Ratih hanya terdiam melihat sikap angkuh Cipo yang membela anak-anaknya yang salah, “tunggu sebentar di sini, saya ambilkan kompres,” ujar Ratih yang kemudian berjalan ke belakang untuk mengambilkan kain dengan air hangat.
cipo cukup terkejut akan sikap Ratih seakan-akan dia berhak melakukan itu di depannya, “Ratih! Apa yang kamu lakukan?” Tanyanya dengan menggerutu.
“Saya hanya memberikan kompres untuk matanya,” ucapnya Ratih dengan lembut.
“Kompres saja dulu, setelah sampai rumah kasihkan rendaman air sirih untuk membersihkan matanya,” ucap Ratih lagi kemudian berlalu dengan senyum manis di wajahnya. Darso terdiam seakan itu perintah dari majikannya, dia pun segera membawa Satrio dan mengambil uang pesanan yang telah diletakkan Cipo di atas meja yang ada di pelataran rumahnya.
“Ratih kerja lagi,” ucap Cipo yang masuk dengan mengelus perutnya diikuti Ratih di belakang untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Darso cukup heran akan perbuatan gadis yang dipanggil dengan nama Ratih ingin percaya bahwa dia adalah Ratri tapi, tidak mungkin karena wanita itu tampak masih sangat muda. Darso melajukan keretanya untuk segera pulang agar bisa dapat segera mengobati mata Satrio yang terluka, “lain kali kalau mau mengobati anak orang lain tanya saya dulu, mengerti!” perintah Cipo yang menegur tindakan Ratih.
“Iya Ci,” sahut Ratih tertunduk.
**
Di rumah Meneer Wilhelm, Tuan Han datang dengan ditemani beberapa pegawainya, bukan hanya sekedar urusan bisnis tapi, selama ini merekalah yang berkomplot untuk menjatuhkan Ratri melalui orang dalamnya yaitu Pakde Yanto. Suasana pagi menjelang siang itu terlihat seperti biasa Meneer Wilhem tengah meminum kopi, ditemani rokok tembakau yang dia bakar pada chamber.
“Meneer Wilhelm selamat pagi,” tuan Han yang turun dari kereta kuda.
“Tuan Han, selamat pagi silakan duduk, silakan duduk,” ucap Meneer Wilhem menyambut teman bisnisnya itu.
“Semakin hari, semakin sukses aku lihat,” ucap Meneer Wilhelm.
“Ah semua berkat dukunganmu Meneer, eh..., ada hal yang harus aku katakan kepadamu Meneer.” Tuan Han tampak sedikit ragu
“Tentang apa, perkebunan, pabrik atau apa,” ucap Meneer Wilhelm.
“Tidak tapi, ini,” lalu Tuan Han membisikan sesuatu kepada Meneer Wilhelm tampaknya sesuatu yang sangat rahasia hingga membuat Meneer Wilhelm kaget dan kedua matanya melotot mendengar bisikan dari tuan Han, sambil menghisap pipa rokoknya dia berkata, “Robert tidak mungkin berkhianat, dia sendiri yang menuliskan surat itu bahwa Ratri telah meninggal dunia, ketika dia mengunjungimu.” Jelas Meneer Wilhelm.
“Aku juga berpikir tentang hal itu tapi, gadis itu sangat cantik, jauh lebih muda dari umurnya Ratri,” ucap tuan Han yang terpesona akan kecantikan Ratih.
“Lalu bagaimana dengan cecunguk Darso?” Tanya Meneer Wilhelm kepada tuan Hanya.
“Saya tidak pernah melihatnya kembali,” ucapnya tuan Han yang juga mengisap pipa rokok yang dia bawa dalam sakunya. “Baiklah nanti saya akan selidiki siapa gadis bernama Ratih itu,” sambung tuan Hanya.
Tepat sore hari Ratih hendak bersiap pulang ke rumahnya, dia dibawakan bingkisan oleh Cipo yang berisi bahan pokok seperti beras dan beberapa sen uang.
“Titip salam saya sama Mbah kamu ya,” ucap Cipo kepada Ratih.
“Iya Ci terima kasih,” sahut Ratih yang kemudian memakai selendangnya, dengan berjalan pelan Ratih menuju pintu keluar rumah tersebut dan tidak sengaja berpapasan dengan tuan Han. Ratih hanya melirik kepada tuan Han sambil tersenyum kecil namun, berbeda pandangan dengan tuan Han, dia melihat pada Ratih tidak berkedip sedikit pun, seakan tersihir dengan kecantikan Ratih, bibir tipis yang mempesona, hidung mancung dengan alis yang tebal, ditambah lekukan tubuhnya yang membuat siapa saja penasaran dan tuan Han sepintas ingin mengenal Ratih lebih jauh.
“Permisi tuan,” ucap Ratih yang berpamitan.
“Oh iya hati-hati.” Tuan Han yang sedikit salah tingkah, istrinya hanya memperhatikan dari teras rumah, apa yang terjadi dengan suaminya ketika melihat Ratih, ada rasa sedikit cemburu tapi, dia menganggap itu hanya angin lalu. Kehamilannya kali ini kadang membuat Cipo sedikit stress, jauh dari orang tua dan kerabat hanya bisa mengandalkan suami.
Malam pun berlalu, dingin menyapa sembari rasa rindu menghampiri seorang laki-laki yang teringat akan gadis yang pernah dia tinggalkan. Ratih dan Ratri mungkin orang yang sama tapi, tentunya Ratri tidak semuda Ratih. Nama Ratih terus membekas dalam benaknya, dia seakan terlena dan tergoda akan kecantikan Ratih, tuan Han hanya berdiri di balik jendela kamarnya yang dia buka, sambil menghisap pipa rokok, dia terus melamun memandang bulan yang tengah bersinar malam itu.
“Laopo, ada apa? Kenapa tidak tidur?” Tanya Cipo yang terbangun.
“Tidak ada apa-apa, saya hanya sedang banyak pikiran.” Jelas tuan Han.
“Ya sudah, saya ke kamar mandi dulu,” ucap Cipo turun dari ranjangnya.
Seperti biasa Cipo selalu terbangun di kala tidurnya, dia selalu pergi ke kamar mandi karena di kehamilan ini dia selalu buang air kecil terus Menerus.
Ketika Cipo hendak berjalan ke kamar mandi, dia melihat seorang anak kecil tengah berdiri di pojokan ruang tengah, dalam kondisi gelap karena lampu rumah dimatikan, Cipo terkejut melihat anak kecil tanpa mengenakan pakaian, berdiri membelakanginya karena dari postur tubuhnya si anak itu seperti anak sulungnya, Chao Cipo pun memanggilnya, “Chao kamu sedang apa?” Tanya Cipo.
Sang anak pun perlahan membalikkan badannya dan betapa terkejutnya Cipo, ketika melihat wajah anak itu, mata sebelah kirinya bersimbah darah sampai ke pipi walau, tanpa cahaya lampu ruangan tersebut mendapat sinar rembulan yang masuk melalui celah jendela rumah. Sontak cipo pun berteriak, “Arrrh...,” teriak Cipo badannya gemeteran dia pun terjatuh duduk di lantai. Me
Mendengar teriakan sang istri tuan Han pun segera berlari menghampiri istrinya, “ada apa? Kenapa berteriak?” Tanya tuan Han.
“I..., itu Chao menusuk matanya,” ucap Cipo yang masih gemetaran menunjuk pada anaknya.
Lalu tuan Han melirik ke mana arah yang Cipo lihat, dilihatnya anak sulungnya tengah berceceran darah matanya yang sebelah kiri, dia tusuk sendiri dengan paku dan sang anak tidak berteriak sama sekali, seperti orang tidak sadarkan diri saat melakukan hal itu.
“Chao, sadar Chao,” tuan Han menghampiri anaknya.
Tersadar dengan panggilan dari ayahnya, Chao yang berusia 10tahun itu kembali sadar, merasa sakit dengan apa yang dia perbuat Chao berteriak kesakitan di iringi dengan tangisan.
“Arrrh...., sakit, sakit ayah!” Chao yang tersadar terus merintih dengan berguling di lantai.
Segera tuan Han menggendong anaknya dan membawanya kepada seorang dokter, masih mengenakan pakaian tidurnya dengan cepat tuan Han berlari menuju rumah dokter yang masih satu komplek perumahan dengannya, yaitu dokter Nicholas.
“Dokter, dokter,” teriak tuan Han yang masih menggendong anak lelakinya, dia terus mendobrak pintu rumah dokter Nicholas, tidak lama terdengar suara langkah kaki dan membukakan pintu rumah dokter Nicholas.
“Ada apa?” Tanya dokter Nicholas.
“Tolong, tolong obati anak saya,” ucap tuan Han yang menunjukkan anaknya mengalami luka serius pada bagian matanya, terkejut karena melihat paku itu masih menancap pada bola mata Chao dengan segera dokter Nicholas mengambil alih untuk menggendongnya dan membawanya ke ruang pengobatan.
Sementara Chao sedang diobati tuan Han terus merasa tenang, dia berjalan bolak-balik di depan pintu ruangan yang menjadi tempat praktik dokter Nicholas, hampir setengah jam dokter Nicholas pun keluar dengan pakaian tidur yang bersimbah darah.
“Bagaimana dokter?” Tanya tuan Han.
“Sepertinya anakmu akan buta permanen, aku sudah memberinya obat untuk menahan rasa sakitnya. Sekarang dia sedang tertidur kalau, dia sudah sadar kamu bisa membawanya pulang,” ujar dokter Nicholas yang mengelap tangannya pada sebuah kain yang dia pegang. Tuan Han dapat bernafas lega kali ini, untungnya anaknya masih bisa hidup walau, nantinya sebelah matanya mengalami kerusakan secara permanen.
Kejadian malam itu membuat Cipo kebingungan, dia tidak dapat tidur dengan tenang dan memikirkan apa yang terjadi dengan anaknya, sebagai ibu ada rasa sedih dan memikirkan siapa yang tega berbuat seperti itu kepada anaknya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dendam nyi Ratri
Mystery / ThrillerRatri adalah kembang di desanya, bukan hanya cantik tapi juga pewaris perkebunan milik kedua orang tuanya walau, begitu tidak ada yang berani melamarnya sampai seorang pemuda bisa di bilang dia seorang saudagar yang sukses berhasil merebut hati Ratr...