"Hadirku memang bukan karena kesengajaan. Namun, jatuh cinta denganmu adalah kesengajaan yang aku teruskan."
"Menurutku kata-kata cinta nggak perlu selalu di ungkapkan. Aku lebih suka dengan tindakan langsung dari pada omongan sampah macam itu," jawab Alfarez.
"Apa susahnya sih bilang cinta? Kamu cuman ingin menyentuh dan menyecap bibirku tapi untuk menyatakan cinta saja kamu nggak mau!" ucap Salmita dengan wajah kesal.
"Apa sepenting itu ungkapan rasa cinta dariku Salmita?"
"Penting. Sangat penting Alfarez! Aku ingin mendengar langsung dari mulutmu sebelum kita menikah," jelas Salmita menatap sebal ke arah lelaki di sebelahnya.
"Aku bukan lelaki yang romantis apa lagi mudah untuk mengucapkan kata cinta. Biar seperti ini dulu, mengalir seperti air. Toh, kita juga masih harus saling mengenal satu sama lain setelah kita menikah. Masih banyak waktu Salmita, bersabarlah," ucap Alfarez sambil mengusap kepala Salmita lembut.
"TERSERAH!" jawab Salmita kesal.
***
Salmita merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah selesai membersihkan badannya. Gadis itu sedari tadi tersenyum memandangi hasil jepretan foto yang sempat di kirim Alfarez tadi.
"Alfarez, Dosen sekaligus calon suamiku, entah bagaimana semesta mempertemukanku dengan lelaki seperti kamu, Al," ucap Salmita sambil mengusap wajah tampan Alfarez di layar ponselnya.
"Gue berharap pernikahan ini akan menjadi pernikahan pertama dan terakhir gue. Walaupun gue sendiri nggak seyakin itu," lanjutnya dengan menghela napas sedikit berat.
Salmita kembali menggeser satu per satu foto dari layar ponselnya hingga suara dering ponselnya membuatnya kembali tersenyum.
"Hallo, Al?" jawab Salmita sesaat setelah mengangkat panggilan dari Alfarez.
"Belum tidur, hm?"
"Belum ngantuk," jawab Salmita sambil jari tangannya bergerak menggambar abstrak di atas sprei ranjangnya.
"Tidur Salmita, jangan begadang. Besok aku akan menjemputmu pukul delapan pagi. Jadwal kita padat dan aku nggak mau kamu sampai kelelahan," ucap Alfarez.
"Oke, aku istirahat sekarang," jawab Salmita patuh.
Alfarez tersenyum di seberang sana, "Good night, Salmita. Have a nice dream!" ucap Alfarez.
"Night too, Alfarez. See you!" balas Salmita setelah itu keduanya sepakat mengakhiri panggilan mereka.
***
"Selamat pagi!" sapa Alfarez yang kini tengah membukakan pintu untuk Salmita.
"Selamat pagi, Al!" balas Salmita dengan senyum manisnya.
Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, Alfarez tidak langsung menjalankan mobilnya. Malah lelaki itu kini tengah asik memandangi wajah Salmita.
"Kenapa?" tanya Salmita sedikit salah tingkah karena sejak tadi Alfarez tidak berhenti memandangi wajahnya.
"Ada yang salah dari wajahku? Make up aku ketebelan ya? Atau lipstik aku belepotan?" tanya Salmita bertubi-tubi sambil sibuk memandang wajahnya pada cermin mobil Alfarez.
KAMU SEDANG MEMBACA
Faultiness [END]
RomanceKisah tentang Salmita Isvara, Gadis yang berjuang untuk hidup dan matinya. Kepergian kedua orang tuannya membuat Salmita harus bertemu dengan sosok lelaki yang ternyata adalah Dosen muda di kampusnya, Alfarez Davindra. Namun sialnya, Salmita malah t...
![Faultiness [END]](https://img.wattpad.com/cover/370467541-64-k787444.jpg)