You always look good with those flowers

1.7K 78 32
                                        

"KENAPA LO HAMILIN PUNYA ORANG BAJINGAN!" Salah paham, semuanya salah paham. Giyu memegang lengan Sanemi, menariknya kencang. Walau sayang tenagannya tak ada apa-apa ketimbang Sanemi dan badannya yang besar itu. "Sane! Kamu salah paham!" Sanemi mendaratkan satu tonjokan ke arah Sabito, tapi sebelum hal itu terjadi ia malah tak sengaja mendorong Giyu ke belakang. Keduanya terhenti, Giyu terhuyung dan jatuh terduduk. Terlihat air ketuban yang sudah pecah.

"BAJINGAN! TELEPON AMBULANS!!" Teriak Sabito.

••••••

Sanemi, terdiam menatap kejadian di depannya, bagaimana bisa disaat Giyu berteriak kesakitan yang hadir dan menolongnya adalah orang lain dan bukan dirinya. Lamunan sekilas itu dibuyarkan dengan tangisan Giyu yang semakin menjadi-jadi. Jarinya mengetuk handphonenya, sesekali matanya mengamati kejadian di depan matanya.

Pria yang tidak berguna, membiarkan kekasihnya yang kesakitan diobati oleh orang lain dan bukan dirinya. Pria yang tidak berguna terdiam di sana dan tidak melakukan apapun.
"Halo, ada yang-"

telepon tersambung..

"Tolong datang ke.." Matanya tertutup kala jeritan itu semakin terdengar kencang di telinganya, ia berusaha keras memekakan telinganya dari amarah, kecemburuan yang tengah meluap-luap di atas kejadian yang sepenuhnya kesalahan dirinya sendiri. Semuanya ia akhiri dengan kepalan pada tanggannya yang berujung melukai dirinya sendiri.

••••••

Giyu tersenyum sembari menonton kartun favoritnya, yang lain tak lain adalah "Shaun the Sheep" matanya terus-terusan tertuju pada timmy, karakter domba kecil yang konyol, begitulah menurut Sanemi. "Aku kepengen punya anak kayak Timmy!" Giyu terlihat bersemangat, senyum lebarnya menampakan gigi putih yang tersusun rapih. Sanemi mengernyit heran, membayangkan bagaimana anaknya yang terlahir seperti domba? dengan rambut agak curly??

Sebaiknya Giyu mengubur dalam-dalam impiannya yang aneh itu, karena ia tak mau mempunyai anak dari genetik orang lain. Tentu saja, baik Giyu maupun Sanemi tidak mempunyai genetik berambut curly. Jangan sampai saja Giyu menikahi orang lain perkara ingin punya anak dengan bentukan rambut curly.

"Emangnya Timmy kamu itu gimana?" Sanemi sebenarnya tak terlalu peduli bagaimana Timmy yang di deskripsikan oleh Giyu, satu hal yang pasti adalah dia candu mendengar Giyu mengoceh. Suara mengoceh Giyu benar-benar membuatnya mengantuk dan merasa nyaman untuk alasan yang tidak ia ketahui mengapa. Bawel, mulut kecil pria bersurai biru ini tak pernah berhenti bahkan untuk sesaat.

"Aku mau capture foto kamu bareng anak kita kalau nanti hamil ah"

"Yaudah sekarang gini, mending kita praktek. Jangan mau mau terus" Gombalan kotor Sanemi itu dibalas dengan pukulan pada bahunya.

••••••

Sayang kepalang sayang, semuanya hancur oleh karena dirinya sendiri. Kepalanya tak bisa berfikir jernih, sedaritadi ia hanya menghela nafas gusar setelah Sabito meninggalkan dirinya dengan selebaran kertas DNA yang berisikan data bahwa manusia kecil didalam kandungan itu adalah anaknya. Ia tidak menduga Giyu menyembunyikan semua hal itu sendirian. Kini hanya tersisa dirinya dan kecemasan yang melingkupi dirinya.

Sesekali kakinya beranjak dari kursi, menuntun dirinya untuk melihat keadaan di balik pintu. Tapi sayang, tak terlihat pergerakan apapun, dan dokter belum memperbolehkan dirinya untuk masuk. Tubuh ringkih itu rasanya.. ingin sekali ia dekap. Seandainya saja ia tidak menimbulkan kekacauan tanpa alasan dan kronologi yang jelas mungkin ia tidak akan mengalami ini, begitupun juga dengan Giyu.

Ia berharap Giyu dan anak itu selamat. Sungguh, hanya itu satu-satunya yang ia minta di hadapan Tuhan. Tidak ada lagi yang lebih menyenangkan bagi dirinya ketimbang Giyu dan calon anaknya lahir dengan kondisi yang prima. Ia berharap tangan kanannya akan digenggam oleh Giyu, sedangkan di sisi lain digenggam oleh tangan mahluk kecil yang dilahirkan oleh mahluk yang juga kecil.

Dirinya masuk kala dokter telah keluar dari ruangan Giyu, dikatakan kondisi kandungannya melemah karena tubuh Giyu pun demikian. Dirinya terduduk disamping kasur Giyu, mencium pelan tangan yang terdapat jarum infus itu. Terlihat sang empunya tangan masih tertidur lelap, entah apa yang telah ia impikan di dalam tidurnya.

Perut bundar itu, masih tetap miliknya. Tangan berurat itu dengan ragu menyentuh perut Giyu, rasanya tak pantas. Hingga akhirny ia berani meletakan tangannya tanpa melihat ke arah perut Giyu, ia menutup matanya erat-erat. Hangat, entah apa yang terjadi tapi ia merasa senang dan... damai. Ia menyukai suasana ini. Suasana yang sudah lama menghilang dari hidupnya.

Ia langsung menarik kursi di sampingnya dan duduk disana mengamati Giyu yang tertidur, mengamati mata yang terpejam rapat itu dengan seksama, persis seperti anak kecil yang menunggu sesuatu. Tangannya kembali ia letakkan diatas perut Giyu, mengelus-elus permukaan bundar itu pelan. Tak mau menganggu keduanya yang sedang beristirahat.

Mulutnya bercerita awal dirinya bertemu Giyu, bunga kesukaannya dan makanan favorit Giyu yang lain tak lain adalah Strawberry.

Di dalam hati kecilnya ia kecewa, Giyu menyembunyikan kehamilan ini darinya. Tapi di sisi lain ia paham, kalau saja dia tidak bertindak mengacuhkan dan marah-marah, mungkin ia tidak akan kehilangan waktu bersama Giyu, dan tentu saja sahabatnya, Sabito..

Sanemi merebahkan kepalanya di ranjang rumah sakit yang Giyu tiduri. Mengantuk, lelah, sakit, merasa bersalah, semuanya tercampur aduk. Ia bahkan bingung bagaimana ia harus menjelaskan dan meminta maaf ke Sabito, terkhusus Giyu.

"Tomioka, maaf" Mulutnya bungkam, hanya itu satu-satunya kata yang menurutnya pantas untuk dilontarkan. Ia merebahkan kepalanya di samping Giyu yang tertidur lelap, lengkap dengan alat bantu nafas. Matanya nyaris tertutup, sebelum akhirnya kembali terbuka kala ia mendengar bunyi dari patient monitor  yang membangunkan dirinya. Panik, tangannya gemetaran melihat sekitar, mencari dimana kira-kira tombol emergency  diletakan. Saat matanya menangkap objek merah yang dicarinya itu, dengan cepat ia langsung menekan tombol itu kuat. Ujung matanya sekilas mengecek kondisi Giyu sebelum akhirnya ia berlari keluar kamar pasien.

"DOKTER!!" Teriaknya kencang memenuhi lorong, tak mempedulikan jam istirahat pasien lain. Dari ujung lorong nampak sekumpulan orang berlari ke arahnya, Sanemi panik bukan main. Ia tak mau kehilangan Giyu untuk kedua kalinya. 

••••••

Sanemi memakaikan baju biru mungil itu kepada Giyuki, anak lelaki pertamanya. Sanemi tersenyum, tak lupa matanya yang nyaris tertutup kala senyum. tampak kerutan yang samar di samping matanya, tanda usia telah memakan wajah mudanya. "Aku udah keren belum pa?" Anak berumur 6 tahun itu berkaca di depan cermin, tawanya terdengar ramah di telinga Sanemi. Sebagai balasan, Sanemi mengacak kembali rambut Yuki lalu tertawa. "Anak papa jelek banget"

Yuki memicingkan matanya, bahkan bibirnya ikut mengerucut, persis seperti Giyu. Tangan mungil itu kembali meraih sisir dan merapihkan rambutnya. "Papa kalo ganggu, nanti aku ga ikut papa" Ancamnya, tak lupa dengan jari telunjuknya yang mengacing keatas, seolah-olah memperlakukan Sanemi sebagai teman sepermainannya. Sanemi menghela nafas lalu menggendong tubuh kecil itu ke mobil.

"Nanti kita pulang beli ice cream boleh ya paa?" Tanyanya dengan nada yang halus, masih kecil sudah pintar membujuk orang, DNA Giyu benar-benar melekat pada Yuki. Pertanyaan itu akhirnya disetujui oleh Sanemi. Keduanya turun dari mobil, berjalan kaki hingga berhenti di depan batu nisan bertuliskan "Tomioka Giyu". Sanemi tersenyum, meletakkan sebuket bunga hydrangea di atas gundukan tanah tersebut.

"You always look good with those flowers"

Sanemi giyuu are terribleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang