25. Bon appétit

28 11 0
                                        

press the 🌟 and enjoying

Ting tong ting tong

Bunyi bel yang berulang kali membuat telinga jean pekak rasanya, orang mana yang berani mengusiknya sebenarnya.

Jean melihat dari intercom video melihat sosok laki-laki yang memakai jas membuatnya berdecak, dia langsung membuka pintu.

"Kau benar-benar menganggu nio." Jean bersandar di dinding.

"Maaf tuan muda, ada pesan dari tuan besar."

"Tidak mau dengar jika tidak penting."

"Tuan muda harus datang ke pertemuan makan malam nanti." Nio berbicara dengan satu nafas.

Jean melihat arloji yang menempel dipergelangan tangannya. "Kau boleh pergi."

Nio seketika memasang ekspresi terkejut, tumben sekali kali ini dia tidak perlu membuat adegan pemaksaan dramatis atau akting kesedihan.

Jean langsung kembali ke sofa dan lanjut bermain game yang sempat dia tinggalkan sebentar tadi.

"Babi, jean lu serius main bisa ga?" Suara hardik jaka terdengar ketika jean menyalakan voice note.

"Lu ikut malam ini?" Jean bertanya dengan santai, tak menghiraukan cacian dari jaka dan temannya yang lain.

"Oh itu, ikut gue soalnya si senna juga datang."

"Bukan si Abra yang datang."

"Mana tau gue, anjing WOI SERIUS DULU!"

"Sekali lagi lu anjingin gue, hilang kepala lu besok."

Jean menyemprotkan parfum ke tubuhnya lalu mengambil kunci mobil.

"Silahkan ikuti saya." Wanita yang baru datang kehadapannya menunjukkan arah jalan kepada jean.

"Heish, kenapa harus dirumah diana sih. Malas banget." Suara senna terdengar dari belakang.

Jean berbalik arah kebelakang dan menemukan senna yang mendumel sambil memegang sepatu Valentinonya.

Jean langsung memegang tangan senna yang sibuk meraba untuk mencari pegangan.

"Oh, hai."

"Kami bisa kesana sendiri." Senna memandang tajam dan sinis kepada wanita yang berdiri tegap menunggu mereka berdua.

Wanita tersebut hanya bereaksi anggukan lalu pergi."

Setelah selesai senna langsung melepaskan pegangan tangan jean. "Ayo." ajak senna.

"Bukan abra yang datang?" Jean bertanya setelah menyamakan langkah mereka.

"Lagi dihukum, kaya ga tau aja."

"Lama sekali." Suara dari Anggun Tabitha Arch'eser terdengar ketika mereka memasuki pekarangan taman yang dilengkapi dekorasi mewah dari bunga dan lampu.

"Maaf tan, tadi sepatu senna kurang nyaman."

Anggun hanya mengangguk, jean yang langsung duduk disebelah papanya.

How Love it End?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang