatan ya, pak," ujar nebula. Sambil keluar dari mobil dan memasuki lingkungan sekolah karena waktunya sudah telat.
Berlari kecil di koridor sekolah dan menaiki tangga untuk sampai ke lantai 3. Sebenarnya ini bukan telat masuk atau apa, karena terlihat diantara murid yang lain hanya aku yang berlari. Aku terburu-buru karena harus menyelesaikan catatanku sedikit karena t
adi malam aku tertidur cepat.
Dugh. Secara tiba-tiba aku langsung berdecak karena langkahku berhenti, apa ini tembok tetapi kok berkaki. Kunaikkan pandangan mataku dan melihat laki-laki tinggi menjulang.
"Jalan itu pakai mata," bentak lelaki itu.
"Apaan sih, lu yang berdiri disini. Ngalangi orang tau ga," balasku.
Songong banget, emang dipikir tangga punya bapaknya. Mungkin seperti itu isi hatiku sekarang yang sangat kesal.
"Gue kakak kelas, bisa sopan sedikit."
"Gue cuman sopan, sama yang sopan juga," ujarku sedikit nyolot.
Dia berdecak dengan kesal dan melihat ke arah dadaku, aku berdelik. Apa apaan dia ini, aku menyilangkan tanganku menatap tajam ke arah kakak kelas songong ini.
"Nebula Sereia, jadi gini modelan yang disukai jean." Setelah berkata hal yang membuatku tercengang dia pergi dengan gaya tengilnya, gaya jalan petantang pententeng sambil memasukkan tangannya ke kantong.
Apa maksud perkataannya, emang kenapa dengan modelan diriku dan kenapa juga dia membawa nama jean. Aku mendumel sepanjang sambil berjalan ke arah kelas.
****
"Hai." Aku berkata pelan karena memasuki kelasku yang hanya baru sebagian orang yang sudah datang termasuk jean yang memandangiku, kenapa dia bisa kelihatannya ganteng hanya dengan menatap saja.
Aku berjalan ke arah ketua kelas XI IPA¹ ini. "Jaegar, aku boleh liat catatan kimia sedikit ga?" Tanyaku dengan sedikit binaran dimataku, ini biasanya jurus yang aku gunakan ketika membujuk mamaku. Dia mendelik dan tertawa. "Boleh kok neb." Dia menyerahkan bukunya, aku mengambilnya.
"Terima kasih, aku pinjam bentar ya bukunya jae."
Aku langsung duduk di bangku dan segera cepat langsung mulai menyalin catatannya. Sebenarnya aku merasa dipandangi dengan tajam dari arah sampingku. Tapi ini bukan waktunya untuk memperdulikan itu, ini antara hidup dan mati.
Tanpa sadar waktu dengan cepat berlalu, catatan ku sudah selesai dan bisa kulihat kelas sudah penuh tapi kenapa guru belum ada yang masuk. Aku memilih untuk mengembalikan buku yang kupinjam dari jaegar. "Et et, mau kemana lu?" Senna mengejutkanku karena tiba-tiba menarik bajuku, untung aku tidak terjatuh.
"Senna.. kaget tau," ujar ku sedikit kesal.
"Hehe, ya maaf deh. Tapi ini lu mau kemana bawa buku?" Tanyanya.
"Mau balikin buku catatan kimia ke jaegar."
"APA!" Senna berseru.
"Senna aduh, pelanin suaranya." Aku menutup mulutnya agar tidak berteriak lagi.
Senna memegang tanganku dan melepaskan nya dari wajahnya. "Dia ngasih liat catatannya?" Tanyanya dengan wajah terkejut.
KAMU SEDANG MEMBACA
How Love it End?
Storie d'amore"I'll protect you..even if it costs me everything." "You were always too brave for your own good." Nebula Sereia, a girl who transferred to Nusa Bangsa. Dia sering berpindah-pindah sekolah dari kecil karena orang tuanya, sehingga kepindahan kali ini...
