Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading.....
Malam hari, Becky masih berada di perusahaan. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, namun perempuan itu masih sibuk dengan proyek besar yang harus diselesaikan minggu depan. Lampu-lampu di lantai kantornya sudah banyak yang padam, hanya menyisakan beberapa yang masih menyala di sekitar meja kerjanya. Di luar, hujan turun dengan deras, menambah suasana sepi dan dingin di ruangan kerjanya.
Drett... Dret... Drett...
Saat sedang fokus pada layar laptopnya, tiba-tiba telepon di mejanya berdering. Becky terkejut, jarang sekali ada telepon masuk di jam-jam seperti ini. Dengan sedikit ragu, perempuan itu mengangkat telepon tersebut. Sembari satu tangannya bekerja, memeriksa berkas-berkas yang menumpuk untuk memastikan tidak ada kesalahan.
"Mommy!"
Pergerakan Becky terhenti, satu alisnya terangkat begitu mendengar suara yang familiar. Dengan cepat Becky mengecek nama kontak yang berada di telepon tersebut, Freen. Seketika Becky menjadi panik karena mendengar suara putrinya, Lin.
"Ya Lin? Ada apa? Apa semua baik-baik saja?"
"Mama, panas. Mommy, tolong cepat kembali. Mama terlihat kesakitan."
"Baiklah, Lin tenang ya? Mommy akan segera pulang. Tunggu mommy, jangan kemana-mana."
Setelah menutup telepon, Becky langsung berlari keluar ruangan sembari membawa laptopnya. Meninggalkan pekerjaannya, membiarkan berkas-berkas tersebut tergeletak diatas meja. Perempuan itu kelewat kalut, panik, kaget, serta perasaan yang campur aduk begitu mendengar perkataan Lin 'panas' yang berarti Freen sedang demam. Langkah Becky terhenti, namun sedetik kemudian perempuan itu menerobos hujan menuju kearah mobilnya. Membiarkan laptopnya berada di dekapan, dalam blazer yang perempuan itu kenakan.
Namun, sebelum melakukan mobilnya menuju perjalanan pulang ke rumah, Becky memutuskan untuk mampir ke apotek terdekat. Membeli beberapa kotak susu serta obat demam, seperti Paracetamol dan Sanmol. Setelah memastikan bahwa keperluan sudah cukup, Becky kembali melajukan mobilnya. Perempuan itu mengemudi dengan tidak sabaran, perasaannya berkecamuk. Sekitar 30 menit perjalanan, mobilnya kini sudah terparkir di halaman rumah. Becky Langit turun dari mobil, membiarkan rintikan air hujan yang deras membasahi tubuhnya.
"Lin!"
"Mommy!!!"
Gadis itu berlari kearahnya, Becky menahan Lin yang ingin memeluknya dikarenakan tubuhnya yang basah akibat hujan deras. Lin mengerti, tatapan gadis kecil itu terlihat sangat khawatir. Tangan Lin menarik-narik jemari-jemari Becky, membawa perempuan itu masuk kedalam kamar. Dan mendapati Freen yang sedang terbaring dengan koolfever yang tertempel di keningnya, terlihat perempuan itu menggigil, mengeratkan selimut.