10. Jealousy jealousy jealousy

127 58 12
                                        

press the 🌟 and enjoying

Hari yang indah sudah berakhir dengan cepat, nebula berbaring ditempat tidur setelah membersihkan diri. Tersenyum sambil memegang HP nya, dia sedang melihat foto-foto yang diambilnya tadi walaupun kebanyakan wajah jean yang dijepret nya tadi.

Dia membesar foto jean yang tertawa dari samping, itu foto yang di ambil nya secara candid atau diam-diam. "Duhh, ganteng gini sayang banget ga jadi pacar aku," gumamku.


INCOMING CALL

Ditengah nebula asik mengagumi seseorang yang di layar gadgetnya ada seseorang yang meneleponnya.

"Hallooo senna."

Iya, itu adalah senna yang baru saja meneleponnya.

"Wowowo, pajak jadian dong." Senna tertawa diseberang sana.

"Apaan ih, ga ada yang jadian tau," ujar nebula malu-malu.

"Jadi belum?"

"Ya... Belum sih," ringisku.

"Si jean itu emang otaknya cuman pelajaran doang kali ya, bisa-bisanya gantungin perasaan teman ku yang cantik ini."

"Yakan, secantik ini masa cuman HTS," jawabku.

"Besok kita pukul aja si jean itu, HAHAHA."

"Janganlah, cowo keren ku itu."

"Dih."

"HAHAHA."

Kami pun akhirnya tertawa sambil mengobrol panjang ditelepon, mulai membahas diri mereka sampai bahasan ke hal-hal lain.

****

"Sayang, bangun. Rei bangun kamu." Sudah 15 menit mama nebula membangunkan putrinya yang tertidur pulas, padahal biasanya nebula tipe yang tidak susah bangun tidur.

"Eunghhh, ada apa mah." Mengucek mataku sambil terduduk dengan pelan sembari menyesuaikan keadaan setelah sadar dari tidur.

"Cape mamah daritadi bangunin kamu, itu ada teman kamu dibawah," ujar mamah nebula.

"Hah, teman aku siapa mah?" Aku terkejut, masa itu senna dia kan berangkat sama pacarnya selalu.

"Iya, cepat turun sana. Udah lama itu dia nunggu kamu."

Sembari aku melihat mamaku keluar kamarku, aku masuk ke kamar mandi dan melakukan hal yang biasa dilakukan sebelum berangkat sekolah.

Memakai toner pelembab setelah beberapa menit kemudian menuangkan ditangannya sunscreen dan mengusapnya diwajahnya kemudian dia memakai pelembab bibir. "Udah cantik, mana pita ku ya."

Setelah menemukan aku langsung memakainya di samping rambut kananku, agar tidak berjatuhan.

Menuruni tangga dan melihat papa dengan mamaku sudah duduk sambil memakan sarapan. "Selamat pagi mah, pah."

"Ini bekal kamu, sana cepatan keluar teman kamu udah nunggu banget itu."

"Iya mah, mamah ini kenapa ga sabaran sih." Aku langsung menyalim tangan papa dan mamaku.

How Love it End?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang