Extra Part (3)

42 7 0
                                        

"Jangan kabur lagi kaya kemarin ya, Dek," ujar Arya saat aku turun dari boncengan motor, sesaat setelah motor terparkir sempurna. Dengan cemberut aku terpaksa mengiyakan ucapan lelaki yang sudah menjadi suamiku tiga hari ini.

Kalau saja tak ingat kalau hari ini jadwalnya quiz di kelas, aku pasti kabur lagi seperti dua hari kemarin. Bukan karena apa-apa, tapi aku tak tahan dengan situasi dan kondisi kelas juga kampus yang berubah setelah pernikahanku tempo hari.

Coba bayangkan, foto-foto pernikahanku yang semi private tiba-tiba saja terpajang di mading lengkap dengan ucapan selamat yang datang dari seluruh prodi. Aku yang awalnya tenang-tenang saja karena merasa bukan seseorang yang famous di kampus mendadak jadi kehilangan nyali karena ternyata Arya sangat berbanding terbalik dariku.

Sejak itu setiap pasang mata yang kebetulan berpapasan denganku pasti akan langsung mengucapkan selamat, seolah di keningku memang ada keterangan bahwa inilah aku sang istri Arya. Aku bahkan sampai nggak berani keluar kelas biarpun cuma ke kantin. Jadilah aku terpaksa menahan lapar sampai di rumah karena Mila juga tak mau ke kantin sendirian.

Belum lagi karena sekarang aku pergi dan pulang kampus bareng Arya, otomatis aku harus menunggu dia sampai selesai kelas. Ditambah jadwal pementasan yang semakin dekat, membuat Arya harus memantau jalannya latihan di ruang teater sampai aku dilanda kebosanan akut harus menunggu lama di parkiran.

Sebenarnya sudah berkali-kali Arya memintaku menyusul ke ruang teater, tapi aku masih tak punya nyali bertemu dengan teman-temannya. Kalau sudah begini, mau nggak mau aku jadi berdiam diri di pos satpam, tempat Arya memintaku menunggu biar nggak kepanasan.

Tapi karena hal itulah aku jadi tahu makna kalimat yang disebut-sebut Rudi di suratnya tentang lahan parkir. Ternyata Arya memang sengaja meminta satpam kampus menjaga tempat parkir untukku agar tidak ditempati mahasiswa lain.

Tak tanggung-tanggung, ketiga satpam yang bertugas diberi tugas yang sama berikut uang jasa yang sama besar. Pantas saja aku tak pernah kesulitan memarkirkan motorku. Bahkan selalu menemukan lahan parkir yang kosong persis di lokasi yang sama setiap harinya. Ternyata memang ada yang menyabotase lahan tersebut untukku. Meski sempat heran, aku tak pernah memikirkannya.

Dan seperti yang terjadi kemarin-kemarin, aku tak bisa langsung pulang karena Arya yang belum tampak batang hidungnya. Tak sabar lagi, aku pun segera mengirim pesan pada lelaki berstatus suami tersebut. Yang lagi-lagi dijawab agar aku menyusul ke ruang teater, karena latihan masih berlangsung.

Dengan berat hati ditambah perut yang semakin keroncongan, aku pun terpaksa menuruti permintaan lelaki itu kali ini. Berbekal info dari hasil tanya-tanya, aku pun melangkah gontai menuju fakultas sastra dan menuju ruangan di ujung lorong. Harapanku semoga latihannya selesai saat aku masuk. Nyatanya harapanku tidaklah terwujud.

Di atas panggung di depan sana, dapat kulihat jelas beberapa orang masih beradu peran dengan serius. Beberapa lagi mengamati tepat di depan panggung sambil memegang lembaran kertas yang mungkin berisi dialog. Beberapa lagi sedang duduk di depan kertas berukuran panjang dan mengusapkan kuas di atasnya.

Tak ingin mengganggu, aku pun duduk di bangku deretan terakhir tanpa bersuara. Sepuluh menit berlalu dan belum ada tanda-tanda akan berakhir, jadi aku memutuskan untuk mencicil tugas-tugas yang harus dikumpulkan besok dan mulai larut di dalam hukum-hukum ekonomi.

"Hmm ... Mbak Dita ya?"

Tiba-tiba saja terdengar suara sapaan yang memecah konsentrasiku. Terpaksa aku mengangkat wajah dan terkejut mendapati beberapa pasang mata tengah mengamatiku persis di sisi kursi yang aku tempati. Pelan aku mengangguk karena tak mengenali wajah-wajah tersebut.

"Wah akhirnya ketemu juga ya sama istrinya Mas Arya. Perkenalkan saya Rina, kalo yang ini Caca, lalu Heni dan yang ujung Rio. Kami semua adik tingkat Mas Arya." Perempuan yang mengaku bernama Rina lalu mengulurkan tangannya yang terpaksa aku salami, begitu juga dua perempuan di sebelahnya terkecuali Rio yang aku langsung menangkupkan tangan di depan dada sambil tersenyum karena tak tahu harus berkata apa.

"Selamat atas pernikahannya ya, Mbak. Maaf baru sempat ngucapin sekarang. Habisnya Mas Arya cuma geleng-geleng kepala kalo kami tanya istrinya yang mana," ucap Rina lagi sambil tertawa manis begitu pula teman-teman di sisinya. "Tapi ternyata cantik ya orangnya, pantas aja Mas Arya klepek-klepek."

Lagi-lagi aku hanya tersenyum sambil melirik ke arah panggung yang sudah kosong tapi tak juga menemukan sosok Arya sejak tadi. Nggak mungkin dia udah pulang duluan kan? Kalo iya, ngapain juga nyuruh aku ke sini tadi.

"Oh ya, Mbak, Mas Arya masih boleh bantu-bantu kita di pementasan kan? Soalnya kita masih ada dua kali pementasan lagi, sebelum Mas Arya vakum buat fokus ke skripsi katanya," ujar perempuan yang dikenalkan dengan nama Caca sambil menatapku lekat. Seolah tengah memohon padaku. Namun aku yang masih belum mengerti hanya mengangguk dan mengiyakan.

Anehnya keempat adik tingkat tersebut malah bersorak gembira dan mengucapkan terima kasih berkali-kali sebelum akhirnya beranjak pergi. Kemudian disusul beberapa orang lagi yang juga mengucapkan selamat padaku. Hingga akhirnya ruangan ini benar-benar sepi dan aku mulai dilanda ketakutan. Namun, saat aku sedang bergegas memasukkan buku-buku ke dalam tas kembali, di saat itulah aku mendengar suaranya.

Memesonanya kamu
Menyungging senyummu
Menghiasi raut wajahmu
Mendiamkan detak jantungku
Mataku jadi pencuri senyummu
Yang menghantam jantungku

Bingung tak menentu
Dengan kehadiranmu
Mungkinkah menerimaku
Kutakut kehilanganmu
Bila kau tahu perasaanku
Yang jatuh cinta padamu

Dengan terkejut aku menoleh ke arah panggung yang kini sudah sepi. Begitu juga di sekitarku tetap tak ada siapapun seperti beberapa saat lalu. Namun suara itu aku mengenalnya, meski entah dari mana asalnya. Meski mulai merasa was-was, tapi aku percaya lelaki itu ada di dekatku.

"Ya, akulah orang yang jatuh cinta padamu sejak pertama kali bertemu, Pradita Dwi Avishka." Kini, suara itu berasal dari arah belakangku. Dan di sanalah Arya berada dengan setangkai mawar terjulur ke arahku serta senyum di wajah.

Sungguh, waktu seolah terhenti sesaat kala momen itu terjadi. Aku yang tak begitu mengenal sastra, tetap saja merasa tersentuh dengan puisi yang dibacakan lelaki ini barusan. Meski tak tahu ciptaan siapa, puisi ini terdengar indah di telingaku. Ah, entah bagaimana rupaku kala itu, yang pasti aku merasakan kehangatan menjalari pipiku.

Tak menyangka seorang Arya bisa selembut ini. Dia yang selama ini kukenal cuek, bahkan beberapa kali bertemu pun seingatku tak pernah ada momen spesial. Begitu juga saat pertemuan pertama kami, nothing special. Namun, siapa sangka ternyata ia sudah menyimpan perasaan selama itu.

Aku yang tak pernah mengalami momen romantis seperti ini, jelas saja hanya terdiam dengan pandangan tak lepas dari lelaki yang masih tersenyum itu. Lalu dengan canggung menerima mawar merah tersebut seraya berucap terima kasih dengan suara lirih.

"Kirain tadi nggak mau ke sini kaya kemarin-kemarin. Kalau tahu kan aku bakal siapin bunga yang lebih banyak," ujar Arya lagi sembari tertawa kecil dan mata yang menatapku lembut.

"Habisnya Mas Arya nggak nongol-nongol sih di parkiran. Dita kan udah lapar."

"Loh? Memang nggak ke kantin?" Tangan lelaki itu kini terjulur mengambil tasku lalu meraih tanganku dan menggandengku ke luar ruangan.

"Kenapa? Masih ada yang berani ledekin kah? Padahal Mas udah ancam mereka biar nggak ledekin Dek Dita lagi."

Tanpa sadar aku menoleh pada lelaki di sisi yang di saat yang sama juga tengah menatapku. Saat itulah aku tersadar bahwa ia tahu semua kondisiku. Entah dari mana. Tapi ia tidak sedikitpun mempermasalahkan kepribadianku yang sedikit introvert ini.

Bahkan di saat yang sama ia berusaha sungguh-sungguh membuatku tetap nyaman dengan kondisiku yang baru ini. Meski hubungan kami belum ada progres yang berarti sejak tiga hari lalu, kecuali tangan yang kini saling menggenggam ini.

----------------------------------------------------------

Pemanasan dulu di cerita ini yaaa manteman..

Maklum udah lama banget hiatus 😁

Dan cerita ini yang pertama kali dapat feel-nya, jadinya nulis ini dulu yaa.. semoga berkenan 🥰

[TAMAT] JODOHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang