Chapter 11

9 3 0
                                        

Selama hidupnya Rayn selalu merasa ia hanya menjadi 'pemeran sampingan' dalam setiap fase dalam hidupnya. Jika ia boleh jujur dari hatinya yang terdalam, ia ingin sekali merasakan bagaimana menjadi 'pemeran utama' tapi bagaimana jika untuk sekali lagi Rayn kembali menjadi 'pemeran sampingan' itu?

"Rayn?" Sosok tinggi yang sedang berdiri itu akhirnya tepat berada didepan mereka berdua. Netra Dewa menatap netra kedua orang yang sedang duduk berdampingan ini. Ia cukup terkejut dapat bertemu sosok manisnya dalam keadaan tak terduga seperti ini.

"Bang Dewa kehujanan juga yah?" Rayn dengan segala basa-basinya yang selalu basi.

"Enggak. Gua kepanasan nih, matahari terik banget ya Rayn?" Pertanyaan sarkas yang sanagt jelas sekali menyindir pertanyaan Rayn sebelumnya.

"Pfft..." Rayn tidak tuli untuk mendengar sosok disampingnya ini mencoba untuk menahan kekehannya.

Rayn hanya menatap tajam sosok yang sedang berdiri ini dan tak lupa menyenggol orang disampingnya ini.

Dewa akhirnya mengambil tempat disamping Rayn yang membuatnya kini diapit kedua pemuda ini.

"Lu temannya Rayn ya?"

Dewa dengan segala keramah-tamahannya bagaikan sinar mentari yang terangnya menerangi galaksi ini.

"Bukan, cuman teman kelas aja."

Dan Rakha dengan segala kedinginannya bagaikan bulan yang walaupun indah tapi terlihat dingin.

Dan disini Rayn berada diantara mentari dan rembulan bagaikan bumi dengan segala keindahan dan kehidupannya.

"Oohh, oke-oke."

Kecanggungan menyebar ke seluruh tempat ini, jawaban singkat Rakha membuat mereka semua yang ada disitu dapat merasakan kecanggungan bahkan Rakha itu sendiri. Rayn yang paling benci dengan suasana ini mencoba membuka pembicaraan.

"Bang Dewa dari mana? sampai malam gini masih di jalan?"

Itu bukan sekedar basa-basi guys, memang jiwa Rayn yang gatal ingin mengetahui darimana pemuda ini.

"Ada rapat tadi biasalah. Lu sendiri darimana kok malam gini belum balik?"

"Habis ambil almamater. Suuumpah ya bang lama bat nunggunya cuma untuk ngambil nih kain, bayangin dari subuh sampai sore tadi cuma untuk ambil nih kain."

Rayn akhirnya mengeluarkan kekesalannya yang telah ia tahan sejak tadi. Ia mungkin belum mengetahui ini tetapi hanya dengan Dewa ia dapat mengeluarkan isi hatinya sebebas ini tanpa takut akan apapun.

"Masa iya? kok bisa selama itu?"

Dari sana perbincangan keduanya terus mengalir sampai kini langit tampak selesai mengeluarkan bebannya yaitu hujan. Keduanya terus berbincang sampai sosok disamping kiri Rayn berdiri.

"Mau balik lu bro?" Dewa dengan segala keramahannya hanya akan menyesal bersikap sksd dengan sosok sedingin dan seaneh Rakha tersebut.

Kali ini Rakha malah tidak menjawab sama sekali pertanyaan Dewa, sosok tersebut hanya menatap sebentar ke manik hitam Dewa dan terus melangkah ke arah motornya. Rayn yang menjadi penonton aksi tersebut sudah dag-dig-dug jantungnya sebab sosok yang Rakha abaikan itu merupakan ketua angkatan. Sungguh Rayn benar-benar tak habis pikir dengan sosok aneh tersebut, ia tak akan berani melakukan hal seperti itu.

"Maklumin aja ya bang, orangnya emang begitu." Ucap Rayn dengan suara pelan sembari menepuk-nepuk pelan punggung kirinya.

Rayn yang melihat sinar terang dari motor Rakha langsung beranjak sampai tangan kanannya kini digenggam oleh Dewa.

"Lah lu balik juga sama tuh orang?"

"Hooh, gua mau ngantar tuh almet dulu." Ucap Rayn sembari menunjuk kantong-kantong almet.

Dewa yang melihatnya mengangguk-ngangguk paham tanda mengerti.

"Terus lu baliknya gimana?"

"Hhmm.... diantarin kalik?"

Jujur Rayn juga ragu pemuda aneh tersebut mau mengantar balik Rayn ke kos nya dan entah kenapa ia baru sadar hal tersebut sampai Dewa menanyakan hal tersebut.

"Gua ikut ya?"

Mendengar jawaban Rayn yang ragu-ragu membuat Dewa memutuskan untuk mengikuti kedua pemuda tersebut.

"Ehm gua sih oke-oke aja bang, nggak tau tuh anak gimana."

"Yaudah, biar gua aja yang tanya langsung ke tuh anak."

Kini keduanya beranjak dari tempatnya sebelumnya dan berjalan ke arah Rakha yang kini menunjukan ekspresi kesalnya yang seharusnya dapat dirasakan semua manusia. Baik Dewa maupun Rayn sama-sama paham suasana hati pemuda yang sedang duduk diatas motornya tersebut.

Alisnya yang mencoba untuk menyatu dan wajahnya yang suram menjadi penanda yang jelas pemuda ini tidak dalam mood yang baik.

"Eh gua ikut ya ke tempat lu? biar nantik sekalian Rayn pulang bareng gua, gimana?"

"Nggak."

Deg.

Baik Rayn maupun Rakha kini saling menatap untuk memberikan sinyal yang entah apa maksudnya.

"Maksud bang Dewa biar nantik lu nggak perlu repot-repot ngantar balik gua, gitu rak. Soalnya bang Dewa sama gua satu kos an.

Jujur tatapan Rakha kali ini terlalu mencekam sampai-sampai Rayn tak berani menatapnya dan hanya menatap spion honda yang sedang diduduki Rakha.

"Nggak perlu, gua bisa antar lu balik. Udah cepat naik keburu malam nih."

Rakha sepertinya sangat anti sekali untuk dibantah saat ini, jadi Rayn akhirnya memutuskan untuk mengikuti permintaan pemuda ini dan segera naik ke atas motor gede ini.

Sesaat setelah Rayn naik, Dewa dapat melihat dengan mata kepalanya pemuda aneh ini memberikannya semacam senyuman tipis dan jangan lupakan alisnya yang naik sekali. Dewa baru tau pemuda aneh ini ternyata dapat berekspresi seperti itu.

Dewa tau maksud dari orang tersebut tetapi daripada merasa kesal ia malah merasa pemuda ini lucu? karena dimatanya sosok didepannnya ini malah terlihat seperti bocah. Tanpa sadar motor gede tersebut berjalan menjauhinya.

Kini Dewa tak perlu lagi menahan lengkungan muncul di ranum merah mudanya.

"Menarik."

Sembari menaiki motornya dan memasang helmya pemuda tersebut ternyata masih melengkungkan bibirnya tanda ia sedang dalam suasana hati yang baik. Dengan kecepatan penuh Dewa mencoba mencapai targernya yang syukurnya belum terlalu jauh. Ia memutuskan untuk sedikit bermain-main dengan salah satu makhluk Tuhan.

Entah bagaimana akhirnya tetapi semoga semua dari kita selalu berada dalam kebahagiaan dan akhir yang baik dan indah.

Aaminn....

Ordinary BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang