Satu minggu terlewati, hari ini Vani akhirnya dapat melakukan proses donor mata. Vani tidak tahu sama sekali pendonor mata itu hasil usaha siapa. Tentang Genta yang berada di penjara, Angga, dan Joy sudah tahu. Sebab atas kabar dari pihak kepolisian, Genta meminta untuk menghubungi Kakek, dan Neneknya supaya mereka tidak mengkhawatirkan dirinya.
Operasi mata Vani berhasil, hanya perlu menunggu untuk membuka perban di mata Vani saja. Dokter mengatakan perban baru dapat dibuka besok, rasanya Vani tak sabar ingin segera melihat orang-orang yang menemaninya di rumah sakit. Satria belum pulang sekolah, dia sudah menyiapkan rencana untuk memberi kejutan kepada Vani.
Tujuannya agar Vani dapat terhibur meski berada dalam kondisi kurang baik seperti sekarang, Zee pun tak tinggal diam. Sudah sejak Vani sadar empat hari lalu dia melakukan hal yang baik, supaya Vani tetap bersemangat untuk menjalani hari. Kondisi Vani memang masih terlihat lemas, tapi sudah tidak separah ketika pertama kali sadar.
Siang ini Vani tengah disuapi makan oleh Zee, sementara Galang hari ini baru boleh pulang. Hanya ada Zee di sana, sebab siang seperti itu orang-orang masih bekerja, dan bersekolah. Sehingga belum ada yang mengunjungi Vani sama sekali. Termasuk teman-teman Vani, bahkan mereka belum bisa berkomunikasi dengan Vani. Karena saat mereka berkunjung ke rumah sakit Vani belum sadarkan diri.
“Akhirnya habis, kamu mau makan buah apa nanti?” tawar Zee.
Vani hanya diam, pikirannya tertuju pada Genta. Sejak tadi Vani berusaha menepis pikiran tentang Genta, tapi lagi-lagi wajah Genta seolah berada di depannya. Wajah seperti orang tengah mengalami sesuatu yang buruk, dan membutuhkan bantuan Vani. Entah ini hanyalah halusinasi Vani saja atau bukan, tapi rasa khawatir semakin menjadi-jadi Vani rasakan.
“Ma, kalo kak Genta ada jenguk aku ga waktu aku belum sadar?” Bukannya menjawab, Vani malah bertanya.
Kening Zee berkerut, “Emangnya kenapa, sayang? Setahu mama, yang bawa kamu ke rumah sakit itu Genta. Tapi sejak itu mama ga tahu dia ke mana, ga pernah muncul dia,” paparnya. “Kamu mikirin dia?” tanyanya.
“E-engga ma … ih mama. Aku cuma mau nanya aja apa ga boleh?” protes Vani.
Jawaban Zee tetap tidak membuahkan hasil bagi Vani, setelah operasi selesai nanti, dan sudah diijinkan pulang dari rumah sakit, Vani berniat menemui Genta. Sedikit menyesal, Vani tidak memberikan maaf pada Genta malam itu. Mungkin jika dia sudah memberikan maaf, hidupnya akan terasa jauh lebih tenang.
Selesai makan, Vani kembali berbaring dengan perasaan gelisah. Vani berbalik ke kiri, dan ke kanan tapi tetap tidak ada hasil. Yang Vani butuhkan sekarang adalah kabar Genta, dia harus tahu apakah Genta baik-baik saja atau tidak. Dari wajah Genta yang ada di pikirannya, seperti kondisi Genta ketika hampir tertabrak truck beberapa saat lalu.
“Kamu kenapa, sayang? Tidur kamu gelisah banget keliatannya?” Zee meraih jemari Vani, berusaha menenangkan Vani.
Vani mengembuskan napas kasar. “Boleh ga ma, bantu aku? Tolong telpon kak Genta, ada nama kontaknya di hp aku.”
“Buat apa? Nanti kalo udah kamu sembuh aja, ya?” tolak Zee secara halus.
“Aku takut dia kenapa-kenapa, ma …,” lirih Vani.
Zee mengusap kepala Vani dengan lembut, “Dia baik-baik aja kok, nanti pas udah kamu sembuh mama janji, kamu boleh ketemu sama dia. Asal sembuh dulu, ya?” bujuknya.
Ingin memaksa, tidak bisa. Alhasil Vani menuruti perkataan Zee, sebab Zee sudah tahu yang terbaik bagi dirinya. Vani berharap dia tidak menjadi orang berdosa yang hanya memberi kata maaf pun begitu sulit, tidak mau Vani dicap berperilaku buruk kepada sesama manusia. Vani tidak boleh mengeraskan hatinya lagi, harus bisa memaafkan.
***
“Yeay! Semoga minggu depan lo bisa sekolah lagi ya!” pekik Jesslyn.
“Ini, bagi Vani ya. Gue beliin kue buat kalian, inget bagi Vani,” pesan Satria.
Sebuah dus kotak berukuran sedang dibawa oleh Satria, sepulang sekolah tadi sebelum datang ke rumah sakit Satria membelikan brownies lemon terlebih dahulu untuk Vani. Malam ini keceriaan Vani sudah mulai terlihat, meski masih memikirkan tentang Genta. Namun, sebisa mungkin Vani menepis pikiran buruk itu dari pikirannya supaya dia bisa lebih cepat sembuh, dan bertemu Genta kembali.
Sementara di luar ruangan, Angga, Joy, Zee, dan Shireen sedang berbincang-bincang. Mereka memikirkan cara agar bisa membebaskan Genta dari kantor polisi. Angga siang tadi menjenguk Genta ke kantor polisi, Genta bercerita banyak padanya, membuat hati Angga tersentuh mendengar curahan hati cucunya.
Sikap Genta patut diacungi jempol, dia mau bertanggungjawab atas kesalahan yang telah dilakukannya. Meski Vani sudah mengatakan bahwa dia lebih baik melanjutkan pendidikan daripada berdiam diri di penjara. Tetaplah hal itu belum bisa membuat Genta merasa dirinya bebas dari kesalahan yang telah dilakukan.
Mereka semua khawatir, usia Genta masih di bawah umur sedangkan orang-orang di penjara kebanyakan usianya sudah lebih tua dari Genta. Pasti bisa saja menjadikan Genta sebagai budak, atau melakukan kekerasan seperti yang ada di televisi. Tidak mungkin juga kembali membebaskan Genta lagi dari sana.
“Vani jangan sampai tahu kalau Genta dipenjara,” pesan Joy.
Shireen mengangguk pelan. “Tapi kata mbak Zee, Vani pengen banget ketemu Genta, itu gimana mi?”
“Biarin dulu aja, tunggu dia sembuh total supaya penyakitnya ga kambuh lagi,” jelas Joy.
“Jujur aku ga nyangka, ternyata Genta anak yang baik. Apa karena sikap Vani waktu itu ga mau kasih maaf sama dia makanya dia sampe nekat masukin diri ke penjara? Tapi kenapa harus kayak gini?” Zee menggigit ujung jari telunjuknya pelan. “Kasihan banget dia, seharusnya dia bisa kumpul sama kita, kita sayang,” katanya.
Percakapan orangtua di depan terdengar oleh Satria, dia begitu terkejut ketika baru saja keluar dari ruang rawat Vani hendak membeli makanan lainnya ke kantin. Menyadari ada kehadiran Satria, percakapan seketika terhenti. Mereka tidak mau Satria sampai menyampaikan kabar tentang keberadaan Genta pada Vani.
“Maaf, saya ga bermaksud untuk mendengarkan percakapan om, dan tante. Saya permisi.” Lalu, Satria segera melangkah cepat supaya tidak ada lagi kabar tentang Genta yang dia dengarkan.
Tujuannya hendak ke kantin berubah, justru Satria berjalan ke arah lain untuk menemui Genta di kantor polisi. Malam ini Satria akan mencari ke kantor polisi satu-persatu sampai dapat bertemu dengan Genta, dan menyampaikan kabar tentang kondisi Vani kepadanya. Sekaligus hubungan pertemanan mereka harus kembali membaik seperti semula.
Angin malam begitu tajam, tapi Satria seperti tidak merasakan angin malam yang mengenai kulitnya. Masih dengan seragam sekolah, membawa tas ransel berisi buku-buku pelajarannya, Satria mendatangi kantor polisi. Kadang ada orang yang memperhatikannya dengan tatapan aneh, tapi diabaikannya semua tatapan yang ditujukan untuknya.
Baru tiga kantor polisi yang Satria datangi, tapi tidak ada Genta di sana.
“Lo di mana, Genta? Lo baik-baik aja, ‘kan?” Satria menendang ban sepedanya, kacau.
Sepeda itu harus disimpan ke rumah, lalu Satria akan mengendarai motor agar lebih cepat bertemu dengan Genta, lelaki yang dulu menjadi sahabatnya.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Biru Merah [E N D I N G]
Teen FictionAngkatan merah, dikenal sebagai angkatan yang mudah sekali ditindas, sementara angkatan biru dikenal sebagai angkatan pelaku penindasan tersebut. Bagaimana jika kamu ditempatkan di angkatan merah? Apa yang akan kamu lakukan? Membalas penindasan ters...
![Biru Merah [E N D I N G]](https://img.wattpad.com/cover/367629096-64-k364969.jpg)