Bab 20 Sabar dan Ikhlas

0 0 0
                                        

"Assalamualaikum Abi" ucap Salma memasuki rumah orang tuanya tempat ia dulu semasa kecil hingga melangkah keluar dari rumah itu karena menikah. "Waalaikumsalam" jawab Abinya mengulurkan tangan agar putrinya menyalaminya. "Duduk nduk" pinta Abinya yang lagi santai menikmati sore di kediamannya. "Salma mau kasih kabar duka dari Alfi, kalau orang tuanya kecelakaan di Jerman dan meninggal dunia" ucap Salma memberitahu tanpa basa-basi. "Innalillahi wainna ilaihi rojiun" jawab Abinya kaget dan berdiri dari tempat duduknya. "Bagaimana keadaan nak Alfi sekarang nduk?" tanya Abinya khawatir. "Imron sudah di sana menenangkan Alfi, sekarang Salma sama Nurul juga mau kesana Abi" jawab Salma. Abinya masih tetap khawatir pada Alfi sekarang ini, karena dia adalah anak semata wayang sama seperti Salma. Untuk meredam rasa khawatirnya, akhirnya beliau duduk kembali. "Kalau gitu Abi juga mau siap-siap biar kita bareng kesana" ucap Abinya. "Gak usah Abi, jenazahnya besok siang baru sampai ke kerumah ahli bait. Biar Salma sama Nurul aja yang kesana, besok baru Abi kesana karena Salma sama Nurul harus handel Sekolah dulu baru kesana lagi" jawab Salma meyakinkan Abinya. "Abi fikir jenazah sudah di rumah duka nduk" ucap Abinya khawatir. "Belum Abi, masih di perjalanan" jawab Salma. "Kalau gitu Salma siap-siap dulu ya Abi, takut Nurul udah di rumah. Sekalian nanti Salma nitip Tian ya Abi, takutnya nanti pulang ke malaman" ucap Salma sembari bangkit dari duduknya di ikuti oleh Abinya. "Ya sudah. Sampaikan turut berduka dari Abi untuk nak Alfi ya nduk" jawab Abinya.
Salama pun meninggalkan kediaman orang tua nya tanpa lupa menyalami tangan beliau yang sudah membesarkannya. Nurulpun sudah menunggu di rumah mungil Salma dan anak semata wayangnya. Dengan sigap Salma mempersiapkan semuanya untuk bersiap-siap dan juga membersihkan putranya agar di titipkan ke rumah orang tuanya.
Merekapun melangkah dari rumah mungil itu menuju kediaman Alfi sahabat mereka. Tak lupa mereka menitipkan Tian pada Abinya. "Assalamualaikum" jawab Nurul lewat gawainya. Dia hanya asal menjawab panggilan itu tanpa melihat siapa yg menelfonnya. "Waalaikumsalam" jawab seseorang di seberang sana. "Kalian udah berangkatkan Rul?" tanyanya. "Udah, ini kami udah jalan" jawab Nurul singkat. "Sama, kami juga udah jalan. Sampai nanti ya Rul, hati-hati di jalan" ucapnya dari seberang sana. "Iya, kalian juga" jawab Nurul dan mematikan gawainya. "Siapa yang nelfon?" tanya Salma terus melangkah mengimbangi langkah Nurul yang begitu cepat. "Gak tahu Sal, kayaknya suara Selfi" jawab Nurul yang terus melangkah.
Merekapun terus melangkah menyusuri sudut kota itu untuk mendapatkan angkutan umum yang memudahkan mereka menuju rumah Alfi. Memang kalau sudah sore begini, angkutan umum sangat sulit di dapatkan, semua penumpangnya sangat padat karena angkutan umum tersebut melintasi kota hingga sudut kota ini. Jadi tidak perlu repot ganti angkutan hingga sampai tujuan.

                       *****

Segera Dayat keluar dari mobil itu setelah memarkirkannya dengan rapi di toko itu seperti biasanya. "Sur, kamu udah tahu info tentang Alfi?" tanya Dayat sedikit penasaran menghampiri Surya yang masih mengemas orderan terakhir sore ini. "Udah Yat, kasihan Alfi ya. Semoga dia di beri kesabaran" jawab Surya tetap melakukan pekerjaannya. "Kamu ke rumah Alfikan sore ini?" tanya Surya. "Iya Sur, habis dari sini aku langsung ke rumah Alfi" jawab Dayat ikut membantu Surya menyelesaikan orderan mereka. "Ya sudah, habis ini kita langsung tutup aja" ucap Surya menatap Dayat menghentikan kegiatannya.
"Sedih juga kalau kita gak punya saudara, hanya anak semata wayang kayak Alfi. Bahkan sudah bergelimang harta pasti dia tetap merasa kesepian, karena cuma dia satu-satunya" ucap Surya sendu. Dayatpun menghentikan kegiatannya dan menatap sahabatnya yang tidak bisa menyembunyikan ke khawatirannya, karena dia tahu persis bagaimana Alfi semenjak sekolah. "Memang Tuhan itu Maha adil Sur, setiap orang beda ujiannya dan semua cobaan itu di berikan sesuai kemampuan kita untuk menyelesaikannya" jawab Dayat meyakinkan sahabatnya itu. "Yakinlah, Alfi pasti bisa melewati ini semua. Kamu jangan cemas" tambah Dayat tersenyum pada Surya.

Merekapun menyelesaikan sisa orderan itu dengan cepat tanpa ada yang salah. Semua mereka kerjakan dengan rapi seperti biasanya. Setelah itu mereka mengarahkan semua pekerja yang ada di toko Surya agar melakukan closing secepat mungkin agar mereka bisa menjumpai Alfi ke rumah duka. Setelah semua toko itu selesai di tutup, barulah semua pekerja di pulangkan tanpa lupa melakukan doa bersama seperti biasanya.

Surga di Sudut Kota Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang