"Dita. Bisa Mbak Sari bicara sebentar dengan Dita?" tanya Mbak Sari sesaat setelah mentoring keputrian ditutup.
Aku yang baru saja hendak keluar karena Mila sudah menunggu di depan pun jadi urung dan kembali terduduk. Langsung kuraih ponsel di tas dan mengirim chat pada Mila untuk menungguku di kantin saja.
Mbak Sari menggeser duduknya hingga tepat berada di sisiku dan terdiam setelah mengamati sekitar sesaat. Mbak Sari tak jua berbicara padahal aku sudah sangat ingin pergi dari sini. Entah kenapa aku tak nyaman berada dalam situasi ini dan intuisiku menyuruhku untuk pergi. Sayangnya logikaku menolak karena sepertinya yang akan disampaikan perempuan ayu tersebut cukup penting. Tak sopan rasanya jika pergi begitu saja.
"Begini, Dit. Mbak Sari sebetulnya ragu mau sampaikan ini. Apalagi Mbak Sari tahu kalau ini akan membuat Dita sedih, sayangnya Mbak tetap harus sampaikan. Begini, Rudi kemarin chat Mbak Sari, dia minta maaf yang sebesar-besarnya kalau akhirnya dia mundur dari proses ta'aruf ini. Penyakit ibunya semakin parah dan dia mau fokus pada kesembuhan ibunya dulu. Ditambah dia masih berusaha cari kerja sana-sini buat menutup biaya pengobatan yang cukup besar. Jadi, untuk saat ini dia belum berani melangkah lebih jauh dan memutuskan untuk melepaskan Dita. Pesannya, kalau ada orang lain yang baik agamanya, Dita boleh menerima dia."
Panjang lebar Mbak Sari berucap dan aku hanya terpekur mendengarkan. Aku sudah tahu semua yang Mbak Sari ucapkan dari Rudi langsung tempo hari, yang mungkin karena aku tak merespon, akhirnya ia memberitahukannya lagi pada Mbak Sari. Namun, aku sudah sama sekali tak tertarik pada hal itu. Aku ingin melupakan semua hal yang menimbulkan rasa sakit ini. Ya, mungkin benar kata Arya, aku sedang sakit.
"Dit. Mbak minta maaf ya. Kalau tahu bakal begini, Mbak pasti nggak akan minta Dita untuk memikirkan matang-matang. Maafin Mbak ya, Dit. Mbak harap Dita kuat dan sabar, semua ini kehendak Allah. Kita manusia cuma bisa berusaha dan berikhtiar, hasil akhirnya tetap Allah yang menentukan. Iya kan?"
Aku akhirnya mengangguk pelan. Mbak Sari benar, nggak ada yang tahu semua akan berakhir begini. Nggak ada yang mau niat sungguh-sungguhnya akan kandas seperti ini. Tapi tak mungkin juga memaksakan sesuatu yang memang di luar kuasa manusia, karena belum tentu hasilnya baik.
"Dita sudah bilang ke orang tua soal ta'aruf ini?" tanya Mbak Sari memecah keheningan yang masih menyelimuti kami beberapa saat. Aku hanya menggeleng lemah.
"Alhamdulillah, beruntung Dita belum bilang apa-apa. Bisa-bisa orang tua Dita nggak akan percaya lagi jika ada pemuda yang berniat serius nantinya. Kasihan kan jodoh Dita nanti, bisa-bisa bakalan diinterogasi berjam-jam deh. Ohya, Dita nggak trauma kalau ada yang datang untuk ta'aruf lagi kan?"
"Hmm … kayaknya untuk saat ini Dita nggak mau mikirin itu dulu, Mbak. Dita mau fokus kuliah dulu."
"Bagus itu, tapi bukan karena Dita trauma kan? Atau jangan-jangan Dita masih berharap sama Rudi?"
Cepat aku menggeleng, tak ingin kakak mentorku ini membaca isi hatiku yang sebenarnya. "Nggak kok, Mbak. Dita sudah ikhlas. Dita pasrahkan semuanya sama Allah. Dita percaya Allah tahu yang terbaik buat Dita."
"Berarti Dita juga percaya kalau bisa jadi Rudi memang bukan jodoh Dita? Atau siapa tahu jodoh sejati Dita bakal datang setelah ini? Iya kan?" tanya Mbak Sari lagi seraya menatapku lamat-lamat. Seberkas perasaan aneh melintas di ruang hatiku. Tak biasanya Mbak Sari bertanya seintens ini.
"Iya, Mbak. Dari pertama chat Rudi datang, Dita udah berusaha untuk nggak berharap lagi. Dita serahkan semuanya ke Allah. Apapun ketentuan Allah, Dita akan sami'na wa atho'na."
"Alhamdulillah. Mbak Sari bangga sama Dita. Dita yang selama ini Mbak anggap sebagai adik kecil Mbak Sari, sekarang sudah lebih dewasa." Mbak Sari tersenyum penuh arti dan meraih tubuhku dalam dekapannya.
"Eh, tapi ini Mbak serius, kalau ada orang lain yang datang ingin sungguh-sungguh ta'aruf dengan Dita gimana?" ucap Mbak Sari sesaat setelah ia melepaskan dekapannya.
"Maksudnya, Mbak?"
"Ya, kalau ada yang serius ingin ta'aruf dengan Dita, apa Dita akan mempertimbangkan atau langsung menolaknya?"
"Mbak serius? Atau cuma ngeledek Dita?"
"Beneran dong, Dita Sayang. Orangnya juga ada beneran di bumi ini hehe. Memang sih dia baru mulai ikut mentoring, baru mulai ikut kajian, tapi dia benar-benar serius mau belajar Islam. Ya walaupun awalnya karena dia tertarik dengan Dita."
Duh. Apalagi ini? Ujian macam apalagi yang Kau berikan ini, ya Allah?
To be continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
[TAMAT] JODOH
Teen FictionKisah Dita, seorang gadis yang dilanda kebimbangan saat seorang pemuda yang jauh dari bayangannya, datang melamar. Sementara di saat yang sama, ia tengah menanti sang pujaan hati yang berjanji akan kembali.
![[TAMAT] JODOH](https://img.wattpad.com/cover/366802497-64-k724649.jpg)